Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Pertamax Sudah Melonjak, Apakah Harga Pertalite dan Solar Juga Akan Naik Juli 2026?

Weny Firmansyah • Senin, 29 Juni 2026 | 08:21 WIB
Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter mulai 10 Juni 2026. Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah. (Istimewa)
Pertamina menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green Rp 17.000 per liter mulai 10 Juni 2026. Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah. (Istimewa)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA— Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) yang menyentuh angka Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran meluas di tengah masyarakat. 


Dilansir dari radarsolo.jawapos.com, banyak pihak mulai berspekulasi dan mempertanyakan apakah tren kenaikan ini akan segera merembet pada jenis BBM penopang mobilitas massal, yakni Pertalite dan Solar.


Menanggapi gejolak tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga komoditas BBM bersubsidi, baik Pertalite maupun Solar, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.


Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam forum diskusi bersama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menegaskan, keputusan untuk mengunci harga Pertalite dan Solar merupakan instruksi langsung dari kepala negara. 


Langkah ini diambil agar sektor konsumsi riil masyarakat kelas menengah ke bawah tidak didera guncangan inflasi.


"Arahan Bapak Presiden, BBM subsidi tidak akan dinaikkan," ujar Bahlil.


Meski demikian, Bahlil menggarisbawahi bahwa aturan yang berbeda mutlak berlaku untuk komoditas nonsubsidi seperti Pertamax series. 


Sektor nonsubsidi dipastikan tetap tunduk pada dinamika pasar internasional dan pergerakan harga minyak mentah dunia.


Pemerintah mengakui tidak bisa terus-menerus menahan harga Pertamax dengan menambah beban intervensi anggaran. 


Jika seluruh jenis BBM dipaksa untuk disubsidi, hal tersebut dinilai akan sangat membahayakan kesehatan postur fiskal dan APBN negara akibat besarnya porsi impor minyak nasional.


Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga Pertamax dari yang semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. 


Kenaikan signifikan sebesar Rp3.950 ini terpaksa diambil demi menjamin rantai pasok dan ketersediaan barang di berbagai SPBU tetap aman terkendali.


VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengungkapkan, Pertamina sebenarnya sudah menahan laju kenaikan harga sejak Maret hingga awal Juni lalu.


Namun, eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran membuat harga minyak yang diimpor jauh melambung tinggi melampaui harga jual domestik.


“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini tidak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” jelas Sigit, beberapa waktu lalu.


Pertamina memahami bahwa menaikkan harga BBM nonsubsidi akan berdampak pada biaya produksi operasional masyarakat. 


Namun, langkah penyesuaian ini menjadi pilihan terakhir yang paling rasional agar tetap mampu mengamankan stok BBM nasional tanpa mengganggu distribusi BBM subsidi yang menjadi hajat hidup orang banyak. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#pertamax #Ceposonline.com