Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Di Pedalaman Mapia, Pendidikan Gratis Menyalakan Harapan Anak-anak untuk Terus Bersekolah dan Raih Cita-cita

Theresia F. Tekege • Kamis, 16 Juli 2026 | 09:03 WIB
Guru saat memberikan pengarahan kepada calon siswa SMP Negeri 1 Mapia yang sedang mengikuti Masa orientasi Siswa (MOS) di ruang kelas. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 
Guru saat memberikan pengarahan kepada calon siswa SMP Negeri 1 Mapia yang sedang mengikuti Masa orientasi Siswa (MOS) di ruang kelas. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE - Jarak yang jauh, akses yang terbatas, dan kondisi ekonomi keluarga yang serba sederhana tak lagi sepenuhnya menjadi penghalang bagi anak-anak di Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, untuk terus mengejar pendidikan.

Program pendidikan gratis yang digagas Pemerintah Provinsi Papua Tengah kini menghadirkan harapan baru bagi mereka untuk tetap bersekolah dan menggapai cita-cita.

Rasa syukur itu disampaikan Kepala SMP Negeri 1 Mapia, Fransiska Tagi, yang menyebut kebijakan pendidikan gratis menjadi kabar menggembirakan bagi sekolah-sekolah di wilayah pedalaman.

 Menurutnya, sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai petani dengan kemampuan ekonomi yang terbatas sehingga bantuan pendidikan sangat meringankan beban mereka.

"Kami sangat bersyukur atas kebijakan pendidikan gratis dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Terima kasih kepada Bapak Gubernur Papua Tengah yang telah memberikan perhatian kepada anak-anak kami di pedalaman. Program ini sangat membantu orang tua yang selama ini kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya," ujar Fransiska saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/7/2026).

Ia mengatakan, meski dana BOSDA belum disalurkan, pihak sekolah telah menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) agar dana tersebut nantinya dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai kebutuhan sekolah dan peserta didik.

Prioritas utama, kata Fransiska, adalah membantu siswa dari keluarga kurang mampu, termasuk penyediaan seragam sekolah. Selain itu, dana juga akan digunakan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler, memberikan honor kepada guru non-ASN yang belum menerima insentif dari pemerintah, memenuhi kebutuhan alat tulis kantor (ATK), administrasi sekolah, serta mendukung pelaksanaan les tambahan bagi mata pelajaran sains.

"Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu menjadi perhatian utama kami. Kami ingin mereka tetap bersekolah tanpa harus memikirkan biaya. Di sisi lain, guru-guru honorer juga perlu mendapat perhatian agar mereka tetap semangat mendampingi anak-anak belajar," katanya.

Fransiska berharap program pendidikan gratis tidak berhenti pada tahun ini, melainkan terus berlanjut agar semakin banyak generasi muda Papua Tengah yang dapat menikmati pendidikan tanpa terbebani persoalan biaya.

"Harapan kami, program ini terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang. Pendidikan adalah investasi masa depan anak-anak Papua, sehingga mereka harus terus mendapat dukungan," ujarnya.

Ia juga berpesan kepada seluruh peserta didik agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar lebih giat.

Menurutnya, bantuan yang diberikan pemerintah harus dijawab dengan semangat belajar dan prestasi yang lebih baik.

"Kalau pemerintah sudah membantu biaya pendidikan, sekarang tugas anak-anak adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Belajarlah dengan tekun agar kelak bisa meraih cita-cita dan menjadi kebanggaan bagi keluarga, daerah, dan Papua Tengah," tuturnya.

Tak hanya siswa, para guru honorer pun diharapkan semakin termotivasi dalam menjalankan tugas mendidik. Dengan adanya alokasi honor melalui program pendidikan gratis, Fransiska optimistis semangat mengajar para guru akan semakin meningkat.

"Kami berharap guru-guru semakin bersemangat mendidik anak-anak. Ketika guru semangat mengajar dan anak-anak semangat belajar, kami yakin kualitas pendidikan di pedalaman akan terus meningkat," katanya.

Saat ini SMP Negeri 1 Mapia memiliki 315 siswa yang dibimbing oleh 27 guru. Di tengah berbagai keterbatasan, sekolah tersebut terus berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik, sembari menaruh harapan besar agar setiap anak di pedalaman memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan dan mewujudkan cita-citanya. (*)

Editor : Elfira Halifa
Ceposonline.com dogiyai papua