Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Pemkab Mimika Bakal Fasilitasi Ritual Patah Panah, Konflik Kwamki Narama Segera Berakhir?

Wahyu Welerubun • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:14 WIB
Aparat Kepolisian Sektor Kwamki Narama yang tengah melakukan pendekatan dengan salah satu kubu di wilayah tersebut yang berkonflik. (Ceposonline.com/ Istimewa).
Aparat Kepolisian Sektor Kwamki Narama yang tengah melakukan pendekatan dengan salah satu kubu di wilayah tersebut yang berkonflik. (Ceposonline.com/ Istimewa).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, berencana akan meredam konflik horizontal di Distrik Kwamki Narama yang sudah memakan waktu kurang lebih setengah tahun itu dalam waktu dekat.

 

Sebelumnya, pemerintah daerah bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) berhasil memediasi dua kelompok yang bertikai, yakni kelompok Newegalen dan kelompok Dang.

Kesepakatan damai tersebut tercapai dalam pertemuan yang digelar di Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Jumat, 12 Juni 2026.

Hal ini ditegaskan Bupati Mimika Johannes Rettob saat ditanya terkait dengan upaya penanganan konflik di Kwamki Narama, pada Jumat sore.

 

“Saya bersama Wakil Bupati dan seluruh unsur Forkopimda telah bertemu dengan perwakilan kelompok Newegalen dan Dame. Kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri pertikaian melalui jalur perdamaian adat Patah Panah,” kata Bupati.

Sebagai simbol resmi berakhirnya permusuhan, kedua belah pihak dijadwalkan menggelar prosesi adat Patah Panah di Kwamki Narama pada Senin, 15 Juni 2026.

 

Rekonsiliasi adat ini diharapkan menjadi solusi permanen demi memulihkan keamanan di wilayah tersebut.

Prosesi Patah Panah ini merupakan kelanjutan dari upaya-upaya perdamaian sebelumnya.

 

Pemerintah berharap situasi Kamtibmas di Kwamki Narama kembali kondusif sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan tenang.

 

Akankah Konflik Ini Bisa Berakhir?

 

Sebelumnya, proses serupa sempat terjadi tepat pada hari Senin, 12 Januari 2026. Patah panah yang berlangsung di Kampung Amole itu dihadiri langsung oleh Pemerintah Daerah, jajaran Forkopimda hingga sejumlah petinggi TNI Polri.

 

Proses patah panah dan belah kayu guna mengakhiri konflik dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WIT. Namun, agenda ini sempat molor hingga siang hari akibat Kubu Dang yang masih ngotot dengan berbagai macam tuntutan.

 

Setelah melalui proses negosiasi panjang dengan pemerintah dan aparat keamanan, prosesi perdamaian pun dimulai.

 

Sejumlah warga lalu memikul sebatang bambu panjang sebagai simbol untuk menggantikan kayu ke tengah-tengah lokasi kegiatan untuk dibelah, kemudian dilanjutkan dengan ritual adat panah babi dan patah panah.

 

Meski sempat diancam hukum positif jika terulang kembali, tak lama setelah perdamaian korban kembali berjatuhan di Kampung Amole.

 

Bahkan, lokasi perang pun melebar sampai ke jalan raya.

Upaya perdamian pun terus dilakukan. Aparat kepolisian dan pemerintah di tingkat distrik pun kembali putar otak untuk mendamaikan para pihak yang berkonflik. (*)

 

Editor : Agung Trihandono
#mimika #Ceposonline.com #konflik