2.732 Siswa SMA di Biak Numfor Ikuti TKA 2026, Ini Sejumlah Kendala Yang Dihadapi

CEPOSONLINE.COM, BIAK NUMFOR - Sebanyak 2.732 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai 98 persen dari total siswa SMA di wilayah itu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor, Kamarudin, mengatakan pelaksanaan TKA telah dimulai dan diikuti oleh seluruh 19 SMA di Kabupaten Biak Numfor.
Menurut Kamarudin, meskipun TKA tidak diwajibkan bagi setiap siswa, satuan pendidikan tetap diwajibkan menyelenggarakan tes tersebut.
"Jadi, ada 2.732 siswa yang mengikuti TKA. Itu diperkirakan 98 persen dari seluruh siswa SMA, karena memang tes ini tidak wajib bagi siswa, tetapi satuan pendidikan diwajibkan melaksanakannya," ujar Kamarudin, ditemui Rabu (28/10).
Pada hari pertama pelaksanaan, sejumlah sekolah mengalami kendala teknis. Gangguan tersebut antara lain disebabkan oleh tingginya beban jaringan internet akibat pelaksanaan TKA secara serentak di seluruh Indonesia, serta pemadaman listrik di beberapa lokasi.
Meski demikian, Kamarudin memastikan kendala tersebut telah diantisipasi melalui pelaksanaan TKA susulan bagi siswa yang belum dapat mengikuti tes secara optimal.
"Karena pelaksanaannya bersamaan di seluruh Indonesia, ada sedikit kendala jaringan di beberapa sekolah. Selain itu, ada sekolah yang mengalami mati lampu. Namun, itu sudah kita antisipasi dan siswa yang terkendala akan mengikuti TKA susulan," katanya.
Kamarudin menjelaskan, pelaksanaan TKA di Kabupaten Biak Numfor sepenuhnya menggunakan sistem daring atau online. Ia mengapresiasi seluruh sekolah yang mampu menyelenggarakan tes secara online, termasuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah kepulauan.
Sejumlah titik pelaksanaan di wilayah kepulauan meliputi dua lokasi di Numfor, yakni Biak Yori dan SMA Negeri 1 Biak Barat di Kamerik, serta satu lokasi di wilayah Padaido, yaitu SMA Negeri Padaido.
Pelaksanaan TKA berlangsung selama tiga hari dengan pembagian satu mata pelajaran setiap harinya. Adapun mata pelajaran yang diujikan dalam pelaksanaan yang dijelaskan Kamarudin meliputi Matematika dan Bahasa Indonesia.
Karena keterbatasan jumlah komputer di sejumlah sekolah, peserta mengikuti tes secara bergiliran dalam beberapa sesi, mulai pagi hingga sore hari.



