Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

MBG Harus Gerakkan Ekonomi Lokal, Mandenas: Jangan Abaikan Petani dan Nelayan 

Theresia F. Tekege • Senin, 4 Mei 2026 | 12:41 WIB
Anggota DPR RI, Yan Permenas Mandenas Saat diwawancarai usai meninjau Dapur SPPG di Nabire, Senin (4/5/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Anggota DPR RI, Yan Permenas Mandenas Saat diwawancarai usai meninjau Dapur SPPG di Nabire, Senin (4/5/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Anggota DPR RI, Yan Permenas Mandenas, menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus menjadi penggerak ekonomi lokal dengan melibatkan petani dan nelayan sebagai pemasok utama, bukan sekadar penyedia makanan bagi siswa.

Hal ini disampaikannya saat meninjau pelaksanaan program MBG di Nabire. Ia menekankan, dapur MBG yang tidak memprioritaskan tenaga kerja dan pangan lokal akan dievaluasi.

“Dapur yang tidak memprioritaskan pangan lokal dan tenaga kerja lokal, pasti kita evaluasi. Karena tujuan program ini adalah menyerap tenaga kerja, dan yang pertama harus diprioritaskan adalah orang lokal,” tegas Mandenas saat meninjau SPPG Oyehe di Nabire, Senin, (4/5/2026).

Menurutnya, program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga harus mendorong perputaran ekonomi di tingkat bawah.

“Pangan lokal harus menjadi prioritas untuk disuplai ke dapur-dapur. Mereka harus membeli dari masyarakat, baik petani, nelayan, peternak, maupun pedagang. Dengan begitu, terjadi perputaran uang di tingkat lokal dan berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.

Mandenas juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pengawasan dan kolaborasi dalam pelaksanaan program tersebut.

“Saya sarankan pemerintah daerah berkolaborasi dan melakukan pengawasan secara ketat, agar kualitas makanan dari waktu ke waktu semakin baik,” katanya.

Ia turut menyoroti perlunya penyesuaian petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan MBG di Papua, mengingat kondisi daerah yang berbeda dengan wilayah lain.

“Kita minta juknisnya dirubah untuk Papua, termasuk satuan harga per porsi, agar kualitas makanan dan porsinya ke depan lebih baik,” jelasnya.

Selain itu, Mandenas mengusulkan peningkatan kualitas menu makanan, termasuk penambahan variasi lauk dan asupan gizi tambahan bagi anak-anak.

“Kalau sekarang lauknya ayam, ke depan bisa ditambah telur, kemudian anak-anak juga diberikan susu yang mengandung vitamin D dan B. Ini penting untuk mendukung gizi mereka,” tambahnya.

Ia juga mengimbau para orang tua agar tidak khawatir terhadap kualitas makanan yang disediakan melalui program MBG di sekolah.

“Makanan yang kita cicipi seperti sayur, ayam, dan tempe, semuanya fresh. Jadi kualitasnya sudah cukup baik, tidak perlu ada kekhawatiran dari orang tua,” ujarnya.

Menurut Mandenas, program MBG juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga, khususnya bagi orang tua yang tidak sempat menyiapkan sarapan bagi anak-anak sebelum berangkat ke sekolah.

“Dengan adanya MBG, anak-anak tetap bisa makan di sekolah. Ini juga bisa mengurangi pengeluaran rumah tangga, apalagi bagi keluarga dengan jumlah anak yang banyak,” pungkasnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
#Yan Mandenas #NABIRE #Mbg