Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Pemkab Mimika Bersama PTFI Tinjau Kawasan Rawan Longsor Kampung Banti

Wahyu Welerubun • Minggu, 7 Juli 2024 - 01:23 WIB
Kadis PUPR dan Plt Kepala BPBD Mimika bersama dengan tim PTFI, saat melakukan monitoring di Kampung Waa/Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (5/7/2024).
Kadis PUPR dan Plt Kepala BPBD Mimika bersama dengan tim PTFI, saat melakukan monitoring di Kampung Waa/Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Jumat (5/7/2024).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) meninjau kawasan rawan bencana tanah longsor di Kampung Waa/Banti, Distrik Tembagapura, Jumat (05/07/2024).

Untuk diketahui, pada tanggal 4 Mei 2024 lalu terjadi bencana longsor akibat curah hujan yang tinggi di kampung Waa/Banti, Distrik Tembagapura.

Akibatnya, jalan dan jembatan di Kampung Waa/Banti mengalami rusak berat sehingga harus diperbaiki.

“Jadi kita ke sana mengidentifikasi apa saja yang harus dilakukan usai longsor pada 4 Mei lalu, kemudian kita lihat apa yang perlu diperbaiki agar mengantisipasi hal itu tidak terulang kembali,” kata Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika Dominggus Robert Mayaut dalam keterangan tertulis yang diterima Cenderawasih Pos, Sabtu (06/07/2024).

Dominggus melanjutkan, kunjungan tersebut dilakukan menindaklanjuti arahan Bupati Mimika yang menginstruksikan Dinas PUPR bersama BPBD Mimika meninjau lokasi longsor.

Dominggus mengatakan setelah meninjau kawasan rawan longsor di Kampung Banti, pihaknya melihat
PTFI telah melakukan upaya antisipasi dan pencegahan sementara.

Selanjutnya pemerintah daerah akan melakukan langkah pencegahan tanah longsor termasuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kita lihat perlu adanya normalisasi di sungai, namun memang perlu sosialisasi kepada masyarakat yang
ada di jalur sungai tersebut, kita tidak bisa lakukan normalisasi apabila ada aktifitas di sana,” kata
Dominggus.

Setelah kunjungan dan peninjauan lokasi, hasilnya akan dilaporkan kepada m Bupati Mimika, Johannes Rettob, untuk menentukan langkah selanjutnya yang akan diambil oleh pemerintah daerah bersama pihak terkait.

Kemudian, Plt Kepala BPBD Kabupaten Mimika Moses Yarangga mengatakan, kunjungan ini juga merupakan bentuk sosialisasi mengenai bahaya longsor kepada masyarakat.

Moses menjelaskan, sosialisasi dilakukan untuk melindungi masyarakat, baik penduduk asli Banti maupun masyarakat non-Papua yang beraktivitas di area tersebut dari potensi bencana.

"Situasi dan kondisi di areal Banti sangat terjal, sehingga ketika hujan turun, longsor mudah terjadi. BPBD bertugas memberikan informasi lebih awal, sosialisasi, dan mitigasi sebelum bencana terjadi," ujar Moses.

Kata Mozes, sosialisasi antara lain tentang bagaimana masyarakat dapat melakukan mitigasi bencana longsor.

Selain itu, rencananya dua petugas akan ditempatkan di wilayah tersebut untuk membantu monitoring dan mitigasi, termasuk pemasangan rambu-rambu bahaya longsor di lokasi.

Mozes menyebut, berdasarkan presentasi tim ahli PT Freeport, terdapat tujuh titik rawan longsor di sekitar wilayah Waa/Banti yang memerlukan sosialisasi.

“Kami khawatir longsor dapat terjadi kapan saja, terutama karena curah hujan yang tinggi sejak Mei hingga Juni," ujarnya menambahkan.

Sementara itu, Direktur & EVP Sustainable Development & Community Relations PTFI Claus Wamafma mengatakan, aspek keselamatan masyarakat Kampung Waa/Banti sangat penting agar mereka dapat beraktifitas dengan tenang.

PTFI sebagai mitra Pemerintah Kabupaten Mimika terus memberikan dukungan berupa analisis pemetaan kerentanan longsor di area Kampung Banti.

Hasil analisis tersebut disampaikan PTFI kepada pemerintah daerah sebagai salah satu masukan dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

"Kami melihat dari peta geologi, kemiringan lereng, serta curah hujan. Hasilnya, diperoleh kesimpulan
bahwa wilayah tersebut sangat rentan mengalami bencana tanah longsor di beberapa titik,” kata Claus.

Seperti diberitakan sebelumnya, PTFI telah menerjunkan tim khusus untuk memperbaiki jalan dan jembatan yang rusak di Kampung Waa/Banti akibat curah hujan tinggi, banjir dan tanah longsor.

Perbaikan yang dilakukan meliputi perbaikan jalan, tanggul, normalisasi sungai serta perbaikan tanggul penahan jembatan Agawagom yang mulai tergerus air sungai.

Jalan dan jembatan yang rusak itu pun merupakan satu-satunya akses darat yang menghubungkan Timika, Tembagapura, dengan Kampung Banti, Kampung Opitawak, dan Kampung Aroanop.

Kampung Waa/Banti sendiri merupakan wilayah yang berada 5 km dari area operasi PTFI di Tembagapura. Oleh karena itu, PTFI bergerak cepat dengan mengerahkan 2 unit alat berat berupa Excavator, 4 unit Articulate Dump Truck, 1 unit Wheel Loader dan 1 unit alat Grader beserta kru untuk melakukan perbaikan.(*)

Editor : Yonathan R.
#PUPR #PT Freeeport Indonesia #mimika