Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Merawat Upacra Adat Karapao di Tengah Modernisasi Zaman

Wahyu Welerubun • Rabu, 3 Juni 2026 | 15:31 WIB
Tokoh Masyarakat Kamoro, Marianus Maknaipeku saat ditemui pada Rabu (3/6/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).
Tokoh Masyarakat Kamoro, Marianus Maknaipeku saat ditemui pada Rabu (3/6/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Aroma daun sagu dan jerami kering menyeruak di antara tiang-tiang kayu yang berdiri kokoh. Di sebuah bangunan persegi panjang modular berdinding anyaman, peradaban Suku Kamoro di Mimika, Papua Tengah, sedang menguji waktu. 

Di sinilah Karapao digelar—sebuah ritual inisiasi sakral yang menandai transisi emosional dan spiritual anak laki-laki usia 10 hingga 15 tahun menuju gerbang pendewasaan lahir dan batin.

Bagi masyarakat Kamoro, Karapao bukan sekadar selebrasi visual. Ini adalah poros warisan leluhur yang melilitkan tanggung jawab baru dari ipar lelaki kepada sang anak, yang disimbolkan lewat pemotongan bagian bawah busana adat Tauri.

Ritual ini memiliki arsitektur yang presisi. Panjang bangunan temporer tempat upacara berlangsung dinamis; ditentukan oleh jumlah pintu yang merepresentasikan jumlah anak yang akan diinisiasi. 

Sebelum fajar pendewasaan menyingsing, setiap anak dari masing-masing Taparo (mata rumah) wajib memanjat tiang kayu di depan rumah adat demi meraih rumbai-rumbai di ujungnya. 

Kain itu kemudian dijatuhkan ke dekapan orang tua yang menunggu di bawah. Usai ritual panjat tiang, sang anak diboyong ke sungai. 

Di aliran air itulah, kontak spiritual antara orang tua, anak, dan leluhur dikukuhkan, menegaskan status mereka sebagai pewaris sah tradisi Kamoro.

Tokoh Masyarakat Suku Kamoro, Marianus Maknaipeku, saat ditemui Cenderawasih Pos, Rabu (3/6/2026), menyampaikan bahwa pesta adat Karapao tidak akan pernah hilang dan hingga saat ini masih tetap lestari di dalam tubuh masyarakat Kamoro.

Meski literatur lama mencatat tradisi ini kerap dilakukan berkala, Marianus menjelaskan bahwa upacara adat Karapao sendiri biasanya digelar setiap 10 hingga 15 tahun sekali.

"Jadi bisa 10 tahun. Bisa terkadang 10 tahun. Iya. Jadi pesta adat Karapao ini bagi suku Kamoro itu sudah melekat. Itu warisan leluhur dan barang sampai kapan pun tidak akan hilang," jelas Marianus.

Di mata Marianus, Kamoro adalah benteng kebudayaan yang kokoh melalui nyanyian, ukiran patung, hingga tabuhan tifa. Karapao menjadi hulu dari segala identitas tersebut, yang menempa mentalitas generasi muda Kamoro agar tak limbung digerus zaman.

"Biar dia besar di luar, dia tetap gagah, dia bisa kokoh sebagai anak muda, punya kecerdasan, dia bisa bikin apa? ukiran, bisa bikin perahu, bisa bikin apa saja. Dia dilepaskan," ungkap Marianus.

Siklus Kematian dan Pemimpin Baru
​Karapao tidak hanya berdenyut saat menyambut kehidupan baru. Konteks upacara ini meluas secara magis ketika seorang tetua atau tokoh adat wafat. Karapao bertransformasi menjadi ritus duka sekaligus ruang transisi kekuasaan adat.
​"Ada setiap 10 tahun, bahkan 15 tahun, ya, bisa terjadi. Bahkan ada momen-momen tertentu, ada upacara-upacara adat tertentu. Mungkin karena tokoh adat yang dituakan itu, iya, dia eh mengalami musibah, musibah permanen, atau meninggal."

Ketika salah satu marga pemilik rumah adat Karapao mangkat, bangunan lama wajib dirubuhkan. Lewat ritual pemanggilan arwah dan musyawarah adat yang ketat, suksesi kepemimpinan ditentukan. Arwah leluhur diyakini tetap hidup dan harus diundang kembali ke dalam rumah adat yang baru dibangun.

"Ya, itu pemiliknya. Pemilik tunggalnya baru-baru meninggal. Berarti barang yang mereka taruh itu, dia gugur dulu. Iya. Karena tuannya masih ada, dia sudah pergi. Nah, sekarang yang mau dituakan ini siapa lagi? Harus mereka cari lagi. Baru kesepakatan, Oh, ini yang tua. Mereka berdiri kembali lagi, dia punya atap baru ganti, kopa-kopa ganti, semua ganti, ya karena tuannya, yang punya, yang punya barang itu sudah jatuh tanah," imbuhnya.

Bagi orang Kamoro, adat adalah roh yang mengalir dalam darah. Ketika mufakat tercapai, warisan tersebut harus diturunkan kepada generasi berikutnya berdasarkan kesiapan mental dan usia mereka.

"Kalau sepakat, baru mereka kukuhkan, artinya aman. Setelah itu mereka persembahkan dia, baru nanti atur waktu lagi untuk kah 10 tahun kah, 15 tahun kah, macam begitu. Itu pun dilihat dari ekstensi anak-anak. Iya. Ya. Oh, ini sudah dewasa, ini sudah bisa ini," ungkap Marianus.

Menutup perbincangan, Marianus menitipkan pesan reflektif bagi seluruh masyarakat nusantara yang mendiami Bumi Amungsa, Mimika. Baginya, merawat Karapao adalah merawat tenunan keragaman Indonesia.

​"Maka dari itu, saya tokoh masyarakat, mengimbau kepada masyarakat seluruh Kabupaten Mimika, bahwa adat... orang Kamoro bisa khususnya Karapao, bisa dihormati sebagai kultur adat Papua. Ya. Kita perlu jaga, lestarikan, hidupin ini untuk selamanya. Itu yang saya sampaikan," pungkasnya.

(*)

Editor : Lucky Ireeuw
#mimika #Ceposonline.com #Adat