CEPOSONLINE.COM, BIAK - Pemerintah Kabupaten Biak Numfor terus berupaya keras untuk meningkatkan konektivitas penerbangan dan memperbaiki status Bandara Frans Kaisiepo yang sempat mengalami penurunan frekuensi penerbangan.
Pemerintah juga ingin mengembalikan kejayaan Bandara Frans Kaisiepo seperti di tiga dekade lalu.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Biak Numfor, Markus Mansnembra, usai pertemuan dengan sejumlah maskapai penerbangan, operator, serta pihak terkait di sektor jasa dan keamanan bandara, pada Senin (30/6).
Bandara Frans Kaisiepo di Biak, dulunya bernama Bandara Mokmer, pernah mengalami masa kejayaan sebagai bandara internasional yang melayani penerbangan ke berbagai negara di Amerika Serikat dan sekitarnya.
Namun, karena krisis moneter tahun 1998 dan perubahan kebijakan, aktivitas bandara menurun.
Meskipun demikian, bandara ini masih memiliki potensi besar untuk kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata, terutama dengan posisinya yang strategis di jalur Pasifik.
Bandara Frans Kaisiepo pun juga pernah menjadi bandara internasional yang melayani penerbangan langsung ke Honolulu, Los Angeles, dan Seattle.
Bandara ini juga berfungsi sebagai pusat transit penerbangan internasional, menghubungkan berbagai kota di Indonesia dengan negara-negara di kawasan Pasifik.
Letaknya yang strategis di dekat Samudra Pasifik dan garis khatulistiwa menjadikannya pintu gerbang penting untuk penerbangan internasional ke Papua dan sekitarnya.
Bahkan di Biak juga pernah sempat diisukan untuk dijadikan aset penerbangan pesawat atuapun peluncuran satelit milik Rusia.
Bupati Markus Mansnembra menjelaskan, selama beberapa waktu terakhir, Pemkab Biak bersama Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Perhubungan, serta pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, terus berkoordinasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat dengan Kementerian dan lembaga terkait.
Hal ini dilakukan guna mengatasi penurunan frekuensi penerbangan yang sebelumnya hanya tiga kali dalam seminggu. Demi kembalinya lembaran kejayaan Bandara yang diambil dari nama pahlawan yang tertera pada lembaran uang Rupiah nilai 10 ribu itu.
“Biak dulunya adalah Bandara Internasional dengan tingkat volume penerbangan yang cukup tinggi. Namun, hari ini keadaan tersebut berbalik. Namun, kami bersyukur, upaya yang kami lakukan mulai membuahkan hasil dengan adanya respons positif dari kementerian dan maskapai penerbangan,” ujar Bupati Mansnembra.
Salah satu upaya yang disampaikan adalah kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, yang dilakukan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) setahun lalu mengenai distribusi komoditas lokal Biak dan Papua Pegunungan.
Bupati Markus juga berharap komitmen dari Gubernur Papua Pegunungan, Jhon Tabo, tetap konsisten, sehingga penerbangan subsidi yang akan dimulai pada 7 Juli 2025 dari Makassar - Biak - Wamena dapat berjalan lancar, membuka konektivitas dan mendukung distribusi komoditas lokal, menggunakan armada Sriwijaya Air.
Selain itu, Bupati Markus juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Trigana Air, yang telah melakukan survei terkait rencana penerbangan dari Biak ke Pulau Numfor dan Manokwari. Pada 21 Juli mendatang, tim dari Kementerian Perhubungan RI bersama Trigana Air akan melakukan uji coba penerbangan menggunakan pesawat ATR 200.
“Selama ini, transportasi udara ke Pulau Numfor hanya bisa menggunakan pesawat Susi Air dengan kapasitas terbatas.”
“Hanya dua kali seminggu. Tentu ini menjadi tantangan bagi kita. Oleh karena itu, upaya untuk menambah frekuensi penerbangan, termasuk rute dengan maskapai seperti Lion dan Sriwijaya, sangat kami harapkan,” tambah Bupati Markus Mansnembra.
Tak hanya itu, dua minggu lalu, tambah Bupati Mansnembra Pemkab Biak juga dihubungi oleh Direktur Operasi Maskapai Papua Air New Guinea (PNG), yang menyampaikan minat untuk membuka jalur penerbangan internasional dari Port Moresby-Biak-Singapura-Filipina.
Meskipun ini memerlukan kerjasama antar negara, Pemkab Biak sangat optimis dapat menjajaki peluang ini, yang jika terlaksana, akan mengembalikan status Bandara Frans Kaisiepo dari Bandara Perintis menjadi Bandara Internasional.
“Jika rencana ini terwujud, tentunya akan memberikan dampak yang sangat positif terhadap sektor ekonomi, pariwisata, dan perekonomian lokal.”
“Kami berharap dukungan dan doa dari masyarakat agar pemerintah daerah bisa bekerja maksimal dalam merealisasikan hal ini,” tutup Bupati Markus Mansnembra.
Dengan upaya-upaya yang terus dilakukan, diharapkan konektivitas penerbangan di Biak akan semakin meningkat, membawa dampak positif bagi perekonomian daerah, serta membuka peluang untuk sektor pariwisata dan perdagangan yang lebih luas. (*)
Editor : Gratianus Silas