CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA–Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) menggelar rapat paripurna dalam rangka penetapan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPR Papua Tahun 2026 di Gedung DPRP, Rabu (22/4/2026).
Rapat paripurna kali ini menghadirkan suasana berbeda. Para anggota DPRP perempuan tampak kompak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Papua. Penampilan tersebut menambah nuansa kultural sekaligus memperkuat semangat peringatan Hari Kartini.
Wakil Ketua I DPR Papua, Herlin Beatrix Monim, yang memimpin jalannya sidang, tampil anggun dengan balutan pakaian adat Papua. Kekompakan juga terlihat dari empat anggota Fraksi Kelompok Khusus (Poksus) DPR Papua dari jalur pengangkatan, yang mengenakan busana adat Papua dipadukan dengan batik serta aksesoris khas.
Pemandangan ini menjadi kontras dengan rapat paripurna pada umumnya, di mana para anggota dewan biasanya mengenakan pakaian formal seperti jas.
Dalam sambutannya, Herlin menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini menjadi momentum refleksi bagi perempuan, khususnya di Tanah Papua. Mengusung tema Perempuan Berdaya, Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045 ia menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan sebagai kunci kemajuan bangsa sekaligus perlindungan generasi penerus.
Menurutnya, semangat Kartini mencerminkan perjuangan perempuan dalam memperoleh hak dasar, mulai dari pendidikan, kebebasan berpikir, hingga menentukan masa depan. Namun, ia mengakui bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya tuntas.
"Perempuan hari ini bukan lagi penonton dalam pembangunan. Kita adalah penentu arah dan masa depan Papua. Karena itu, perempuan harus berani keluar dan mengambil peran strategis dalam pembangunan," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan masa kini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan zaman yang memiliki empati, menjunjung keadilan, berintegritas, serta berani mengambil keputusan.
Meski demikian, Herlin mengingatkan bahwa menjadi pemimpin tidaklah instan. Dibutuhkan proses panjang melalui penguatan kapasitas dan penempaan mental.
Lebih lanjut, ia menyampaikan tiga pesan utama khuusnya bagi perempuan Papua, yakni mengenali nilai diri, menciptakan peluang, dan terus mempersiapkan diri. "Jangan pernah merasa kecil atau tidak mampu. Perempuan Papua diciptakan bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penentu. Jangan menunggu peluang, melainkan berani menciptakan kesempatan di berbagai bidang. Yang terpenting, terus mempersiapkan diri, karena masa depan hanya diberikan kepada mereka yang siap," tegasnya.
Herlin juga menekankan bahwa perjuangan kesetaraan gender bukan hanya tanggung jawab perempuan, tetapi seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, pemerintah, hingga lembaga keagamaan.
"Ketika perempuan maju, keluarga menjadi kuat, masyarakat bertumbuh, dan bangsa menjadi kokoh. Perempuan Papua harus bersuara untuk kebenaran dan tampil di garis depan sebagai pelopor. Masa depan Papua tidak hanya ditentukan laki-laki, tetapi oleh laki-laki dan perempuan yang berjalan beriringan," pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw