Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Luar Biasa! Temukan Celah Broken Link Hijacking, Bocah SD di Boyolali ini Dapat Apresiasi Langsung dari NASA

Agung Trihandono • Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:48 WIB
Ibrahim Al Abrar siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kemusu, Boyolali pamerkan surat apresiasi dari NASA. (ISTIMEWA)
Ibrahim Al Abrar siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kemusu, Boyolali pamerkan surat apresiasi dari NASA. (ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA- Luar biasa apa yang diraih bocah SD satu ini. Dimana, di saat banyak anak seusianya lebih suka menggunakan gawai untuk bermain game, anak SD di Kecamatan Kemusu, Boyolali, justru berhasil memantik perhatian badan antariksa Amerika Serikat, NASA.

 

 

Seperti dilansir Radarsolo.com, siswa berprestasi bernama Ibrahim Al Abrar tersebut sukses mendapatkan Letter of Recognition (LOR).

 

 

Itu setelah Ibrahim berhasil menemukan celah kerentanan keamanan pada sistem digital resmi milik NASA.

 

 

Surat penghargaan prestisius itu diterima Ibrahim pada 9 Juli 2026 melalui program resmi NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP) via platform Bugcrowd.

 

 

Ayah Ibrahim, Aminudin Salas (36) menceritakan awal mula anaknya tertarik menceburkan diri ke dunia IT.

 

 

Pada mulanya, Ibrahim hanya fokus belajar dasar-dasar coding sebelum akhirnya menaruh ketertarikan mendalam pada bidang cyber security.

 

 

"Terus di awal 2026 kemarin itu mulai tertarik belajar cyber security," ujar Aminudin.

 

 

Ibrahim mempelajari coding sejak kelas 4 SD secara otodidak melalui tayangan YouTube dan berdiskusi dengan teknologi AI.

 

 

Untuk bidang cyber security, siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kemusu, Boyolali ini baru menekuninya sekitar 6 bulan terakhir, tepatnya sejak awal tahun 2026.

 

Aminudin yang sehari-harinya bekerja sebagai guru program keahlian TKJ di SMKN Kemusu mengaku tidak menguasai bidang keamanan siber tersebut.

 

 

Langkah sang anak murni bersandar pada kemauan belajar mandiri di internet.

 

 

"Kalau saya background-nya jaringan, network IT. Kalau coding sama cyber security saya kurang menguasai. Jadi dia benar-benar otodidak, sama ada kakak-kakak online yang ngirimi tutorial,” beber dia.

 

 

Dukungan finansial dari orang tua pun diberikan secara bertahap.

 

 

Awalnya Ibrahim hanya bereksperimen menggunakan smartphone.

 

 

Karena layar HP terlalu kecil untuk mengetik draf kode, orang tuanya berinisiatif mencari perangkat PC (komputer) bekas agar dapat digunakan untuk memperlancar proses pembelajaran. “Pokoknya yang penting positif didukung," kata Aminudin.

 

 

Sementara itu, kerentanan yang ditemukan oleh Ibrahim merupakan jenis broken link hijacking pada situs resmi milik NASA.

 

 

Celah tersebut dilaporkan secara resmi melalui platform Bugcrowd dan membutuhkan waktu verifikasi yang cukup lama.

 

 

"Lapornya sudah hampir 2 bulan. Tapi baru dibalas kemarin tanggal 9 Juli, dapat sertifikat lolosnya," ungkap Aminudin.

 

 

Proses tersebut diakui tidak berjalan mulus. Sebelumnya, Ibrahim sudah beberapa kali mengirimkan draf laporan kerentanan.

 

 

Namun berujung ditolak atau dikategorikan sebagai laporan duplikat oleh sistem.

 

 

Barulah pada draf laporan ketiga, temuan tersebut dinyatakan valid oleh tim NASA dan langsung diapresiasi dengan pengiriman Letter of Recognition berstempel resmi NASA.

 

 

Aminudin menjelaskan, jika celah keamanan tersebut tidak segera ditambal oleh tim IT NASA, maka efeknya akan sangat berbahaya bagi publik luas.

 

 

"Kalau enggak diatasi jadi link phishing. Bisa dipakai untuk penipuan, mengatasnamakan pihak NASA untuk menipu orang-orang," jelasnya.

 

 

Ibrahim yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara ini tinggal di wilayah Dukuh Genengsari, Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu.

 

 

Dia mengaku sangat senang atas apresiasi berskala internasional tersebut.

 

 

Ibrahim kemudian menceritakan teknis bagaimana cara dirinya memindai celah di situs asing.

 

 

Metode awalnya dimulai dengan melakukan open working di platform Google, kemudian secara teliti membuka satu per satu laman website yang di dalamnya memuat tautan eksternal (external link).

 

 

Ketertarikannya pada dunia cyber security diakui lahir atas saran dari para relasi online di media sosial.

 

 

“Kesulitannya itu belum paham materi. Kadang-kadang juga nonton tutorial YouTube," tuturnya.

 

 

Ibrahim menegaskan impiannya untuk bisa menjadi seorang ahli cyber security profesional.

 

 

Ia juga menyimpan harapan besar untuk bisa ikut serta dalam ajang perlombaan resmi di bidang IT.

 

 

Meski selama ini kesempatan tersebut belum terbuka akibat adanya keterbatasan akses di wilayah pedesaan.

 

 

Guna mengasah kemampuannya, saat ini Ibrahim rutin membagikan konten edukasi pembelajaran coding lewat akun Instagram pribadinya. (*)

 

Editor : Agung Trihandono
anak sd Ceposonline.com