Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Terkait Filem Pesta Babi, Pangdam XXIV Mandala-Trikora: Kalau Ada yang Gelar Nonton Bareng, Undanglah Kami 

Yulius Sulo • Jumat, 29 Mei 2026 | 16:17 WIB
Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia
(Sulo/Ceposonline.com)  
Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia (Sulo/Ceposonline.com)  

CEPOSONLINE.COM,  MERAUKE-  Panglima Kodam XXIV/Mandala Trikora, Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia meminta jika ada menggelar nonton bareng terkait dengan Film Pesta Babi agar pihaknya juga diundang untuk sama-sama menyaksikan  film tersebut.  


‘’Kalau ada, yang nonton bareng, undang kami untuk sama-sama menonton  kemudian  kita diskusi dengan forum terbuka. Kita siap,’’ tandas Pangdam XXIV Mandala Trikora Mayjen TNI Frits Wilem Rizard Pelamonia menanggapi pertanyaan wartawan seusai meresmikan Rehabilitasi Panti Asuhan Abba Merauke, Jumat (29/5/2026). 
Pangdam menengaskan, pihaknya tidak melakukan pelarangan  ketika ada yang mau putar dan nonton bareng. Bahkan dia mengimbau jika ada yang mau menggelar nonton bareng untuk ikut mengundang pihaknya.  


‘’Sekali lagi,  saya imbau kalau ada masyarakat yang menonton Film Pesta Babi, undanglah kami dan marilah kita berdiskusi seperti di tempat lain. Duduk setelah menonton. Benar nggak. Kita ini   pelaku-pelaku sejarah di lapangan. Kalau yang disana, omong dan sebagainya. Mungkin dengan keterbatasan informasi yang dimiliki. Tapi kalau di Papua apalagi di Merauke, tempat kejadian ayo mari  kita disksusi,’’ pintanya. 


‘’Mari, saya nyakin dan percaya, tidak ada tanda-tanda, tidak ada informasi yang saya terima, tidak tanda-tanda yang saya terima untuk  menonton film pesta babi itu. Karena mereka sudah tahu. Masyarakat asli sudah tahu kenyataannya di lapangan bagaimana. Lain  kalau di luar Papua, pasti sangat penasaran karena ketidaktahuan. Kalau kita, pelaku sejarah disini. Kita yang datang di lapangan tahu bagaimana kebenaran film itu,’’ tandasnya.          

Dikatakan  Pangdam, film  pesta babi tersebut adalah  sebuah video yang ada benar dan ada salahnya.  ‘’Dan kalau kita yang ada di lokasi dan bersama-sama dengan masyarakat menurut  saya, film itu banyak kelirunya,’’ katanya.  
 
Pangdam menyoroti keterlibatan Mama Sinta dalam Film Pesta Babi tersebut. Karena  yang menjadi pertanyaan, apakah Mama Sinta  punya hak ulayat  di lokasi tersebut atau tidak.

  
‘’Pertanyaan saya, apakah mama Sinta mempunyai hak ulayat di situ. Kan tidak ada sama sekali. Tapi yang menjadi aktor beliau. Iya kan. Kalau tidak punya hak ulayat di situ dan menjadi aktor, mohon maaf saja.  Bisa dalam tanda kutip,  ada apa dibalik itu. Rekan-rekan wartawan yang bisa menjawabnya,’’ katanya.  


Di satu sisi, lanjut  jenderal bintang dua tersebut, yang  punya hak uulayat sudah bisa menerima adat dan sudah bisa membuat acara  dan sudah berjalan. Namun menurutnya, ada  segelintir orang yang masuk angin. 


‘’Menurut saya ada yang masuk angin untuk film pesta babi itu.  Siapa aktor utama. Mama Sinta apakah punya hak ulayat di situ. kalau mama  Sinta punya hak ulayat yang sedang digarap pemerinttah pusat ok. Tapi ini sama sekali tidak ada hak ulayat mama Sinta situ. Terus kenapa kita memperbesar masalah itu,’’ jelasnya. 

Dikatakan, maksud  dan perintah pemerintah pusat sangat luar biasa. Karena sekian puluh triliun begitu besar anggaran untuk memajukan Provinsi Papua Selatan.   


‘’Mohon maaf, kalau kita bicara ke belakang, banyak yang teriak Pemerintah Pusat tidak memperhatikan Papua. Saat memperhatikan dan bikin proyek di palang. Ini bagaimana nih. Kita harus menanggapi ini dengan pikiran yang sejuk, tenang dan baik.  Karena kita  ketinggalan dan jauh dari yang lain. Tapi  ketika banyak anggaran yang dikucurkan ke Papua, kemudian  palang sana sini . dan menurut saya  itu orang yang punya kepentingan di balik layar saja,’’ jelasnya.   

Ditanya lebih lanjut soal  dinamika di lapangan  yang terjadi soal penolakan PSN tersebut, Pangdam balik bertanya siapa yang bilang banyak penolakan. 


‘’Kalau menurut saya, karena sejak saya  pertama menjabat di sini (Merauke,red)  seminggu saya langsung meninjau lokasi PSN. Kemudian  saya menemukan beberapa masyarakat di sana. Kalau dikatakan tadi banyak masyarakat yang menolak PSN, itu menurutr saya mungkin keliru pendapatnya.  Sekarang  PSN tetap berjalan dan nanti hasilnya masyarakat yang menolak membuka mata bagaimana hasilnya kedepan,’’ katanya. 


Ditanya wartawan lebih lanjut apakah ytang menolak tersebut karena ada pihak yang menunggangi? Pangdam  menjelaskan bahwa dari 6 marga yang ada,  sekarang tionggal 2 marga yang menolak.  


‘’Itupun dari dua marga yang melakukan penolakan itu satu atas nama Horison kita sudah melakukan pendekatan-pendekatan. Mudah-mudahan kedepan tidak ada lagi penoplakan. Karena itu kita  berjalan terus,’’ pungkasnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#pesta babi #Merauke #PAPUA SELATAN