CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Kegiatan pendakian ke Puncak Cartensz atau Cartensz Pyramid atau yang dalam bahasa lokal (Bahasa Amungme) disebut Gunung Nemangkawi di tahun 2025 telah resmi ditutup.
Ekspedisi pendakian yang dinahkodai oleh operator lokal di Timika, yakni PT Tropis Cartenzs Jaya ini berlangsung aman dan lancar sejak awal sampai dengan selesainya.
Tentu, suksesnya ekspedisi ini juga tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik dari aparat keamanan dari Sat Brimob Polda Papua Tengah, Polres Mimika, serta seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Pemilik PT Tropis Cartensz Jaya, Irfan Irianto menyampaikan terima kasih serta apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua pihakatas suksesnya penyelenggaraan ekspedisi tersebut.
Menurutnya, kesuksesan ini tak akan terwujud tanpa adanya kontribusi dari semua pihak.
Saat ditemui pada Senin malam, 17 November 2025, Irfan menegaskan bahwa namun demikian ada misi besar yang dibawa dalam ekspedisi ini, yaitu memberdayakan anak-anak Orang Asli Papua (OAP) khususnya mereka yang mendiami area sekitaran Puncak Cartensz, yakni anak-anak Amungme.
Sejauh ini, PT Tropis Cartensz Jaya telah berhasil mengorbit sebanyak kurang lebih 20 orang yang bertindak sebagai pemandu, hingga operator yang bertugas di Basecamp.
"Jadi tujuan utama kami itu sumber daya manusia lokal, sebenarnya mereka (anak-anak OAP) itu bisa, jadi saya bikin pepatanh itu; jangan jadi penonton di rumah sendiri, itu yang saya tanamkan di teman-teman jangan minder dengan orang yang datang dari luar, kita juga bisa," kata Irfan.
Irfan menyebutkan, langkah ini terbukti dan mampu meningkatkan sumber daya anak-anak lokal untuk menjadi operator pemandu gunung dan keterlibatan mereka dalam pendakian tersebut.
Kata Irfan, mereka telah berhasil menimba banyak ilmu selama kegiatan pendakian yang berlangsung hampir setahun penuh itu. Sehingga, ke depan beberapa dari mereka sudah dapat diberikan tanggung jawab untuk menjalankan tugas dan fungsinya secara mandiri.
"Mungkin Februari Maret 2025 lalu hanya ada beberapa, tapi sekarang kita sudah mulai pelan ada beberapa teman yang sudahh menguasai basecamp dan mungkin ke depan kami sudah bisa kasih tanggungjawab dia apa," kata Irfan.
"Tahun ini di bulan Oktober sudah ada dua orang yang summit bawa nama bendera (salah oepartor pendakian milik putra-putri Amungme yang berkolaborasi dengan PT Tropis Cartensz Jaya) sendiri. Jadi nanti ke depan Tropic dengan Nemangkawi kolaborasi sama-sama untuk tetap kita jalan sebagaimana mestinya," tutur Irfan.
Irfan melanjutkan, ada salah satu jalur pendakian baru yang nantinya akan dibuka menuju ke Puncak Cartensz.
Jalur itu akan ditempuh dari Kampung Tsinga di Distrik Tembagapura, Mimika, Papua Tengah.
Kata Irfan, di akhir ekspedisi kemarin, telah diawali dengan membuang tali sebagai penanda.
Ini dinilai sebagai langkah yang tepat untuk jangka panjang apabila jalur pendakian tersebut dibuka.
Tentunya dengan mengedepankan kepentingan masyarakat adat setempat serta memberi kesempatan bagi warga masyarakat yang mendiami wilayah itu.
"Saat ini ita sudah buang tali yang untuk lewat jalur Tsinga," tutur Irfan.
Irfan juga berencana untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dalam hal komunikasi, beberapa diantara mereka akan diberangkatkan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris.
*Cerita Guide Lokal Besutan PT Tropis Cartensz Jaya Yang Berhasil Menaklukkan Piramida Cartensz*
Kata kebanyakan orang, kerja keras dan niat yang tulus diimbangi dengan keinginan untuk terus belajar tidak akan menghianati hasil.
