Kepala SMA Negeri Meepago Ceritakan Perjuangan Anak Yatim dari Siriwo Hingga Menjadi Juara English Competition

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Tidak ada yang langsung melihat air mata perjuangan di balik senyum Melian Obaipa ketika namanya diumumkan sebagai Juara I English Competition tingkat SMA pada peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Papua Tengah yang digelar di SMA Negeri 1 Plus KPG Nabire, Kamis, (23/7/2026).
Di atas panggung, yang terlihat hanyalah seorang siswi SMA Negeri Meepago menerima penghargaan berupa perlengkapan sekolah, sertifikat, dan kesempatan mengikuti English Course melalui kerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah bersama SAPA Foundation. Namun, di balik prestasi itu, tersimpan kisah seorang anak dari Siriwo yang sejak kecil kehilangan ayahnya dan tumbuh bersama ibunya yang bekerja sebagai petani di kampung.
Perjalanan itulah yang hingga kini membekas di hati Kepala SMA Negeri Meepago, Otopianus Tebai.
Saat menceritakan Melian, raut bangga begitu jelas terlihat dari Kepala Sekolah SMA Negeri Meepago ini. Baginya, prestasi yang diraih siswinya bukan sekadar kemenangan dalam sebuah perlombaan, tetapi bukti bahwa mimpi seorang anak tidak pernah ditentukan oleh keadaan hidupnya.
“Kami sangat bersyukur. Sekolah ini masih umur jagung, baru sekitar lima tahun berdiri. Tetapi anak kami bisa meraih prestasi seperti ini. Melian tidak hanya tampil berpidato dalam bahasa Inggris pada Hari Anak Nasional, tetapi juga berhasil menjadi Juara I English Competition. Itu menjadi kebanggaan besar bagi kami,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/7/2026).
Melian berhasil menjadi yang terbaik dalam kompetisi bahasa Inggris yang diikuti pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA dari Kabupaten Nabire, Deiyai, dan Dogiyai.
Namun bagi Otopianus, piala yang kini dibawa pulang Melian hanyalah akhir dari sebuah perjalanan panjang.
Ia masih mengingat bagaimana siswanya itu datang dari Siriwo, daerah yang masih cukup terisolir ke arah Paniai. Sejak kecil Melian telah kehilangan sosok ayah, sementara ibunya tetap bertahan di kampung sebagai petani. Demi bisa terus bersekolah, Melian tinggal di asrama SMA Negeri Meepago, jauh dari keluarganya.
“Dia berasal dari Siriwo. Hidup dalam keluarga yang tidak mampu. Selama liburan pun dia tidak pulang ke rumah, tetap tinggal di asrama. Itu yang membuat kami bersyukur. Anak yang punya keterbatasan ekonomi justru memiliki semangat belajar yang sangat tinggi hingga bisa meraih prestasi seperti sekarang,” tutur Otopianus.
Di mata para guru, Melian bukan hanya dikenal karena kecerdasannya dalam bahasa Inggris. Ia juga tumbuh menjadi anak yang rendah hati dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain.



