Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Tutup Selat Hormuz, Iran Beri Syarat Khusus bagi Negara yang Ingin Melintas

Yohanes Palen • 2026-03-11 09:38:24

Ilustrasi Selat Hormuz. (GEMINI AI)
Ilustrasi Selat Hormuz. (GEMINI AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Ketegangan perang di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran resmi menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz menyusul serangan udara besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Pemerintah Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan negara-negara masih bisa melintasi jalur perdagangan minyak dunia tersebut, namun dengan syarat tertentu.

Dalam pengumuman yang disiarkan televisi pemerintah Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), IRGC menyebut negara yang ingin memperoleh akses bebas harus terlebih dahulu mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayah mereka.

“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok,” demikian pernyataan IRGC yang disampaikan pada Senin (9/3/2026).

Selat Hormuz ditutup sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Teheran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Konflik yang terus berkecamuk sejak akhir Februari tersebut hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Jalur ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menyalurkan sekitar 20 persen perdagangan minyak global serta sebagian besar ekspor gas alam cair dunia.

Data perusahaan analisis energi Kpler yang mengoperasikan platform pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan bahwa lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun hingga 90 persen hanya dalam waktu satu minggu sejak konflik memanas.

Situasi ini berdampak besar terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hingga menembus angka lebih dari 100 dolar AS per barel akibat terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran agar tidak terus memblokir jalur perairan tersebut.

Ia mengancam akan melancarkan serangan yang “puluhan kali lebih keras” jika Iran tetap menutup Selat Hormuz.

Namun juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan menuju negara yang dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat dan Israel selama perang masih berlangsung.

“Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak dari kawasan ini diekspor ke pihak musuh dan sekutu-sekutunya hingga pemberitahuan lebih lanjut,”tutupnya. (*).

Editor : Yohanes Palen
#Perang Iran Amerika #selat hormuz