CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Kasus penembakan terhadap Mama Esther Pigai, seorang perempuan lanjut usia yang tidak terlibat konflik, menjadi sorotan serius dan memicu desakan agar Komnas Perempuan dilibatkan dalam tim investigasi independen guna mengusut tuntas kekerasan di Dogiyai.
Tokoh Intelektual Perempuan Dogiyai, Yusni Iyowau, menegaskan bahwa tim investigasi independen yang dibentuk harus melibatkan berbagai unsur agar proses pengusutan berjalan transparan dan berkeadilan.
Menurutnya, tim tersebut terdiri dari aparat keamanan, lembaga independen, pemerintah, serta elemen masyarakat dan pemuda.
“Tim yang dibentuk harus benar-benar independen, melibatkan aparat keamanan, lembaga independen, pemerintah, serta unsur masyarakat dan pemuda. Sehingga kasus ini bisa ditangani secara objektif,” ujar Yusni Iyowau kepada media usai mengikuti dialog koalisi masyarakat Dogiyai dengan Polda Papua Tengah, Kamis (2/4/2026).
Ia menekankan bahwa tim dari unsur aparat keamanan maupun koalisi hukum harus bekerja secara profesional agar kasus ini dapat diungkap secara terang.
“Tim yang dibentuk, baik dari pihak keamanan maupun koalisi hukum, harus benar-benar menangani kasus ini dengan baik dan serius,” katanya.
Yusni menyoroti kondisi korban Mama Ester Pigai (60), yang tidak mengetahui persoalan yang terjadi, namun justru menjadi sasaran dalam insiden penembakan tersebut.
“Seorang ibu, Mama Ester Pigai yang sudah berusia 60 tahun, tidak tahu apa-apa soal persoalan ini, tetapi justru menjadi korban penembakan liar yang terjadi saat itu,” ungkap Iyowau.
Menurut informasi yang diterima media ini, Mama Ester Pigai merupakan seorang perempuan lanjut usia yang telah lama mengalami cacat kelumpuhan.
Ia diduga ditembak di bagian badan oleh aparat keamanan saat melakukan operasi pengejaran terhadap sejumlah pemuda di Kampung Ikebo, Distrik Kamuu Induk, Kabupaten Dogiyai.
Peristiwa itu terjadi di dalam rumah korban saat ia sedang beristirahat pada Selasa, (31/3/2026) siang.
Atas peristiwa tersebut, Yusni kembali menegaskan pentingnya pelibatan Komnas Perempuan dalam proses investigasi, mengingat dampak kekerasan juga dirasakan besar oleh perempuan dan anak-anak.
“Kami berharap Komnas Perempuan juga dilibatkan untuk turun langsung melihat kasus ini. Harus dilibatkan, karena korbannya juga perempuan,” tegasnya.
Ia menambahkan, situasi di Dogiyai saat ini menimbulkan trauma mendalam bagi masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak. Aktivitas masyarakat pun disebut tidak berjalan normal seperti biasanya.
“Banyak masyarakat mengalami trauma, apalagi perempuan dan anak-anak. Situasi ini membuat aktivitas tidak berjalan seperti biasa, bahkan Dogiyai seperti kota mati,” kata dia.
Menurut Yusni, berbagai tindakan kekerasan yang terjadi telah meninggalkan dampak psikologis yang serius bagi warga, termasuk masyarakat asli Dogiyai sendiri.
“Kami sendiri sebagai orang Dogiyai juga merasakan trauma dengan situasi ini,” ujar Yusni.
Lebih lanjut, ia menilai kondisi tersebut juga memperkuat stigma negatif terhadap masyarakat Dogiyai.
Karena itu, ia meminta agar proses hukum dilakukan secara transparan dan adil guna memulihkan kepercayaan publik.
“Untuk menghapus stigma buruk terhadap Dogiyai, kami mohon agar tim yang dibentuk benar-benar menginvestigasi kasus ini dengan benar, serta menangkap dan mengadili para pelaku sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,” tutupnya. (*)
Editor : Elfira Halifa