Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Air Bersih di Mimika Baru Menjangkau 11 Ribu Sambungan Aktif

Wahyu Welerubun • Kamis, 30 April 2026 | 15:52 WIB
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi. (CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mimika, Inosensius Yoga Pribadi. (CEPOSONLINE.COM/MOH. WAHYU WELERUBUN).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Pemerintah Kabupaten Mimika tengah memacu digitalisasi dan profesionalisme pengelolaan air bersih seiring dengan data terbaru yang menunjukkan bahwa dari 14.000 jaringan yang terpasang, baru sekitar 11.000 sambungan yang aktif terlayani.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mimika, Inosensius Yoga Pribadi, mengungkapkan bahwa kendala teknis dan gangguan eksternal masih menjadi tantangan utama di lapangan. 

Masalah ini sering kali memaksa petugas melakukan pemutusan aliran sementara demi perbaikan infrastruktur.

"Kalau jejaringan rumah itu kemarin 14 ribu, kalau tidak salah, 14 ribu, tetapi yang baru terlayani itu 11 ribu. Dan ini dia berubah-berubah karena kadang meteran dicuri berarti kan mereka harus tutup, mereka punya kran induk supaya air tidak mengalir terus," ujar Yoga, Kamis (30/4/2026).

Selain persoalan teknis, perilaku oknum masyarakat menjadi hambatan serius. Laporan mengenai perusakan jaringan pipa di wilayah Koprapoka mencerminkan masih rendahnya kesadaran publik dalam menjaga fasilitas negara yang vital. 

Terkait hal ini, Yoga memberikan imbauan keras agar masyarakat memahami nilai penting dari fasilitas yang telah dibangun.

"Namanya masyarakat ini kan beda-beda karakter, ada yang peduli, ada yang tidak peduli. Yang tidak peduli ini yang kita himbau untuk mungkin bisa pahami bahwa ini penting. Air adalah kebutuhan dasar manusia. Sehingga pemerintah menyiapkan fasilitas yang ada, mari kita jaga sama-sama," jelasnya.

Pemerintah daerah mematok target minimal 15.000 sambungan rumah agar pengelolaan di bawah bendera Perumda nantinya dapat berjalan secara mandiri dan profesional sesuai prinsip ekonomi.

"Sampai selesai itu 15 ribu sambungan rumah, baru bisa namanya break even point itu didapat. Orang bilang kembali modalnya itu. Nah karena ini kan nanti harus dikelola perusahaan, itu harus memahami tentang prinsip-prinsip ekonomi," tambah Yoga.

Namun, tantangan terakhir tetap kembali pada isu sosial di lapangan, terutama terkait pembebasan lahan untuk penanaman pipa. 

Yoga menekankan bahwa dukungan masyarakat lokal sangat menentukan keberhasilan perluasan akses air bersih ini.

"Karena ada yang minta tanahnya mau digali tanam pipa itu harus bayar. Ini yang harus kita lakukan peningkatan-peningkatan baik kepada pihak masyarakat karena ini kebutuhan penting," pungkasnya.(*)

Editor : Elfira Halifa
#air bersih #mimika #Ceposonline.com