Dari Kecintaan pada Kopi hingga Membangun Usaha, Paulus Youw Pilih Jadi Barista 

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 15:30 WIB
Barista asal Dogiyai, Paulus Youw saat melayani pembeli di stand Cafe pernah singgah di samping aula Gereja Katolik KSK Nabire pada acara Festival Kopi Papua Tengah. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Barista asal Dogiyai, Paulus Youw saat melayani pembeli di stand Cafe pernah singgah di samping aula Gereja Katolik KSK Nabire pada acara Festival Kopi Papua Tengah. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

 
CEPOSONLINE.COM,  NABIRE –
Berawal dari usaha sederhana berjualan kopi menggunakan sepeda motor saat masih kuliah, Paulus Youw kini memilih menekuni dunia barista dan membangun usaha kedai kopi bersama keluarga. 


Melalui Kedai Perna singgah di Nabire, ia tidak hanya meracik dan menyajikan kopi, tetapi juga membawa misi memperkenalkan kopi Arabika asal Kabupaten Dogiyai agar semakin dikenal masyarakat luas.


Ketertarikan Paulus terhadap kopi mulai tumbuh ketika masih duduk di bangku kuliah semester lima. Bersama sejumlah teman, ia mencoba merintis usaha kecil dengan berjualan kopi menggunakan sepeda motor atau yang mereka kenal sebagai kopi motoran.


Berbekal kopi sachet dan semangat untuk mencoba, mereka mulai menjajakan kopi kepada masyarakat. Usaha sederhana tersebut ternyata mampu bertahan sekitar satu tahun. 

 

Namun, kebersamaan itu akhirnya harus berakhir karena masing-masing teman melanjutkan pendidikan dan memiliki kesibukan berbeda.


Meski usaha tersebut tidak berlanjut, pengalaman itu justru menjadi awal perjalanan Paulus mengenal dunia kopi lebih dekat.


 Kebiasaan seorang teman yang hampir setiap malam menikmati kopi hitam juga semakin menumbuhkan ketertarikannya terhadap minuman yang kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya.


“Awalnya saya mengenal kopi saat kuliah semester lima. Waktu itu kami bersama teman-teman mencoba berjualan kopi motoran. Dari pengalaman itulah saya mulai tertarik dan semakin mencintai dunia kopi,” cerita Paulus kepada media ini saat ditemui di halaman Aula Gereja Katolik KSK Bukit Meriam Nabire, Jumat (30/10/2026).


Perjalanan itu kemudian menemukan arah ketika kakak laki-lakinya, Malvin You, juga memiliki kecintaan terhadap kopi dan berkeinginan membangun sebuah kedai. 


Kesamaan minat tersebut akhirnya membawa Paulus ikut mengembangkan Kedai Pernasinggah yang berlokasi di Karang Mulia, Jalan Jakarta, Nabire.


Bagi Paulus, keputusan menjadi barista bukan sekadar menjalankan pekerjaan atau mencari penghasilan. Ada kebanggaan lain yang ingin ia bawa melalui profesi tersebut, yakni memperkenalkan kopi dari daerah asalnya, Kabupaten Dogiyai.


Bersama Kedai Pernasinggah, ia memilih berjalan bersama brand Kopi P5, kopi asal Dogiyai yang menurutnya memiliki sejarah panjang dan dikenal oleh masyarakat lintas generasi.


Baginya, Kopi P5 bukan sekadar produk yang disajikan kepada pelanggan. Di dalamnya terdapat cerita tentang daerah dan perjalanan masyarakat yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.


“Kami tumbuh bersama Kopi P5 dari Dogiyai. Kopi ini sudah dikenal sejak generasi orang tua kami. Karena itu, menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami bisa memperkenalkan dan menyajikannya di kedai sendiri,” ungkapnya.


Menurut Paulus, kopi lokal perlu mendapatkan ruang lebih luas agar semakin dikenal masyarakat. Melalui kedai yang dibangunnya bersama keluarga, ia ingin mengambil bagian dalam memperkenalkan potensi kopi Dogiyai sekaligus mendorong produk lokal memiliki tempat di tengah perkembangan industri kopi.


“ Jadi kami kenalkan varian Kopi Modio Original, Kopi Idakebo original, dan tentunya ko P5 Moanemani,” ungkapnya.


Pilihan menjadi barista dan membangun usaha sendiri tentu bukan tanpa tantangan. Paulus mengakui, ada banyak kesempatan pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan lebih menjanjikan. Namun, ia memilih tetap menjalani usaha yang dibangun bersama keluarga, meskipun hasil yang diperoleh belum selalu besar.


“Memang ada pekerjaan lain yang menawarkan penghasilan lebih baik. Tetapi saya memilih membangun usaha bersama keluarga dan ikut memperkenalkan potensi daerah sendiri. Bagi saya, pilihan ini memiliki kebanggaan tersendiri,” katanya.


Pengalaman merintis usaha tersebut juga membentuk pandangannya tentang masa depan anak muda Papua. Ia berharap generasi muda tidak hanya menggantungkan harapan pada pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau bekerja di perusahaan swasta.


Menurutnya, masih banyak peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui usaha mandiri. Bahkan, usaha sederhana seperti berjualan pinang, es, maupun membuka kedai kecil dapat menjadi sumber penghasilan apabila dikelola dengan serius.


Namun, semangat memulai usaha juga harus disertai pengetahuan yang cukup. Paulus menilai manajemen bisnis menjadi salah satu hal penting yang perlu dipelajari anak muda Papua agar usaha yang dibangun tidak hanya berjalan sesaat, tetapi dapat berkembang dan memberikan keuntungan.


“Manajemen bisnis itu penting sekali untuk dipelajari. Sekecil apa pun usaha yang kita bangun, kalau dikelola dengan baik, tentu ada peluang untuk berkembang,” tambahnya.


Di Kedai Pernasinggah, Paulus bersama keluarga terus mengembangkan berbagai pilihan menu kopi sesuai selera pelanggan. Meski belum memiliki mesin espresso modern seperti sejumlah kedai kopi lainnya, mereka tetap mengandalkan kreativitas dengan peralatan sederhana melalui metode penyeduhan manual atau manual brew.


Keterbatasan fasilitas tidak membuat Paulus berhenti mengembangkan usahanya. Ia justru ingin menunjukkan bahwa membangun kedai kopi tidak harus dimulai dengan peralatan mahal atau modal besar. Hal terpenting adalah keberanian memulai, kemauan belajar, dan konsistensi dalam menjalankan usaha.


Kesempatan mengikuti Festival Kopi Papua Tengah pertama tahun 2026 di Nabire menjadi pengalaman tersendiri bagi Paulus. Dalam kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah tersebut, ia menjadi satu-satunya barista asli Papua yang hadir dan mengikuti lomba barista.


Keikutsertaannya bukan hanya menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga ruang untuk memperluas pengalaman, bertemu dengan sesama pelaku kopi, serta memperkenalkan kopi lokal Dogiyai kepada masyarakat yang lebih luas.


“Saya senang bisa terlibat dalam festival ini. Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan bagi kami untuk belajar, bertemu dengan sesama pelaku kopi, dan memperkenalkan kopi dari daerah sendiri,” ujarnya.


Ia berharap Festival Kopi Papua Tengah dapat terus diselenggarakan sehingga semakin banyak petani, pelaku usaha, dan barista muda dari delapan kabupaten di Papua Tengah mendapatkan ruang untuk memperkenalkan potensi kopi daerah masing-masing.


Bagi Paulus, perjalanan dari berjualan kopi motoran semasa kuliah hingga kini menjadi barista di Kedai Pernasinggah merupakan proses panjang yang mengajarkannya tentang keberanian memulai dan konsistensi membangun usaha.


Melalui secangkir kopi Dogiyai yang disajikan di kedainya, ia ingin menunjukkan bahwa anak muda Papua memiliki banyak peluang untuk membangun masa depan. Tidak harus selalu menunggu kesempatan kerja datang, tetapi juga berani menciptakan peluang dari potensi yang ada di sekitar mereka.


“Jangan takut memulai usaha dari kecil. Kita tidak harus menunggu menjadi PNS atau bekerja di perusahaan. Kalau punya niat, kemauan, dan mau belajar, kita juga bisa membangun usaha sendiri,” tutup Paulus. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Papua Tengah Ceposonline.com NABIRE kopi