Hal ini berhasil dibuktikan oleh Betho Beanal dan Simon Beanal. Dua putra asli Suku Amungme ini berhasil menaklukan puncak tertinggi Indonesia yang menempati urutan ke tujuh seven summit dunia tersebut.
Betho dan Simon berhasil menginjakkan kaki di Puncak Cartensz yang berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu.
Mereka berhasil summit dengan mencatatkan diri sebagai Guide lokal asli Suku Amungme yang mengantarkan pendaki sampai ke Puncak Cartensz dengan berbagai keterbatasan yang ada.
Saat ditemui, Selasa, (18/11/2025), Betho dan Simon pun menceritakan pengalaman mereka saat mengantar pendaki mancanegara menyelesaikan misi pendakian ke Puncak Cartensz.
Menurut Betho Beanal, Cartensz bukanlah gunung yang mudah untuk ditaklukkan oleh siapapun. Butuh kemampuan, ketahanan fisik dan mental yang tangguh untuk sampai ke puncaknya.
Beruntung, pria bernama Norbertus Beanal ini ternyata sudah punya latar belakang di dunia pendakian dengan modal pernah menjadi anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) saat masih mengarungi pendidikan di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Berbagai tahapan mengenai dunia pendakian telah ia cicipi. Bahkan, judul skripsi yang pernah dirinya buat berkaitan dengan pengembangan wisata pendakian.
Kata Betho, ini dilakukan mengingat di tanah kelahirannya terdapat Puncak Cartensz yang saat ini berdiri megah mencakar langit di gugusan pegunungan Puncak Jaya.
Setelah menempuh pendidikan dan pulang ke Timika, bertemulah dia dengan Irfan Irianto selaku pemilik jasa operator lokal, PT. Tropis Cartensz Jaya.
Dengan semangat yang tinggi, Irfan pun meminangnya untuk dipersiapkan sebagai Guide. Pinangan itu pun diterima. Dari situ, Betho belajar, berusaha dan berhasil menginjakkan kaki di gunung tertinggi tersebut.
"Kebetulan saya bertemu Bang Irfan, karena kebetulan beliau melihat kami anak-anak lokal juga dan beliau juga punya bendera (jasa operator) lokal juga akhirnya kami bergabung. Kami sekitar 20 orang, beliau (Irfan) sempat support kita untuk gabung. Jadi kemarin tanggal 15 November saya dengan Simon Beanal berhasil summit di ketinggian 4.884 MDPL," kata Betho.
Betho mengatakan, mendaki ke Puncak Cartensz membutuhkan kemampuan dalam memanjat dan mengelola tali-temali.
Sebab, untuk menuju ke puncak seorang pendaki akan melalui medan dengan tingkat kesulitan yang hampir komplit. Mulai dari jarak hiking yang lebih pendek, jalur curam dan berbatu, medan tebing yang memaksa setiap pendaki harus bisa menggunakan tali temali, memanjat dan menghindari resiko jatuhnya bebatuan ditambah kondisi cuaca yang selalu berubah-ubah.
Keberhasilan Betho dan Simon sampai di puncak tertinggi itu tentu tidak terlepas dari kerja sama tim yang sangat epik, juga tidak terlepas dari dorongan PT. Tropis Cartensz Jaya.
Betho pun berterima kasih kepada semua pihak yang teribat serta bekerja sama dalam pendakian tersebut.
Betho mengatakan, saat ini mereka teah membentuk operator lokal yang akan menjadi rumah bagi para generasi muda di bawah kaki gunung Cartensz untuk mengelola wisata pendakian itu.
Betho menerangkan, jasa operator pendakian yang diberi nama Treking Beanal Nemangkawi Ningok ini akan berjala berdampingan dengan PT. Tropis Cartensz Jaya dalam mengelola wisata pendakian ke Puncak Cartensz.
Selanjutnya, Simon Beanal yang juga merupakan Guide lokal di bawah bendera Treking Beanal Nemangkawi Ningok juga mengakui jika tidak mudah untuk menaklukkan Pubncak Cartensz.
