Kepala SMA Negeri Meepago Ceritakan Perjuangan Anak Yatim dari Siriwo Hingga Menjadi Juara English Competition

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 16:30 WIB
Kepala SMA Negeri Meepago, Otopianus Tebai foto bersama dengan Melian Obaipa, Siswa SMA Negeri Meepago yang meraih Juara I English Competition tingkat SMA pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Papua Tengah. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Kepala SMA Negeri Meepago, Otopianus Tebai foto bersama dengan Melian Obaipa, Siswa SMA Negeri Meepago yang meraih Juara I English Competition tingkat SMA pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Papua Tengah. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Tidak ada yang langsung melihat air mata perjuangan di balik senyum Melian Obaipa ketika namanya diumumkan sebagai Juara I English Competition tingkat SMA pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Papua Tengah yang digelar di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, Kamis, (23/7/2026).


Di atas panggung, yang terlihat hanyalah seorang siswi SMA Negeri Meepago menerima penghargaan berupa perlengkapan sekolah, sertifikat, dan kesempatan mengikuti English Course melalui kerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah bersama SAPA Foundation. Namun, di balik prestasi itu, tersimpan kisah seorang anak dari Siriwo yang sejak kecil kehilangan ayahnya dan tumbuh bersama ibunya yang bekerja sebagai petani di kampung.


Perjalanan itulah yang hingga kini membekas di hati Kepala SMA Negeri Meepago, Otopianus Tebai.


Saat menceritakan Melian, raut bangga begitu jelas terlihat dari Kepala Sekolah SMA Negeri Meepago ini. Baginya, prestasi yang diraih siswinya bukan sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan, tetapi bukti bahwa mimpi seorang anak tidak pernah ditentukan oleh keadaan hidupnya.


“Kami sangat bersyukur. Sekolah ini masih umur jagung, baru sekitar lima tahun berdiri. Tetapi anak kami bisa meraih prestasi seperti ini. Melian tidak hanya tampil berpidato dalam bahasa Inggris pada Hari Anak Nasional, tetapi juga berhasil menjadi Juara I English Competition. Itu menjadi kebanggaan besar bagi kami,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2026).


Melian berhasil menjadi yang terbaik dalam kompetisi bahasa Inggris yang diikuti pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA dari Kabupaten Nabire, Deiyai, dan Dogiyai.


Namun bagi Otopianus, piala yang kini dibawa pulang Melian hanyalah akhir dari sebuah perjalanan panjang.


Ia masih mengingat bagaimana siswanya itu datang dari Siriwo, daerah yang masih cukup terisolir ke arah Paniai. Sejak kecil Melian telah kehilangan sosok ayah, sementara ibunya tetap bertahan di kampung sebagai petani. Demi bisa terus bersekolah, Melian tinggal di asrama SMA Negeri Meepago, jauh dari keluarganya.


“Dia berasal dari Siriwo. Hidup dalam keluarga yang tidak mampu. Selama liburan pun dia tidak pulang ke rumah, tetap tinggal di asrama. Itu yang membuat kami bersyukur. Anak yang punya keterbatasan ekonomi justru memiliki semangat belajar yang sangat tinggi hingga bisa meraih prestasi seperti sekarang,” tutur Otopianus.


Di mata para guru, Melian bukan hanya dikenal karena kecerdasannya dalam bahasa Inggris. Ia juga tumbuh menjadi anak yang rendah hati dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain.


“Kalau bahasa Inggris memang dia lebih menonjol dibanding pelajaran lain. Pembawaannya juga sangat baik, rajin, tekun, dan menurut,” ujarnya.


Kepercayaan yang diberikan teman-temannya menjadi bukti. Melian dipercaya menjadi ketua asrama. Tugas itu dijalankannya dengan penuh tanggung jawab.


“Kalau ada teman yang sakit, dia biasa antar ke rumah sakit, menemani makan sampai menjaga mereka. Dia anak yang suka menolong. Itu yang membuat kami bangga,” katanya.


Bagi Otopianus, karakter seperti itulah yang membuat prestasi Melian terasa lebih bermakna. Menjadi juara adalah sebuah kebanggaan, tetapi memiliki kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang jauh lebih berharga.


Ia pun percaya masih banyak anak-anak Papua yang memiliki kemampuan seperti Melian, tetapi belum memperoleh kesempatan karena keterbatasan ekonomi.


“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Lewat program-program Bapak Gubernur yang diterjemahkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, anak-anak diberi kesempatan berkembang. Potensi yang selama ini berdiam akhirnya bisa muncul. Salah satunya Melian yang mampu menunjukkan kemampuannya di depan pemerintah provinsi,” katanya.


Karena itu, Otopianus berharap perjuangan Melian tidak berhenti sampai di sini. Ia ingin siswanya terus melangkah, mengejar pendidikan yang lebih tinggi, bahkan jika suatu hari mendapat kesempatan belajar di luar negeri.


“Harapan kami, kalau ada beasiswa-beasiswa, mudah-mudahan dia diberi kesempatan. Kalau ada peluang studi ke luar negeri, kami berharap dia bisa ikut ambil bagian. Anak seperti ini harus terus diberdayakan supaya masa depannya lebih baik,” ujarnya.


Harapan itu pula yang kini sedang dipersiapkan SMA Negeri Meepago. Mulai Agustus 2026, sekolah akan membuka pendampingan belajar setiap sore untuk mata pelajaran bahasa Inggris, matematika, dan komputer.


“Kami selalu nasihati supaya anak-anak terus siap. Siap bukan hanya soal belajar, tetapi juga mental, percaya diri, dan menjaga kesehatan. Kami tidak membiasakan mereka menunggu, tetapi mengejar kesempatan dengan mencari informasi sendiri tentang perguruan tinggi maupun beasiswa,” pungkas Otopianus.


Menurutnya kisah Melian bukan hanya tentang seorang siswi yang berhasil menjadi juara tetapi itu adalah cermin bahwa di balik kampung-kampung yang jauh, di balik kehidupan yang serba terbatas, masih banyak anak Papua yang menyimpan mimpi besar. 


“ Jadi ketika kesempatan datang dan semangat mereka tidak padam, keterbatasan yang mereka alami bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah harapan untuk terus berjuang membawa perubahan untuk kampung mereka tetapi juga untuk Papua,” tutupnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
anak yatim Nabire Papua Tengah Ceposonline.com