Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Ternyata, Ini Alasan Dua Kubu Terlibat Konflik Kwamki Narama Ingin Berdamai

Wahyu Welerubun • Sabtu, 10 Januari 2026 | 13:53 WIB
Bupati Mimika Johannes Rettob. (Foto: Cenderawasih Pos/Moh. Wahyu Welerubun).
Bupati Mimika Johannes Rettob. (Foto: Cenderawasih Pos/Moh. Wahyu Welerubun).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Bupati Mimika Johannes Rettob mengungkapkan alasan dibalik kesepakatan damai yang dicapai dua kubu terlibat bentrok Kwamki Narama. 

Johannes menjelaskan bahwa kedua kubu memang menganggap bahwa perang atau konflik tersebut sebagai konflik adat. 

Sehingga, perdamaian baru akan tercapai apabila jumlah korban jiwa dari masing-masing kubu dalam konflik terbilang sama.  

Johannes memaparkan bahwa sebelumnya dalam konflik ini jumlah korban jiwa secara keseluruhan sebanyak 11 orang. 

Akan tetapi, satu orang korban meninggal dunia tidak diakui oleh kedua pihak, baik dari kubu Dang maupun kubu Newegalen. 

Karena tidak diakui, pemerintah Kabupaten Puncak pun telah mengambil alih ritual kremasi atau pembakaran mayat tersebut.  

Atas dasar inilah, kedua kubu baik Dang maupun Newegalen telah bersepakat bahwa jumlah korban jiwa dari masing-masing kelompok adalah 5. 

“Dengan dasar itu maka mereka punya niat untuk damai,” kata Johannes, Jumat 9 Januari 2026. 

Konflik yang terjadi di Kwamki Narama ini telah berlangsung sejak 31 Oktober 2025 hingga awal tahun 2026. 

Sepanjang konflik ini, selain 11 korban yang meninggal dunia, puluhan orang dinyatakan luka-luka akibat terkena anak panah. 

Johannes bilang, andai saja pemerintah dan aparat keamanan tidak bekerja keras, ada kemungkinan perdamaian ini tidak akan tercapai dan perang pun berlanjut. 

Namun, sikap tegas pemerintah dan aparat keamanan akhirnya membuahkan hasil. Menurut Johannes, untuk pertama kalinya di tanah Papua proses penyelesaian konflik dengan mengedepankan restorative dapat dilakukan dengan mempertemukan dua kubu dalam satu ruangan. 

“Ini untuk pertama kalinya sejarah perang adat di Papua kita bisa pertemukan dua pihak dalam satu ruangan,” tuturnya. 

“Ini menurut saya suatu nilai positif ke depan untuk kita menuju ke hukum positif,” pungkasnya.(*)

Editor : Weny Firmansyah
#Johanes Rettob #mimika #kesepakatan damai