CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui sistem layanan kesehatan nasional masih memiliki pekerjaan rumah, terutama dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) kesehatan.
Pengakuan itu disampaikan menyusul ramainya sorotan publik terhadap kasus seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang meninggal dunia setelah sempat mengeluhkan belum mendapat ruang perawatan dan menerima komentar bernada tidak berempati dari sejumlah tenaga kesehatan di media sosial.
Menurut Budi, pemerintah terus berupaya memperbaiki layanan kesehatan secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi infrastruktur dan peralatan medis, tetapi juga kualitas tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak pelayanan kepada masyarakat.
"Kekurangan itu ada, itu yang harus kita perbaiki, baik di fasilitas kesehatannya, di alat-alat kesehatannya, maupun di SDM kesehatannya," kata Budi sebagaimana dikutip dari JawaPos.com, Jumat (7/8/2026).
Ia mengaku prihatin atas meninggalnya pasien tersebut. Bagi Budi, setiap kematian menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan agar masyarakat memperoleh penanganan yang cepat, tepat, dan bermartabat.
“Buat saya sebagai Menteri Kesehatan, tugas saya adalah dari Bapak Presiden menaikkan rata-rata angka harapan hidup rakyat Indonesia dari 72 ke 76”
“Jadi setiap ada yang meninggal itu hati saya sedih, apalagi kalau meninggalnya muda,” ujarnya.
“Saya merasa saya sebagai Menkes itu gagal kok teman-teman kita tuh ada yang meninggal muda. Jadi harusnya memang kita usahakan memberikan layanan terbaiklah agar mereka bisa usianya lanjut sampai ke 76," pungkasnya.
Kasus yang menjadi perhatian publik itu bermula dari unggahan seorang pengguna BPJS Kesehatan di media sosial Threads yang mengaku telah menunggu sekitar delapan jam namun belum mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.
Dalam unggahannya, ia memilih tidak menyebut nama rumah sakit tempat dirinya menjalani perawatan.
Unggahan tersebut kemudian menuai berbagai respons. Namun, sebagian komentar justru dinilai tidak menunjukkan empati. Beberapa akun yang mengaku sebagai tenaga kesehatan melontarkan komentar bernada sinis hingga memicu kecaman warganet.
Situasi berubah setelah keluarga mengabarkan bahwa pemilik unggahan tersebut meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Informasi itu memicu gelombang kritik terhadap perilaku sejumlah tenaga kesehatan yang sebelumnya memberikan komentar tidak pantas.
Setelah identitas mereka ramai diperbincangkan di media sosial, sejumlah tenaga kesehatan yang sempat berkomentar akhirnya menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka.
Menkes menegaskan peristiwa tersebut harus menjadi bahan introspeksi bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
Selain meningkatkan fasilitas dan peralatan medis, penguatan kompetensi, profesionalisme, serta empati tenaga kesehatan dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berorientasi pada keselamatan pasien. (*)
Editor : Elfira Halifa