CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Senin siang, 1 Juni 2026, terik matahari di perempatan Jalan Budi Utomo - Jalan Hassanudin, Mimika, Papua Tengah, tak menyurutkan langkah puluhan anak muda.
Berbekal kotak kardus dan spanduk sederhana, mereka mengetuk kaca mobil dan menyapa para pengendara motor.
Mereka bukan pengasong, melainkan gabungan pemuda dari 12 organisasi lintas agama yang tergabung dalam Front Aksi Kemanusiaan.
Misi mereka satu, yakni mengumpulkan rupiah demi membangun kembali Gereja Katolik Stasi Santa Fransiskus Xaverius Poumako di Distrik Mimika Timur, yang hangus terbakar pada Rabu, 27 Mei lalu.
Aksi yang direncanakan berlangsung selama tiga hari hingga Rabu, 3 Juni nanti, mengaburkan sekat-sekat perbedaan keyakinan.
Di aspal jalanan yang panas, aktivis dari PMII, PMKRI, GMNI, GMKI, IMM, hingga Pemuda Muslim Mimika (PMM) berdiri berdampingan dengan Pemuda Katolik, Barisan Merah Putih, Forum Papua Tengah Terang, Pemuda Sorong Raya, APKM, dan komunitas fans sepak bola Portugal Timika.
Kehadiran mereka mengirimkan pesan kuat tentang bagaimana toleransi seharusnya bekerja: tidak sekadar kosmetik di atas kertas, tetapi berwujud gotong royong saat musibah melanda.
Koordinator aksi yang juga Ketua Pemuda Muslim Mimika, Arifin Letsoin, menegaskan bahwa kerukunan di Mimika sedang diuji melalui arsitektur sosial yang nyata.
Baginya, terbakarnya gereja di Poumako bukan hanya duka umat Katolik, melainkan kehilangan bagi seluruh warga Mimika.
"Mari kitong (kita) berpartisipasi untuk bangun kembali tong pu (kita punya) saudara-saudara punya tempat ibadah," ujar Arifin saat ditemui di lokasi.
Gerakan tanpa patokan nominal ini menjadi simbol bahwa keikhlasan sekecil apa pun adalah batu bata pertama untuk menyusun kembali harapan warga Poumako yang kehilangan rumah ibadahnya.
Aksi solidaritas ini memperlihatkan lanskap masa depan Papua Tengah yang lebih menjanjikan.
Ketika elit politik kerap terjebak dalam narasi pembelahan, para pemuda di akar rumput justru menunjukkan kematangan dalam berdemokrasi dan beragama.
Melalui penggalangan dana ini, mereka tidak hanya sedang mengumpulkan uang untuk membeli semen dan kayu, tetapi sedang merawat fondasi sosial Mimika agar tetap kokoh dari ancaman disintegrasi.
Ke depan, puing-puing Gereja Poumako yang baru diharapkan berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai monumen hidup dari persaudaraan lintas iman yang lahir dari rahim jalanan Mimika.(*)
Editor : Weny Firmansyah