CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Nabire mengeluarkan peringatan dini terkait potensi bencana hidrometeorologi di Provinsi Papua Tengah, dengan fokus kerentanan tinggi di wilayah geografis Kabupaten Mimika.
Berdasarkan data grafis prakiraan cuaca daerah rawan bencana yang dirilis BMKG yang bersumber dari Peta Kerentanan InaRisk BNPB, wilayah pegunungan Mimika mendominasi zona merah dengan indeks bahaya tanah longsor dan banjir mencapai tingkat tertinggi (skala 0,6 hingga 1,0).
Menurut analisis BMKG, wilayah distrik pegunungan dan hulu sungai seperti Tembagapura, Hoya, Agimuga, Jila, dan Alama berada dalam status siaga tinggi akibat potensi ancaman tanah longsor.
Wilayah pedalaman ini diprediksi akan terus diguyur hujan sedang hingga hujan lebat secara konstan sejak siang, malam, hingga dini hari.
Sementara itu, wilayah dataran rendah dan pesisir Mimika menghadapi ancaman banjir yang signifikan.
Distrik-distrik padat penduduk serta pusat aktivitas ekonomi seperti Kuala Kencana, Wania, Mimika Baru, Iwaka, dan Kwamki Narama masuk dalam peta kerentanan banjir dengan indeks bahaya menengah hingga tinggi.
Kondisi ini dipicu oleh prakiraan cuaca yang menunjukkan dominasi hujan sedang hingga hujan lokal intensif pada pagi dan siang hari.
Beralih ke sektor maritim, Stasiun Meteorologi Mozez Kilangin Mimika melaporkan kondisi cuaca di perairan selatan relatif lebih terkendali, meskipun tetap memerlukan kewaspadaan.
Berdasarkan data BMKG menunjukkan bahwa Pelabuhan Poumako dan Pelabuhan Amamapare Timika diprediksi mengalami hujan ringan hingga kondisi berawan tebal sepanjang periode 28 hingga 30 Mei 2026.
Suhu di area pesisir dan pelabuhan Mimika diperkirakan berada pada kisaran 23°C hingga 28°C dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi mencapai 80% hingga 97%.
Angin permukaan bertiup dari arah Tenggara ke Barat Laut dengan kecepatan berkisar antara 5 hingga 24 kilometer per jam.
BMKG mencatat tinggi gelombang laut di Perairan Timika dan Kokonao masih berada dalam kategori rendah hingga sedang, yakni berkisar antara 0,5 hingga 1,25 meter, dengan kecepatan arus laut berkisar antara 0,84 hingga 2,00 knot.
Meskipun otoritas meteorologi mencantumkan status "Nihil" pada kolom peringatan dini darurat ekstrem di wilayah perkotaan, masyarakat yang bermukim di sepanjang lereng perbukitan Tembagapura dan daerah aliran sungai diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan penuh terhadap risiko pergeseran tanah mendadak dan luapan air sungai akibat akumulasi curah hujan tinggi. (*)
Editor : Elfira Halifa