Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ahmad Doli Tegaskan RUU Satu Data Indonesia Bisa Hentikan Kisruh Bansos dan BPJS

Y
Penulis: Yohanes Palen❯
Ahmad Doli. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA).
Ahmad Doli. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA).

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Badan Legislasi (Baleg) DPR RI meyakini Rancangan Undang-Undang (RUU) Satu Data Indonesia dapat menjadi solusi untuk mengakhiri persoalan ketidaksinkronan data yang selama ini memicu berbagai masalah dalam penyaluran bantuan sosial (bansos) hingga layanan BPJS.

Wakil Ketua Baleg DPR RI, Ahmad Doli Kurnia, mengatakan, persoalan data yang tidak terintegrasi telah menjadi hambatan besar dalam pelayanan publik selama puluhan tahun. 

Menurutnya, ketidaksamaan data antara pusat dan daerah kerap membuat masyarakat yang berhak justru tidak menerima bantuan.

Advertisement

“Contoh yang paling konkret adalah ketika kita menghadapi bencana, ada bantuan sosial dari masyarakat, itu selalu ada masalah. Ada masyarakat yang merasa bahwa dia punya hak, tidak dapat haknya,” ujar Doli dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2026) dikutip dari Kompas.com.

Politikus Partai Golkar itu menilai kehadiran RUU Satu Data Indonesia nantinya akan membuat pemerintah memiliki sistem basis data kependudukan yang terintegrasi, akurat, dan saling terhubung antarinstansi.

Dengan sistem data nasional yang tersusun rapi, kata dia, penyaluran bantuan sosial maupun berbagai layanan publik akan menjadi lebih tepat sasaran dan meminimalkan kesalahan di lapangan.

Advertisement

“Dengan adanya Undang-Undang Satu Data Indonesia ini, kita sudah punya sistem database kependudukan, semua data yang terintegrasi dan sistematis,”kata Doli.

Hal senada juga disampaikan Anggota Baleg DPR RI, Firman Soebagyo, mengungkapkan pemerintah daerah selama ini sering mengalami kesulitan menjalankan program bantuan sosial akibat data yang tidak valid dan berbeda antara pusat dan daerah.

“Mereka mengalami kesulitan ketika ada program bantuan sosial, itu dihadapkan kepada masalah data yang tidak valid. Sehingga kadang-kadang, data dari pusat dengan data di daerah itu berbeda,” jelas Firman.

Legislator asal Jawa Tengah itu menilai kondisi tersebut membuat banyak program bantuan sosial tidak tepat sasaran karena data antarwilayah masih berjalan sendiri-sendiri dan belum tersambung dalam satu sistem nasional.

Advertisement
Editor : Yohanes Palen

Artikel Terkait

BPJS Kesehatan Disuntik Rp20 Triliun, Prabowo Minta RS Jangan Bedakan Pasien Umum dan BPJS

BPJS Kesehatan Disuntik Rp20 Triliun, Prabowo Minta RS Jangan Bedakan Pasien Umum dan BPJS

Presiden Prabowo Subianto meminta antrean pasien diperpendek serta pelayanan di rumah sakit diberikan secara setara, baik kepada peserta

Prabowo instruksikan RS tak bedakan pasien BPJS dan non-BPJS

Prabowo instruksikan RS tak bedakan pasien BPJS dan non-BPJS

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin untuk memastikan rumah sakit-rumah sakit tidak mem

Usai Kasus Pasien BPJS Viral, Menkes: Saya Merasa Gagal Saat Ada Warga Meninggal Muda

Usai Kasus Pasien BPJS Viral, Menkes: Saya Merasa Gagal Saat Ada Warga Meninggal Muda

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengakui sistem layanan kesehatan nasional masih memiliki pekerjaan rumah, terutama dalam memperkuat

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer