Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Di Usia Senja, Petani Kopi Siriwo Matias Bunai Menanam Kopi untuk Warisan Anak Cucu

T
Penulis: Theresia F. Tekege❯
Petani Kopi Siriwo asal Kampung Diyaikunu, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Matias Bunai foto bersama dengan pendamping kopi dari dinas Perkebunan Kabupaten Nabire dalam Stand Kabupaten Nabire pada Festival Kopi Papua Tengah, Jumat, (30/10/2026).  (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F.TEKEGE)
Petani Kopi Siriwo asal Kampung Diyaikunu, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, Matias Bunai foto bersama dengan pendamping kopi dari dinas Perkebunan Kabupaten Nabire dalam Stand Kabupaten Nabire pada Festival Kopi Papua Tengah, Jumat, (30/10/2026).  (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F.TEKEGE) 

Advertisement

CEPOSONLINE.COM,  NABIRE – Di usianya yang semakin senja, Matias Bunai masih memiliki semangat untuk terus bekerja dan menanam. 


Bagi petani kopi asal Kampung Diyaikunu, Distrik Siriwo, Kabupaten Nabire, setiap pohon kopi yang ditanam bukan sekadar tanaman yang kelak menghasilkan buah, melainkan harapan yang sedang disiapkan untuk masa depan 10 anaknya.


Matias menyadari usianya tidak lagi muda. Namun, keadaan itu tidak membuatnya berhenti memikirkan kehidupan keluarga di masa mendatang. Ia memilih memanfaatkan tanah miliknya untuk mengembangkan tanaman kopi agar kelak anak-anaknya memiliki sumber penghidupan yang bisa diteruskan.

Advertisement


Semangat itulah yang membawanya ikut ambil bagian dalam Festival Kopi Papua Tengah. Untuk pertama kalinya, kopi hasil kebunnya diperkenalkan melalui Stand Kabupaten Nabire dalam Festival Kopi Papua Tengah yang berlangsung di Nabire, Jumat (30/10/2026).


Bagi Matias, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan. Kopi yang selama ini ditanam dan dirawat di kampung akhirnya bisa diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.


“Ini pertama kali saya ikut festival. Saya senang karena kopi dari kebun sendiri bisa dipamerkan. Harapan saya, tahun-tahun ke depan festival ini semakin ramai dan kopi kami juga semakin dikenal,” ungkap Matias.

Advertisement


Di Kampung Diyaikunu, Matias mengembangkan kebun kopi di atas tanah miliknya sendiri. Hingga saat ini, ia telah menanam sekitar 700 pohon kopi dan berencana menambah jumlah tanaman tersebut secara bertahap.


Bibit kopi yang ditanamnya merupakan bantuan pemerintah. Bibit tersebut dibawa dari Nabire, kemudian disemai di sekitar rumah sebelum dipindahkan ke kebun.


“Saya mendapat bantuan bibit dari pemerintah. Bibit itu saya bawa, kemudian saya semai di rumah sebelum ditanam. Sekarang sudah sekitar 700 pohon dan ke depan saya mau tambah lagi,” katanya.


Namun, di balik ratusan pohon kopi yang tumbuh di kebunnya, tersimpan alasan yang jauh lebih besar. Matias ingin memastikan 10 anaknya memiliki masa depan yang lebih baik melalui usaha yang mulai dibangunnya sejak sekarang.

Advertisement

Artikel Terkait

Libatkan Petani Kopi dari Delapan Kabupaten, Festival Kopi Papua Tengah Promosikan Kopi Lokal

Libatkan Petani Kopi dari Delapan Kabupaten, Festival Kopi Papua Tengah Promosikan Kopi Lokal

Festival Kopi Papua Tengah 2026 menjadi ajang promosi potensi kopi lokal sekaligus mempertemukan petani, pemerintah, dan pelaku usaha untuk

Dukung Petani, Pemprov Papua Tengah Siapkan 1,25 Juta Bibit dan Perluasan 1.400 Hektare Kebun Kopi

Dukung Petani, Pemprov Papua Tengah Siapkan 1,25 Juta Bibit dan Perluasan 1.400 Hektare Kebun Kopi

Pemerintah Provinsi Papua Tengah memperkuat pengembangan komoditas kopi sebagai salah satu sektor unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan

KADIN Papua Tengah Dukung Festival Kopi dan Dorong Kopi Lokal Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

KADIN Papua Tengah Dukung Festival Kopi dan Dorong Kopi Lokal Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Papua Tengah mendukung pelaksanaan Festival Kopi Papua Tengah 2026 sebagai upaya memperkenalkan potensi ko

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer