CEPOSONLINE.COM, BIAK – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Kamaruddin, menggagas Festival Toilet Sekolah sebagai upaya mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, dan higienis. Program ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan kebersihan, tetapi juga diarahkan sebagai gerakan sosial yang melibatkan sekolah, siswa, orang tua, dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kamaruddin dalam wawancara pada Rabu (28/10). Ia menjelaskan, Festival Toilet Sekolah lahir dari evaluasi terhadap pendekatan program yang selama ini dinilai belum cukup efektif dalam mendorong perbaikan fasilitas sanitasi di lingkungan sekolah.
Menurutnya, pendekatan berbasis gerakan diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dan kemauan bersama untuk menjaga kebersihan toilet, bukan semata-mata mengandalkan bantuan anggaran.
“Kalau pendekatan kita ini pendekatan program, itu relatif tidak berhasil. Tapi ini pendekatannya pendekatan gerakan. Artinya, ini gerakan bersama yang muncul dari bawah, ada keinginan untuk memperbaiki,” ujar Kamaruddin.
Ia menegaskan, setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak, termasuk toilet yang bersih, sehat, dan higienis. Sebab, kebersihan sanitasi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan serta membangun kebiasaan hidup bersih sejak dini.
Kamaruddin mengungkapkan, respons sekolah terhadap festival tersebut sejauh ini cukup positif. Tim yang dibentuk untuk memantau pelaksanaan kegiatan juga telah turun langsung ke sejumlah sekolah guna melihat kondisi toilet dan perkembangan perbaikannya.
Dalam festival ini, penilaian tidak berfokus pada kemegahan bangunan toilet, melainkan pada aspek kebersihan, ketersediaan air, efisiensi penggunaan air, inovasi, pemanfaatan bahan lokal, serta kemudahan akses bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah bagaimana sekolah mengelola penggunaan air agar tidak terbuang percuma. Selain itu, inovasi sederhana berbasis kearifan lokal juga mendapat perhatian, seperti pemanfaatan dedaunan tertentu untuk membantu mengurangi bau atau mengusir lalat.
“Yang paling pertama kita nilai itu tentu saja kebersihan. Kami tidak menilai megahnya toilet,” tegasnya.
Festival Toilet Sekolah ini direncanakan melibatkan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Untuk mendorong partisipasi sekolah, Kamaruddin menyiapkan hadiah sebesar Rp20 juta bagi sekolah terbaik. Selain itu, masing-masing disiapkan hadiah Rp10 juta untuk kategori toilet putra terbaik dan toilet putri terbaik.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan di sejumlah wilayah, terutama daerah yang mengalami keterbatasan sumber air bersih. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama dalam mewujudkan sanitasi sekolah yang sehat.
Lebih jauh, Kamaruddin mengatakan festival tersebut membawa tiga pesan penting, yakni meningkatkan kesadaran tentang pentingnya toilet bagi kesehatan anak, membangun tanggung jawab bersama dalam pengelolaan fasilitas sanitasi, serta menanamkan budaya bersih melalui lingkungan sekolah.
Ia berharap, Festival Toilet Sekolah tidak berhenti sebagai kegiatan perlombaan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang mendorong setiap warga sekolah untuk menjaga kebersihan fasilitas bersama.
“Ruangnya memang kecil, tetapi toilet itu penting bagi anak-anak kita. Kami ingin membangun budaya bersih, dan tempat untuk membangun budaya bersih itu adalah sekolah,” pungkasnya. (*).
Editor : Lucky Ireeuw