CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA-Wajah pelayanan kesehatan di Provinsi Papua "masih sakit". Semangat dan konsep pembangunan kesehatan yang lebih baik selalu di dengung-dengungkan namun kondisi di lapangan tak sama. Salah satu dokter di RSUD Jayapura akhirnya ikut ngomel-ngomel.
Bagaimana tidak, jadwalnya melakukan operasi menyelamatkan pasien akhirnya batal hanya gara-gara tak ada air bersih. “Selasa air tidak mengalir dan dampaknya operasi Rabu batal karena alat dan pakaian steril tidak tersedia. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, bukan baru hari ini,” ungkap Kepala Unit Kemoterapi RSUD Jayapura, dr Jan Frits Siauta, SpB subsp (K), Finacs, kepada Cenderawasih Pos, Kamis (22/1/2026).
Ia menceritakan pada hari Selasa (20/1/2026) air tidak mengalir ke bak penampungan rumah sakit. Akibatnya, alat dan pakaian operasi tidak dapat dicuci dan disterilkan, sehingga operasi yang dijadwalkan pada Rabu (21/1) tidak bisa dilakukan.
Ia menyebutkan, Rabu harusnya dirinya menjalani operasi, yakni dua operasi tumor payudara dan satu amputasi kaki. Namun, seluruh tindakan tersebut dibatalkan akibat tidak tersedianya air.
“Masalah tersebut telah dilaporkan kepada pihak terkait di lingkungan rumah sakit, namun tidak mendapat respons yang cepat. Kekurangan air hampir setiap minggu terjadi. Di RSUD Jayapura, air bisa tidak mengalir selama 24 jam. Kalaupun mengalir, sering mati mendadak,” jelasnya.
Tak hanya air ternyata, listrik juga punya cerita yang sama. “Kalau bukan air yang tidak ada, listrik yang padam. Kadang ketika dua-duanya normal, petugas sterilisasi tidak masuk kerja. Ini seperti lingkaran setan yang terus berulang dari ganti direktur ke direktur berikutnya,” cecarnya.
Jan menegaskan, persoalan serupa telah berlangsung sejak dirinya mulai bertugas di RSUD Jayapura tahun 2018. Selama delapan tahun, masalah yang sama terus terjadi tanpa penyelesaian yang nyata. Ia berharap Pemerintah Provinsi Papua sebagai pemilik rumah sakit serius memperhatikan dan membenahi pelayanan kesehatan, khususnya di RSUD Jayapura.
“Kami tidak menuntut hal yang berlebihan, hanya pelayanan standar sesuai SOP dan standar akreditasi. Kami dididik dengan standar pelayanan yang jelas, tetapi di sini dipaksa bekerja di bawah standar,” tutupnya. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser