CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA— Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara blak-blakan mengungkap berbagai benang kusut dan persoalan pelik yang masih membayangi profesi dokter di Indonesia.
Dilansir dari radarkudus.jawapos.com, dalam pemaparannya, Menkes menyoroti tiga isu krusial yang saling berkelindan: maraknya kasus perundungan (bullying), adanya ancaman hukum serta kekerasan fisik dari pasien, hingga jurang ketimpangan pendapatan (income gap) antar-dokter yang dinilai terlampau ekstrem.
Pemerintah menyatakan saat ini tengah mengidentifikasi setiap sumber ketidaknyamanan tersebut guna merumuskan kebijakan perlindungan dan pemerataan yang lebih berkeadilan bagi para tenaga medis.
*Ancaman Hukum dan Urgensi Perlindungan Negara*
Salah satu poin penting yang digarisbawahi oleh Menkes Budi Gunadi adalah kerentanan posisi dokter saat berhadapan dengan tuntutan hukum atau ancaman fisik dari pihak pasien.
Ia menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memberikan jaminan keamanan yang memadai bagi para dokter yang telah bekerja secara profesional.
“Yang menarik adalah ada ancaman dari pasien kalau dia dituntut, ini yang kita mesti jaga dan kita mesti lindungi tenaga medis kesehatan yang benar,” ujar Menkes Budi.
Menurutnya, tenaga medis yang menjalankan tugasnya secara benar dan sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa benteng hukum yang kuat ketika menghadapi sengketa medis.
*Miris, Ketimpangan Pendapatan Dokter Bisa Mencapai Ribuan Kali Lipat*
Selain masalah keselamatan kerja, aspek kesejahteraan menjadi sorotan yang paling menyita perhatian.
Menkes mengakui adanya variasi besaran penghasilan yang sangat lebar dan tidak proporsional di antara sesama sejawat dokter, bahkan di kota besar seperti Jakarta.
Ketimpangan ini dinilai memicu rasa sedih dan kecemburuan sosial di kalangan dokter yang berada di lapisan bawah.
Budi Gunadi bahkan mengibaratkan pendapatan dokter di level bawah ada yang menyedihkan, sementara di level atas begitu fantastis.
*Lapisan Atas*: Terdapat segelintir dokter (khususnya spesialis senior tertentu) yang mampu mengantongi penghasilan hingga miliaran rupiah per bulan.
*Lapisan Bawah*: Di sisi lain, masih banyak dokter yang mendapatkan penghasilan sangat minim. "Ada kita sering dengar apakah seperti tukang parkir yang ratusan ribu," ungkap Menkes.
“Ini adalah salah satu bidang yang gap-nya tinggi sekali. Mungkin bisa ribuan kali, antara yang paling atas dan paling bawah.
Ini yang menurut saya harus ditata, karena yang kita dengar adalah yang mengeluh di bawah. Mengapa? Karena memang distribusinya yang luar biasa tinggi,” imbuh Budi.
*Mengurai Benang Kusut Perundungan Senioritas*
Masalah yang dihadapi para dokter ternyata tidak hanya datang dari luar (pasien atau regulasi), tetapi juga dari dalam lingkaran profesi itu sendiri.
Menkes tidak menampik bahwa praktik perundungan (bullying) masih menjadi momok bagi dokter muda atau dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis.
Ironisnya, tekanan psikologis dan fisik ini justru sering kali datang dari lingkungan terdekat mereka. “Ini sebagian besar dari teman-teman atau seniornya. Masing-masing ketidaknyamanan dokter ini kita identifikasi,” jelas Menkes.
Pernyataan lugas dari Menkes Budi Gunadi Sadikin ini menegaskan bahwa reformasi kesehatan di Indonesia tidak boleh hanya fokus pada pembangunan infrastruktur rumah sakit, tetapi juga wajib menyentuh reformasi kesejahteraan, penataan sistem distribusi pendapatan, serta penciptaan lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi seluruh tenaga medis di tanah air. (*)