CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu gelombang reaksi beragam dari dalam dan luar negeri.
Sosok yang telah memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade itu dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Peristiwa tersebut langsung mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu respons emosional di berbagai kota di Iran, termasuk di Teheran, tempat ribuan warga turun ke jalan untuk berkabung dan mengecam serangan yang menewaskan pemimpin mereka.
Namun, tidak semua pihak di Iran menyampaikan duka atas wafatnya sang pemimpin tersebut.
Salah satu reaksi paling mengejutkan datang dari keponakan Khamenei sendiri, Mahmoud Moradkhani, seorang dokter yang bermukim di Prancis dan dikenal sebagai penentang sistem Republik Islam Iran.
Dalam wawancara via telepon dari kediamannya di Prancis utara, Moradkhani secara terbuka menyatakan rasa lega atas wafatnya sang pemimpin.
“Seperti kebanyakan rakyat Iran, saya sangat bahagia atas kematian Ali Khamenei. Saya pikir ini adalah langkah maju, sebuah harapan.” ujar Moradkhani, seperti dikutip kantor berita Agence France-Presse (AFP).
Sementara itu pernyataan tersebut mencerminkan adanya perbedaan pandangan bahkan di lingkaran keluarga dekat Khamenei, sekaligus memperlihatkan betapa terbelahnya opini publik terkait warisan politik sang pemimpin.
Moradkhani menilai kematian Khamenei dapat membuka peluang perubahan politik di Iran setelah puluhan tahun berada di bawah kepemimpinan yang kuat dan terpusat.
Meski demikian, ia mengakui bahwa konflik bersenjata dan potensi intervensi militer justru bisa memperlambat proses transisi politik.
“Perang dan intervensi militer sedikit memperlambat proses politik, dan itu memang disayangkan. Namun mungkin kita memang harus melalui tahap ini,”jelasnya.
Ia juga memprediksi bahwa rezim yang telah lama berkuasa kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan dalam situasi pasca kepergian Khamenei.
“Persaingan internal di dalam rezim sangat besar. Mereka tidak akan mampu menahannya. Rezim ini pada akhirnya harus menghilang dan menyerahkan kekuasaan kepada rakyat,”katanya.
Sementara sebagian masyarakat Iran berkabung dan menyerukan persatuan nasional, kelompok oposisi baik di dalam negeri maupun di luar negeri melihat momen ini sebagai peluang perubahan struktural dalam sistem politik negara tersebut.
Sejumlah analis menilai wafatnya Khamenei bisa menjadi titik balik besar dalam sejarah modern Iran.
Namun arah akhir transisi akan sangat ditentukan oleh dinamika elite kekuasaan, peran lembaga-lembaga strategis negara, serta respons masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian politik dan keamanan.
Dengan situasi regional yang masih memanas, Iran kini berada di persimpangan sejarah antara kesinambungan sistem lama atau memasuki fase baru dalam perjalanan politiknya. (*).
Editor : Yohanes Palen