CEPOSONLINE.COM, MERAUKE- Panglima Kodam XXIV/Mandala Trikora, Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia meminta jika ada menggelar nonton bareng terkait dengan Film Pesta Babi agar pihaknya juga diundang untuk sama-sama menyaksikan film tersebut.
‘’Kalau ada, yang nonton bareng, undang kami untuk sama-sama menonton kemudian kita diskusi dengan forum terbuka. Kita siap,’’ tandas Pangdam XXIV Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia menanggapi pertanyaan wartawan seusai meresmikan Rehabilitasi Panti Asuhan Abba Merauke, Jumat (29/5/2026).
Pangdam menengaskan, pihaknya tidak melakukan pelarangan ketika ada yang mau putar dan nonton bareng. Bahkan dia mengimbau jika ada yang mau menggelar nonton bareng untuk ikut mengundang pihaknya.
‘’Sekali lagi, saya imbau kalau ada masyarakat yang menonton Film Pesta Babi, undanglah kami dan marilah kita berdiskusi seperti di tempat lain. Duduk setelah menonton. Benar nggak. Kita ini pelaku-pelaku sejarah di lapangan. Kalau yang disana, omong dan sebagainya. Mungkin dengan keterbatasan informasi yang dimiliki. Tapi kalau di Papua apalagi di Merauke, tempat kejadian ayo mari kita disksusi,’’ pintanya.
‘’Mari, saya nyakin dan percaya, tidak ada tanda-tanda, tidak ada informasi yang saya terima, tidak tanda-tanda yang saya terima untuk menonton film pesta babi itu. Karena mereka sudah tahu. Masyarakat asli sudah tahu kenyataannya di lapangan bagaimana. Lain kalau di luar Papua, pasti sangat penasaran karena ketidaktahuan. Kalau kita, pelaku sejarah disini. Kita yang datang di lapangan tahu bagaimana kebenaran film itu,’’ tandasnya.
Dikatakan Pangdam, film pesta babi tersebut adalah sebuah video yang ada benar dan ada salahnya. ‘’Dan kalau kita yang ada di lokasi dan bersama-sama dengan masyarakat menurut saya, film itu banyak kelirunya,’’ katanya.
Pangdam menyoroti keterlibatan Mama Sinta dalam Film Pesta Babi tersebut. Karena yang menjadi pertanyaan, apakah Mama Sinta punya hak ulayat di lokasi tersebut atau tidak.
‘’Pertanyaan saya, apakah mama Sinta mempunyai hak ulayat di situ. Kan tidak ada sama sekali. Tapi yang menjadi aktor beliau. Iya kan. Kalau tidak punya hak ulayat di situ dan menjadi aktor, mohon maaf saja. Bisa dalam tanda kutip, ada apa dibalik itu. Rekan-rekan wartawan yang bisa menjawabnya,’’ katanya.
Di satu sisi, lanjut jenderal bintang dua tersebut, yang punya hak uulayat sudah bisa menerima adat dan sudah bisa membuat acara dan sudah berjalan. Namun menurutnya, ada segelintir orang yang masuk angin.
‘’Menurut saya ada yang masuk angin untuk film pesta babi itu. Siapa aktor utama. Mama Sinta apakah punya hak ulayat di situ. kalau mama Sinta punya hak ulayat yang sedang digarap pemerinttah pusat ok. Tapi ini sama sekali tidak ada hak ulayat mama Sinta situ. Terus kenapa kita memperbesar masalah itu,’’ jelasnya.
Dikatakan, maksud dan perintah pemerintah pusat sangat luar biasa. Karena sekian puluh triliun begitu besar anggaran untuk memajukan Provinsi Papua Selatan.
‘’Mohon maaf, kalau kita bicara ke belakang, banyak yang teriak Pemerintah Pusat tidak memperhatikan Papua. Saat memperhatikan dan bikin proyek di palang. Ini bagaimana nih. Kita harus menanggapi ini dengan pikiran yang sejuk, tenang dan baik. Karena kita ketinggalan dan jauh dari yang lain. Tapi ketika banyak anggaran yang dikucurkan ke Papua, kemudian palang sana sini . dan menurut saya itu orang yang punya kepentingan di balik layar saja,’’ jelasnya.
Ditanya lebih lanjut soal dinamika di lapangan yang terjadi soal penolakan PSN tersebut, Pangdam balik bertanya siapa yang bilang banyak penolakan.
‘’Kalau menurut saya, karena sejak saya pertama menjabat di sini (Merauke,red) seminggu saya langsung meninjau lokasi PSN. Kemudian saya menemukan beberapa masyarakat di sana. Kalau dikatakan tadi banyak masyarakat yang menolak PSN, itu menurutr saya mungkin keliru pendapatnya. Sekarang PSN tetap berjalan dan nanti hasilnya masyarakat yang menolak membuka mata bagaimana hasilnya kedepan,’’ katanya.
Ditanya wartawan lebih lanjut apakah ytang menolak tersebut karena ada pihak yang menunggangi? Pangdam menjelaskan bahwa dari 6 marga yang ada, sekarang tionggal 2 marga yang menolak.
‘’Itupun dari dua marga yang melakukan penolakan itu satu atas nama Horison kita sudah melakukan pendekatan-pendekatan. Mudah-mudahan kedepan tidak ada lagi penoplakan. Karena itu kita berjalan terus,’’ pungkasnya. (*)