CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Anggota Komisi II DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun melontarkan kritik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam merespons pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut Komarudin, meskipun masyarakat di desa tidak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung, dampak melemahnya rupiah tetap akan dirasakan hingga ke tingkat bawah melalui kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Karena dengan nilai rupiah anjlok seperti ini, tentu berpengaruh terhadap harga barang yang akan naik,”ungkap Komarudin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip dari CNN Indonesia.
Politikus asal Papua itu menjelaskan, penguatan dolar terhadap rupiah akan memicu kenaikan berbagai komoditas dan kebutuhan masyarakat, mulai dari BBM, minyak goreng, barang elektronik, hingga bahan pangan impor seperti gandum.
Ia menilai kondisi tersebut secara otomatis akan membebani masyarakat, termasuk warga di pedesaan yang selama ini dianggap tidak terdampak langsung oleh fluktuasi kurs mata uang asing.
“Kalau harga BBM naik, semua harga barang pasti ikut naik. Itu pasti dirasakan masyarakat,”tegas Komarudin.
Komarudin juga menegaskan bahwa kehidupan masyarakat desa saat ini sudah jauh berbeda dibanding masa lalu.
Menurut dia, warga desa kini memiliki akses informasi yang luas dan terlibat dalam aktivitas ekonomi modern, termasuk ekspor dan impor.
“Rakyat sekarang berbeda dengan dulu. Informasi sangat terbuka. Peristiwa di luar negeri saja bisa langsung diketahui masyarakat sampai di kampung,”jelas mantan anggota DPR Papua ini.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menanggapi kekhawatiran sejumlah pihak terkait pelemahan rupiah dengan menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) lalu.
“Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,”kata Prabowo.
Adapun pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari kalangan politikus dan pengamat ekonomi yang menilai stabilitas nilai tukar tetap memiliki pengaruh besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat secara luas. (*).
Editor : Yohanes Palen