CEPOSONLINE.COM, SENTANI - Istora Papua Bangkit menjadi saksi duel sengit antara Blacksteel Papua dan Fafage Banua dalam ajang Pro Futsal League Papua Series 2024/2025, Senin, 15 Februari 2024.
Di tengah sorak-sorai para pendukung yang memadati istora, ada satu momen yang membuat suasana berubah drastis.
Momen yang dimaksud ialah tangis seorang pemain futsal.
Siapakah dia?
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim langsung tancap gas.
Jual beli serangan mewarnai laga, menciptakan ketegangan yang menyelimuti setiap sudut istora.
Hingga pada menit ke-7, pemain Blacksteel, Matheus Reis, secara mengejutkan sukses menyundul bola ke gawang Fafage Banua.
Gol langka itu membuat Istora bergemuruh, Blacksteel unggul 1-0.
Skor tersebut bertahan hingga turun minum. Namun, Fafage Banua tidak tinggal diam.
Pada menit ke-35, Irfan Maulana sukses memanfaatkan peluang dan menyarangkan bola ke gawang Blacksteel, membuat kedudukan imbang 1-1.
Pertandingan berakhir dengan hasil sama kuat.
Namun bukan itu yang menjadi sorotan utama malam itu.
Sorotan utama jatuh ke sosok Evan Soumilena, pemain andalan Fafage Banua.
Tangisnya pecah ketika video mendiang Ledryk Amto Latuputti, atau yang akrab disapa Daddy, diputar di layar videotron Istora Papua Bangkit.
Almarhum Ledryk Amto Latuputti merupakan pemilik Blacksteel Papua.
Ia meninggal pada 2024 lalu.
Bagi Evan, sosok almarhum Ledryk Amto Latuputti begitu berpengaruh dalam kariernya.
Tangisnya pecah ketika mengenang kebersamaannya dengan almarhum Ledryk semasa masih berseragam Blacksteel.
Baca Juga: Evan Soumilena: Ada Kebanggaan Bisa Main di Rumah Sendiri
Diketahui selama 7 tahun berseragam Blacksteel, tepatnya pada 2017-2024.
Selepas laga melawan Blacksteel, Evan Soumilena yang lebih dikenal sebagai Evan Movic tak bisa menyembunyikan emosinya.
Saat konferensi pers, ia tampak berusaha menahan tangisnya ketika menjawab pertanyaan.
"Saya tidak bisa bicara apa-apa. Bukan apa, tapi saya ada sampai saat ini karena beliau. Saya rasa terlalu berat sekali," ucap Evan dengan suara bergetar, mencoba menahan tangisnya.
Baca Juga: Evan Soumilena Buka-bukaan soal Laga Lawan Blacksteel Papua
Meski hatinya diliputi kesedihan mendalam, Evan tetap menjunjung tinggi profesionalisme.
Baginya, berada di Papua dalam ajang Papua Futsal League bukan sekadar pulang kampung, melainkan juga tentang menjaga kehormatan sebagai pemain futsal profesional.
"Ya, kaya yang disampaikan tadi, saya sedih saat pertandingan, itu wajar untuk saya. Tapi kembali lagi, sebagai pemain profesional, saya harus bisa posisikan diri."
"Saya datang sebagai tamu dan saya sudah berhasil menjalankan tugas saya," tutup Evan.
Tangisan Evan menjadi simbol betapa besar arti Daddy dalam perjalanan kariernya.
Malam itu, di antara ribuan penonton, ada luka yang tak terlihat dan ada kenangan yang tak akan pernah pudar. (*)
Editor : Gratianus Silas