CEPOSONLINECOM, JAYAPURA- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku penasaran dengan sosok pembuat lagu viral "MBG" atau "Mas Bahlil Ganteng".
Ia ingin mengundang untuk bertemu serta makan bersama. Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat berbincang dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @raffinagita1717 pada Jumat (29/5).
Bahlil mengatakan dirinya tidak mengetahui siapa pencipta lagu yang ramai beredar di berbagai platform media sosial tersebut.
"Kalau itu asli penasaran adinda, saya minta tolong untuk saya mengundang. Kalau yang bersangkutan berkenan, saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan," kata Bahlil dalam video yang diunggah akun Instagram @raffinagita1717.
Seperti dilansir dari Pontianakpos.com, Bahlil mengungkapkan lagu MBG bahkan telah menjadi bahan candaan di lingkungan keluarganya.
Ia mengaku sering diingatkan oleh anak-anaknya mengenai lagu tersebut saat menjalankan ibadah umrah. "Saya lagi ibadah umrah, tetapi setiap pagi bangun anak saya ketawain saya, 'Bapak MBG'," ujar Bahlil.
Raffi Ahmad kemudian menimpali bahwa putranya, Rafathar, juga menyukai lagu tersebut dan beberapa kali menanyakan sosok Bahlil.
Menurut Raffi, lagu MBG telah menjadi fenomena yang dikenal hingga kalangan anak-anak.Bahlil menilai kemunculan lagu tersebut merupakan bagian dari kreativitas generasi muda di era media sosial.
Meski menjadi objek lagu yang viral, Ketua Umum Partai Golkar itu mengaku menghargai karya kreatif yang dibuat masyarakat.
"Saya sendiri tidak tahu dan itu alami sekali. Saya penasaran siapa yang membuatnya. Kalau bisa ditemukan, saya ingin sekali bertemu," kata Bahlil dalam video tersebut.
Ia menegaskan kreativitas harus terus didorong selama digunakan untuk hal-hal positif dan tidak merugikan pihak lain. Menurut Bahlil, media sosial telah menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk mengekspresikan ide dan karya.
Di balik apresiasinya terhadap lagu MBG, Bahlil mengingatkan agar kreativitas di media sosial tetap dijalankan secara bertanggung jawab. Ia meminta masyarakat menghindari konten yang mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
"Kalau boleh juga dipergunakan dengan terukur. Contohnya, jangan sampai masuk di SARA," tegas Bahlil. Ia menilai konten yang memicu perpecahan dapat mengganggu persatuan dan solidaritas antarsesama anak bangsa.
Sebagai pejabat publik, Bahlil mengaku memahami bahwa dirinya akan selalu menjadi perhatian masyarakat dan siap menerima berbagai respons yang muncul di ruang publik."Risiko menjadi pejabat publik harus menerima semuanya," pungkas Bahlil. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser