CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan pentingnya penguatan kemampuan berpikir mendalam (deep thinking) dan berpikir sistemik (system thinking) bagi aparatur sipil negara (ASN) dalam menghadapi tantangan global di era digital.
Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Wamen Stella menekankan bahwa pembelajaran saat ini tidak lagi cukup berfokus pada akumulasi informasi, tetapi pada kemampuan memproses dan memaknai informasi secara efektif.
"Cognitive science itu adalah information processing. Jadi, di dunia ini begitu banyak informasi yang masuk ke kita lewat indra, tetapi tidak semua informasi itu diolah oleh otak kita," katanya.
Pakar psikologi kognitif itu menjelaskan bahwa derasnya arus informasi, terutama melalui platform digital, telah mempengaruhi kemampuan fokus individu.
Menurut dia, penurunan attention span menjadi tantangan utama yang berdampak pada kualitas pemahaman dan pengambilan keputusan, khususnya dalam menangani persoalan yang kompleks.
Stella menilai kondisi tersebut menuntut tidak hanya ASN untuk mampu mengelola dua sistem berpikir, yaitu berpikir cepat (fast thinking) dan berpikir lambat (slow thinking).
Dalam konteks kebijakan publik, pendekatan berpikir lambat yang analitis dan reflektif menjadi kunci dalam menghasilkan solusi yang tepat dan berkelanjutan.
"Ambil waktu untuk memastikan bahwa solusi yang diberikan bukan sekadar solusi sementara, tetapi solusi yang menyelesaikan akar permasalahan secara sistematis atau system thinking," ujar Wamendiktisaintek.
Wamen Stella juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas SDM melalui keseimbangan antara keterampilan umum (general skills), seperti berpikir kritis, komunikasi dan kepemimpinan, serta keahlian teknis (technical expertise) yang mendalam. Kombinasi keduanya menjadi fondasi dalam membangun sistem kerja yang efektif dan adaptif.
Dalam aspek tata kelola, ia menekankan perlunya pergeseran paradigma dari pengukuran berbasis input menuju pengukuran berbasis hasil (outcome).
"Keberhasilan kebijakan harus dilihat dari dampak nyata yang dihasilkan, bukan semata tingkat penyerapan anggaran," tutur Stella Christie. (*)
Editor : Agung Trihandono