Panggilan kepemimpinan di era disrupsi

Lucky Ireeuw • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 04:51 WIB
Prof. Purnomo Yusgiantoro. (ISTIMEWA)
Prof. Purnomo Yusgiantoro. (ISTIMEWA)

Oleh Ahmad Mukhlis Yusuf *)

Jakarta, 19/9 (ANTARA) - Di tengah ketidakpastian geopolitik, krisis ekologis, dan percepatan transformasi digital global, kepemimpinan tidak lagi cukup dijalankan secara prosedural atau sekadar mengandalkan intuisi jangka pendek.

Indonesia membutuhkan arsitektur kepemimpinan nasional dan sektoral yang adaptif, berakar pada ketahanan nasional, serta mampu mengubah potensi bangsa menjadi kekuatan riil.

Buku Kepemimpinan Strategis karya Prof Purnomo Yusgiantoro yang terbit pada Juni 2026 hadir sebagai panduan fundamental untuk menjawab tantangan tersebut.

Sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi yang pernah memimpin berbagai kementerian strategis dan lembaga kajian nasional, Prof Purnomo menyajikan sintesis komprehensif antara teori kepemimpinan formal, dinamika ketahanan nasional, dan kebijakan publik.

Namun, untuk memahami daya jangkau gagasan ini secara utuh, resensi ini dilakukan dengan perspektif pemikiran dari Buku karya Zulfikar M Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf (September, 2026), The Art of Heroic Leadership yang diterbitkan oleh IPB Press.

Inti gagasan

Dalam buku Kepemimpinan Strategis, Prof Purnomo menegaskan bahwa seorang pemimpin strategis harus memiliki tiga pilar utama yaitu keterampilan visioner, kemampuan eksekusi institusional, dan pemahaman komprehensif atas dinamika geopolitik serta geostrategi.

Kepemimpinan tidak dipandang sebagai instrumen kekuasaan personal, melainkan kapasitas untuk menyelaraskan berbagai elemen bangsa, baik berupa sumber daya alam, tata kelola pemerintahan, hingga potensi sumber daya manusia, demi menjaga kedaulatan dan keberlanjutan nasional.

Purnomo menekankan pentingnya pembuatan keputusan berbasis data (evidence-based decision making) serta penguatan kelembagaan. Pemimpin strategis dituntut mampu mengantisipasi skenario masa depan, mengelola risiko sistemik, dan mengoordinasikan berbagai sektor yang sering kali bekerja dalam sekat-sekat (silos).

Perspektif The Art of Heroic Leadership

Jika karya Prof Purnomo Yusgiantoro meletakkan fondasi makro mengenai apa yang harus dibangun dan diarahkan oleh kepemimpinan strategis (struktur, strategi, dan ketahanan nasional), maka karya Zulfikar M. Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf (2026), The Art of Heroic Leadership, memperkuatnya dengan kedalaman dimensi bagaimana kapasitas batin dan hubungan antarmanusia dibentuk untuk menopang kepemimpinan tersebut.

Ada tiga titik temu teoretis dan praktis yang memperkaya pemahaman kita terhadap buku Prof Purnomo.

Pertama, dari Systemic Blindness ke Systemic Awareness.

Prof Purnomo menyoroti bahaya kegagalan membaca dinamika lingkungan strategis. Dalam The Art of Heroic Leadership, fenomena ini dijelaskan sebagai kebutaan sistemik (systemic blindness)—kondisi di mana pengambil keputusan hanya melihat gejala permukaan tanpa menyadari akar masalah yang saling terhubung.

Pemimpin strategis yang efektif harus mampu bertransisi dari kebutaan sistemik menuju kesadaran sistemik (systemic awareness). Kepemimpinan nasional tidak hanya membutuhkan analisis data formal, tetapi juga keberanian untuk melihat ke dalam (inner place of action) agar keputusan yang diambil benar-benar menjawab realitas riil masyarakat.

Kedua, heroic leadership yang ditafsirkan sebagai sinergi kepemimpinan organik dan keberlanjutan.

Kepemimpinan pahlawan dalam The Art of Heroic Leadership tidak ditafsirkan sebagai sosok pahlawan tunggal (solitary hero) yang heroik secara individualis.

Kepemimpinan diperkenalkan kembali sebagai kapasitas kolektif untuk membangun tindakan bersama yang terpercaya (trustworthy shared action). Konsep ini memperkaya kepemimpinan strategis Prof Purnomo bahwa strategi nasional tercanggih sekalipun akan stagnan jika tidak didukung oleh trust atau kepercayaan dan semangat gotong royong yang dihidupkan kembali sebagai kecerdasan kolektif (collective intelligence).

Ketiga, metodologi transformasi dan ritme HEROIC.

Untuk mengeksekusi visi strategis Prof Purnomo, The Art of Heroic Leadership menawarkan alat bantu metodologis berbasis awareness-based systems change (seperti 3D Mapping dan Quantum Mapping) serta ritme HEROIC (Heartful flow state, Envisioning, Reality check, Options Exploration, Implement strategies, and Commitment to Stewardship).

Alat-alat ini memungkinkan para pemimpin makro dan mikro memvisualisasikan kompleksitas sistem, mendengarkan suara yang selama ini tidak terdengar, serta menyelaraskan berbagai kepentingan sektoral menjadi satu gerakan transformasi yang koheren.

Kesimpulan dan implikasi strategis

Buku Kepemimpinan Strategis karya Prof Purnomo Yusgiantoro (Juni 2026) adalah karya monumental yang wajib dibaca oleh para pengambil kebijakan, akademisi, dan calon pemimpin bangsa. Buku ini memberikan panduan geopolitik dan manajerial yang kokoh untuk membangun ketahanan nasional.

Buku yang membahas kepemimpinan strategis, pengelolaan perubahan, serta penerapannya dalam konteks sipil dan militer ini juga dilengkapi dengan pemikiran tokoh-tokoh kepemimpinan dan pembahasan mengenai tantangan masa depan di era digital.

Ketika disandingkan dengan perspektif Rachman & Yusuf (September 2026) dalam The Art of Heroic Leadership, kita diajak menyadari bahwa keberhasilan kepemimpinan strategis pada akhirnya bergantung pada transformasi kesadaran para pelakunya.

Kepemimpinan strategis yang sejati lahir dari perpaduan antara ketajaman analisis geostrategis dan kemurnian kehadiran batin pemimpin yang memicu aksi bersama yang terpercaya.

Kombinasi gagasan dari kedua buku ini menyajikan kompas yang jernih dan utuh bagi para pemimpin Indonesia dalam menyongsong visi keberlanjutan dan ketahanan bangsa di masa depan.

 

*) Executive and Business Coach, Peserta PPNK 119 Lemhannas RI dan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Praktisi Coach Indonesia (APCI)

Editor : Lucky Ireeuw
digitalisasi ANTARA krisis kemanusiaan