"Kemarin waktu summit itu memang susah sekali tapi puji tuhan kami bisa sampai di puncak," tuturnya.
Sementara itu, Billy Beanal yang bertugas membantu mengurus semua urusan mengenai transportasi bagi para pendaki dari Timika ke Basecamp Yellow Valey dalam pendakian ini menyampaikan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada PT. Tropis Cartensz Jaya atas niat mulianya mendorong SDM lokal sehingga tidak menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Menurut Billy, PT. Tropis Cartensz Jaya telah melihat potensi anak-anak lokal yang bisa didorong untuk mengelola wisata pendakian tersebut.
Bahkan, dibentuknya Treking Beanal Nemangkawi Ningok tidak terlepas dari dorongan perusahaan operator pendakian milik Irfan tersebut.
"Jadi selama beberapa waktu ini saya ikuti, memang ada semangat yang tumbuh dari teman-teman, ternukti dari kerja keras, komunikasi dan sebagainya yang selalu berjalan dengan lancar," tutur Billy.
Billy pun berharap agar kolaborasi antara Treking Beanal Nemangkawi Ningok dan PT. Tropis Cartensz Jaya dapat terus berjalan dan tetap menyuguhan yang terbaik.
"Karena dua-duanya anak-anak lokal, saya tidak bilang PT. Tropis dari mana dan bendera lokalyang sekarang dibangun ini dari mana. Tapi bagaimana dua bendera ini ke depan tetap saling membangun dan tetap jalan," ujar Billy.
*Cikal Bakal Dibukanya Jalur Tsinga Menuju Piramida Cartensz*
Setelah berhasil menaklukkan Puncak Cartensz, muncul keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan dan keterampilannya dalam mengelola wisata pendakian.
Jika sebelumnya jalur pendakian ke Piramida Cartensz bukan melalui jalur trekking melainkan dengan menggunakan helikopter dari Mimika dan langsung turun di basecamp Yellow Valey atau Lembah Kuning, ke depan Betho dan kawan-kawan akan membuka jalur pendakian dari Kampung Tsinga di Distrik Tembagapura.
Jalur ini menurut Betho akan melewati sisi selatan Gunung Nemangkawi. Saat ini, mereka telah memasang tali sebagai tanda bahwa ke depan jalur tersebut akan dibuka.
"Kemarin tanggal 15 itu kita sudah lepas tali," kata Betho.
Simon juga mengungkapkan bahwa mereka melakukan upaya ini sebagai cikal bakal dibukanya jalur trekking melalui sisi selatan Kampung Tsinga.
"Jadi kita sudah kasih turun tali nanti tahun berikut baru kita naik buka jalur," tutur Simon.
Berkaitan dengan dibukanya jalur baru dari sisi selatan Kampung Tsina ini tentu akan bertabrakan dengan banyak hal. Salah satunya kondisi keamanan yang harus dipertimbangkan dengan baik dan matang.
Mengenai hal itu, Billy Beanal menyebutkan bahwa harus ada kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat setempat untuk mengamankan dan membuka jalur.
Setelah seluruh urusan itu selesai, barulah bisa dibuka secara resmi. Namun, tetap di bawah kendali operator lokal setempat yang sudah membuka jalur.
"Jadi coba kita percayakan anak-anak lokal ini untuk mengenal alam yang ada di situ dulu, mereka amankan dan buka jalur dulu baru setelah itu mau dari operator mana yang penting benderanya itu tentang pendakian bisa masuk," tutupnya.
*Kontribusi Masyarakat Adat Sangat Penting Dalam Mendorong Perekonomian serta Meningkatkan Kesejahteraan*
Dalam mengelola pariwisata di suatu daerah tentu harus mengedepankan kearifan lokal serta adat dan istiadat masyarakat setempat.
Dengan begitu, peran serta sumber daya lokal dapat diandalkan terutama dalam mendorong perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berbicara tentang wisata pendakian Puncak Cartensz, masyarakat adat harus benar-benar diberdayakan dan dibina agar mendapat tempat yang layak guna mengelola sumber daya alam di daerahnya. (*)
Editor : Gratianus Silas