CEPOSONLINE.COM, MERAUKE-Proyek Program Strategis Nasional (KSN) tebu di Kabupaten Merauke terus menunjukkan perkembangan.
Saat ini proyek tersebut dikelola oleh konsorsium yang terdiri dari 10 perusahaan, namun baru dua perusahaan yang telah aktif, yakni Global Papua Abadi dan Perkebunan Sumed.
Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu PIntu Provinsi Papua Selatan Petrus Assem, menyebut pembangunan pabrik penggilingan tebu ditargetkan mulai beroperasi pada Juli atau Agustus 2027.
Saat ini perusahaan masih menyelesaikan proses pelepasan kawasan yang akan digunakan untuk pembangunan pelabuhan serta kawasan industri pendukung.
Selain itu, perusahaan kini sedang melakukan survei terhadap jalur distribusi yang akan dilalui angkutan hasil produksi, termasuk melintasi Jembatan Maro Merauke.
Infrastruktur tersebut menjadi perhatian karena dikhawatirkan belum mampu menahan beban kendaraan kontainer dalam jumlah besar sehingga diperlukan kajian dan penanganan lebih lanjut.
‘’Salah satu perusahaan yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap masyarakat adat adalah Global Papua Abadi. Perusahaan menerapkan pembayaran hak ulayat berdasarkan luas lahan yang digunakan, bukan berdasarkan jumlah warga yang berada di kawasan tersebut. Pembayaran dilakukan secara bertahap mengikuti proses pembukaan dan pengelolaan lahan,’’ kata Petrus Assem, kepada wartawan di Merauke, Kamis (6/8/2026).
Dikatakan, dari sisi ketenagakerjaan, pekerjaan seperti pembersihan lahan dan pelepah tebu saat ini sebagian besar dikerjakan oleh orang asli Papua, khususnya masyarakat di sekitar lokasi proyek. Namun sebagian besar tenaga kerja tersebut masih berstatus kontrak.
Pemerintah berharap perusahaan tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal untuk pekerjaan dasar, tetapi juga memberikan pembinaan sehingga masyarakat Papua dapat menempati posisi yang lebih strategis di masa mendatang, mulai dari operator alat berat hingga jabatan manajerial.
Petrus Assem menjelaskan, PSN tebu ini diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar Rp85 triliun, menjadikannya salah satu investasi terbesar yang sedang dikembangkan di Papua Selatan.
Meski demikian, data pasti mengenai jumlah tenaga kerja yang telah terserap saat ini masih dalam proses pendataan dan akan disampaikan kemudian.
Petrus Assem mengakui masih terdapat tantangan dalam pengembangan sumber daya manusia. Sebagian pekerja lokal dinilai belum mampu bertahan lama bekerja di perusahaan, sementara untuk pekerjaan pembukaan lahan perusahaan masih banyak menggunakan tenaga kerja dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah berpengalaman di sektor perkebunan.(*)
Editor : Elfira Halifa