CEPOSONLINE.COM, WAMENA - Konflik dua kelompok massa akhirnya diselesaikan dengan melakukan ritual patah panah yang dilakukan di halaman Mapolres Jayawijaya, Sabtu (23/5/2026). Acara ini dihadiri perwakilan dari Lanny Jaya dan perwakilan dari Wouma Kurima.
Proses patah panah yang memandai berakhirnya konflik antara dua kelompok masa tersebut disaksikan oleh sejumlah tokoh diantaranya Wamendagri, Gubernur Papua pegunugan, Kapolda Papua , Pangdam XVII Cenderawasih, Danrem 172/ PWY , Bupati Jayawijaya, Lanny Jaya dan Yahukimo
Wakil Menteri Dalam Ribka Haluk menyatakan sejak awal pihaknya sudah mengikuti apa yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, mewakili pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada masyarakat dengan kerendahan hati dan berjiwa besar menerima semua situasi dan keadaan serta musibah bagi keluarga besar Provinsi Papua Pegunungan.
“Saya sebagai perempuan adat turut menangis sekaligus bangga, sebab orang tua saya bisa menyelesaikan masalah ini dengan adat dan berjiwa besar bisa menerima semua ini,”ungkapnya di Wamena
Saat ini bisa diselesaikan konflik yang terjadi untuk perdamaian yang diinisiasikan secara adat dalam ritual patah panah, Ia juga berterima kasih kepada para Bupati yang siang malam memfasilitasi masyarakat, apapun yang dilakukan baik materi dan moril.
"Kami pemerintah tak bisa membalas semua kebaikan yang dilakukan oleh keluarga kita, ritual patah panah hari ini adalah bagian terpenting untuk penyelesaian konflik sehingga perlu di sosialisasikan,” kata Ribka
Di tempat yang sama Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo menegaskan konflik ini adalah konflik antara keluarga atau saudara sendiri, sehingga saat ini dilakukan satu tanda dalam ritual patah panah sebab ini juga akan dimasukkan dalam Perdasi dan perdasus yang telah disiapkan.
“Dalam Perdasi dan Perdasus itu akan mengatur penyelesaian konflik artinya meskipun peradilan secara adat berjalan namun kalau tak mampu diselesaikan maka akan menuju ke hukum peradilan positif dan ritual ini satu sikap awal,”beber Tabo.
Konflik antara suku ini dari dulu terus ada, sebab pernyataan lepas panah yang dilakukan tidak seperti yang dilakukan saat ini dan hanya membuat pernyataan, sama seperti konflik ini pertama kali hanya membuat pernyataan , dan lepas panah hanya Assolokobal dan Kurima, sementara dengan Lanny tak dilakukan.
“Saya tegaskan penyelesaian konflik ini sudah diselesaikan secara adat jadi jangan ulangi lagi, saya juga tegaskan ke para Bupati persoalan begini tidak boleh lagi bayar dari pemerintah kepada masyarakat, Nenek Moyang tak pernah bayar pake uang, yang dipake hanya babi,” tutup Jhon Tabo (*)
Editor : Agung Trihandono