Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Respon Film Pesta Babi, BTM: Papua Jangan Terus Jadi Panggung Pertengkaran Politik

Y
Penulis: Yohanes Palen❯
Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Benhur Tomi Mano bersama ratusan masyarakat saat mengelar nonton bareng "Pesta Babi", Selasa (26/5/2026) malam. (CEPOSONLINE.COM/HANS PALEN).
Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Benhur Tomi Mano bersama ratusan masyarakat saat mengelar nonton bareng "Pesta Babi", Selasa (26/5/2026) malam. (CEPOSONLINE.COM/HANS PALEN).

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua, Benhur Tomi Mano, melontarkan kritik tajam terhadap situasi sosial dan politik Papua saat merespons polemik film dokumenter Pesta Babi yang belakangan ramai diperbincangkan publik.

Pernyataan itu disampaikan dalam agenda nonton bareng film Pesta Babi yang digelar di halaman kediamannya di Jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Selasa (26/5/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga dan dilanjutkan dengan diskusi publik serta launching agenda Bulan Bung Karno 2026.

Advertisement

Dua narasumber hadir dalam diskusi tersebut, yakni wartawan senior Cenderawasih Pos, Abdel Gamel Naser dan praktisi hukum sekaligus Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Bahar Farawowan.

Diskusi menghadirkan wartawan senior Cenderawasih Pos, Abdel Gamel Naser dan praktisi hukum sekaligus Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Bahar Farawowan.
Diskusi menghadirkan wartawan senior Cenderawasih Pos, Abdel Gamel Naser dan praktisi hukum sekaligus Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Papua, Bahar Farawowan.

BTM menegaskan, dirinya hadir bukan sekadar sebagai politisi, tetapi sebagai anak Papua yang menyaksikan langsung bagaimana rakyat kecil hidup di tengah ketidakpastian, konflik, dan perebutan kepentingan.

Advertisement

“Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang tokoh politik. Tetapi saya berdiri sebagai seorang anak Papua yang lahir, besar, dan melihat sendiri bagaimana tanah ini terus berjalan di antara harapan dan luka,” ucap BTM.

BTM menilai Papua terlalu sering dijadikan objek perdebatan elite ketika muncul konflik atau kontroversi. 

Sementara suara masyarakat kecil di kampung-kampung justru kerap terabaikan.

“Ada mama-mama Papua yang hanya ingin anaknya sekolah dengan tenang. Ada anak-anak muda yang hanya ingin mendapat pekerjaan tanpa harus meninggalkan identitasnya. Ada masyarakat adat yang hanya ingin tanah leluhurnya dihormati,”kata BTM.

Menurutnya, polemik film Pesta Babi tidak boleh berhenti pada saling serang opini atau kemarahan politik semata. 

Advertisement

Artikel Terkait

Pengaduan Film Pesta Babi Berlanjut, Polda Metro Jaya akan Periksa Dandhy Laksono

Pengaduan Film Pesta Babi Berlanjut, Polda Metro Jaya akan Periksa Dandhy Laksono

Polda Metro Jaya telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap sutradara Dandhy Laksono pekan depan.

Internasionalisasi Film Pesta Babi, Pengamat Sebut Bisa Mengarah ke Disintegrasi NKRI 

Internasionalisasi Film Pesta Babi, Pengamat Sebut Bisa Mengarah ke Disintegrasi NKRI 

Publik diminta mewaspadai potensi pemanfaatan film Pesta Babi sebagai alat internasionalisasi isu Papua yang dapat mengarah pada agenda disintegrasi NKRI.

Mama Sinta Bantah Diintimidasi, Tegaskan Pergi ke Jakarta dengan Biaya Pribadi

Mama Sinta Bantah Diintimidasi, Tegaskan Pergi ke Jakarta dengan Biaya Pribadi

Tokoh perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau yang akrab disapa Mama Sinta, membantah berbagai tudingan yang menyebut dirinya mendapat intimidasi dari aparat TNI.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer