CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Kericuhan yang terjadi di kampung Kalisusu,Kabupaten Nabire, saat bakar batu dalam rangka syukuran Bupati dan Wakil Bupati Puncak Elvis Tabuni dan Naftali Akawal periode 2025-2030, Rabu(26/3) murni terjadi karena ulah orang mabuk. Demikian disampaikan mantan Bupati Puncak periode 2023-2023 lalu Willem Wandik.
Menurutnya, aksi tersebut hanya ulah oknum yang membuat suasana menjadi kacau, tidak ada kaitan dengan pilkada 2024 lalu, sebab Pilkada sudah berjalan aman dan demokratis dan diterima oleh seluruh rakyat Kabupaten Puncak.
“Pertama-tama kami sampaikan selamat Bupati Bupati dan wakil Bupati Puncak yang terpilih,puji Tuhan, Pilkada aman dan damai, sementara soal Kericuhan di Nabire saat syukuran Bupati dan wakil Bupati Puncak itu tidak ada kaitan karena ada yang tidak senang dengan Pilkada,ini murni karena ulah orang mabuk,sehingga saya harap jangan ada pihak-pihak yang bangun konotasi yang negatif,soal peristiwa tersebut,”kata Willem Wandiik, Rabu (26/3/2025) melalui telephon selulernya.
Willem Wandik mengatakan budaya bakar batu merupakan tradisi dan ritual ini berasal dari suku-suku di wilayah Pegunungan Tengah, Dani Damal, Amungme, Moni dan suku lainnya di Pegunungan Tengah. Tradisi ini ditanamkan dan dilestarikan sampai saat ini yang diadakan pada saat ada peristiwa penting, karena didalamnya terkandung nilai kebersamaam, gotong royong, keputusan-keputusan penting. Artinya buadaya bakar batu itu sakral dan mahal, dan budaya tersebut memiliki hitoris dengan thelogia perjanjian lama dalam Alkitab.
“Hanya di wilayah gunung kita lihat ada tradisi unik bakar batu, sama seperti bangsa Israel, zaman Abraham mereka sebelum menyembah Tuhan, mereka perlu membakar batu, dan itu di wilayah pegunungan di Papua budaya bakar batu sangat sakral dan dijaga dengan baik, “ujarnya.
Sehingga adanya tradisi Bakar Batu di Kalisusu, dirinya melihat sebagai peritiwa kebersamaan, gotong royong semua warga Puncak senang dengan pemimpin baru,” Namun ada saja oknum yang berulah, yakni orang Mabuk dan ingat budaya orang mabuk bukan budaya orang gunung,”ungkapnya.
Willem Wandik mengatakan peristiwa kericuhan di Kalisusu nabire, bukan karena ada yang tidak senang dengan pemimpin, sebab Pilkada 2024 lalu sudah selesai, dan masyarakat Puncak semua sudah menerima pemimpin barunya Bapak Elvis Tabuni dan Naftali Akwal.
“ Perlu dicatat juga bahwa Pilkada 2024 merupakan moment sejarah dalam perjalanan sejarah demokrasi di Kabupaten Puncak, karena kali ini pelaksanaan Pilkada sudah berjalan dengan aman dan damai, membuktikan bahwa masyarakat Kabupaten Puncak sudah mulai bertumbuh dewasa dalam demokrasi, misalnya ada yang tidak terima dengan hasil KPU, bisa menggunakan jalur hukum ke MK,tidak menggunakan cara-cara kekerasan,” ungkapnya.
Sebagai tokoh pemekaran dan intelektual Kabupaten Puncak, Willem Wandik juga mengajak seluruh komponen masyarakat Kabupaten Puncak agar bersatu padu, mendukung Bupati dan wakil Bupati terpilih Elvis Tabuni dan Naftali Awal selama lima tahun ke depanv dengan cara ikut menjaga keamanan di Kabupaten Puncak sehingga Kabupaten Puncak tetap aman dan pembangunan bisa berjalan dengan baik,demi kesejahteraan masyarakat.
“Membangun Kabupaten Puncak,Intan Jaya, tidak mudah seperti di daerah lain, karena semua mobilisasi barang menggunakan transportasi udara, kecuali jika sudah ada jalan darat, belum lagi dengan persoalan keamanan, sehingga saran saya semua perlu mendukung orang tua ini ( bupati dan wakil bupati terpilih) , jika ada persoalan datang dan komunikasi,jangan menggunakan cara-cara kekerasan,”tuturnya.
“kabupaten Puncak ini honay kita bersama,yang perlu kita semua jaga dengan baik,sehingga program visi dan misi dari kedua pemimpin ini bisa berjalan aman dan lancar, demi mengejar ketertinggalan daerah saat ini,”tambahnya.(*)