ASF Menyerang Boven Digoel, Peternak Babi di Merauke Diminta Tingkatkan  Kewaspadaan  

Yulius Sulo • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:31 WIB
Para Peternak Babi di Merauke saat mengikuti sosialisasi kewaspadaan dini terhadap ASF yang kini akan mengancam ternak babi di Merauke, Sabtu (22/8/2026) 
(CEPOSONLINE.COM/SULO) 
Para Peternak Babi di Merauke saat mengikuti sosialisasi kewaspadaan dini terhadap ASF yang kini akan mengancam ternak babi di Merauke, Sabtu (22/8/2026)  (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE –Kepala Karantina Pertanian Papua Selatan Irsan Nuhantoro meminta kewaspadaan dini terhadap African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika di Kabupaten Merauke diperkuat menyusul penyebaran penyakit tersebut di Kabupaten Boven Digoel yang kini dilaporkan telah mencapai wilayah Tanah Merah.

Irsan mengatakan, kasus kematian ternak babi pertama kali dilaporkan pada April 2026 di tujuh distrik di Kabupaten Boven Digoel. Saat itu, sekitar 1.100 ekor babi mati dengan tingkat kematian mencapai 100 persen.

“Pertama kami dilaporkan pada gelombang pertama pada April 2026 itu di Kabupaten Boven Digoel di tujuh distrik. Tingkat kematiannya di tujuh distrik itu 100 persen, kurang lebih 1.100 ekor babi mati,” ujar Irsan dalam kegiatan peningkatan kewaspadaan dini terhadap wabah penyakit babi di Merauke, yang dihadiri para peternak babi besar, Sabtu (22/8/2026). 

Menurutnya, pada awal kejadian petugas belum dapat memastikan penyebab kematian ternak tersebut karena belum diketahui apakah disebabkan ASF atau penyakit lainnya. 

Pemeriksaan dan pengambilan sampel kemudian terus dilakukan untuk memastikan penyebabnya.

Perkembangan kasus kembali terjadi pada Juli 2026 di Distrik Arimop. Menurut Irsan, kasus tersebut menunjukkan pergerakan penyakit ke wilayah yang lebih rendah dari lokasi kejadian sebelumnya.

Di Distrik Arimop, tingkat kematian juga mencapai 100 persen pada salah satu kandang. Petugas kemudian melakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium.

“Ini kejadian kedua. Jadi risiko terkait penyebaran virus pada babi ini yang kita deteksi memang itu adalah ASF. Ternyata masih bergerak ke bawah,” katanya.

Irsan menjelaskan, sebelum kasus tersebut ditemukan, pihaknya bersama Balai Veteriner dan Karantina telah melakukan pengambilan serta pemeriksaan sampel di sejumlah wilayah, termasuk Boven Digoel dan Mappi. Hasil pemeriksaan sebelumnya masih menunjukkan hasil negatif.

Namun, perkembangan kasus di Arimop kemudian menunjukkan adanya ASF. Bahkan, pada Agustus 2026 pihaknya kembali mendapatkan informasi mengenai kejadian kematian ternak babi di wilayah Tanah Merah.

“Kami mendapatkan informasi bulan ini ternyata ada kejadian juga di Tanah Merah,” ujarnya.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian serius karena Merauke memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah penopang sumber ternak babi untuk wilayah Papua.

Irsan menilai, apabila ASF sampai masuk ke Kabupaten Merauke, dampaknya sangat besar terhadap populasi ternak dan perekonomian masyarakat. Karena itu, peningkatan kewaspadaan tidak dapat ditunda.

“Merauke ini adalah penopang sumber ternak babi hampir di seluruh Papua. Kalau kita tidak meningkatkan kewaspadaan dini terhadap risiko masuk ke Merauke, ini yang nanti akan berdampak sangat besar,” tegasnya.


 Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze memastikan berdasarkan data dan informasi yang diterima pemerintah, African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika hingga kini belum masuk ke Kabupaten Merauke.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah, peternak dan masyarakat lengah. Kewaspadaan dini perlu diperkuat menyusul adanya kasus ASF di Kabupaten Boven Digoel yang dilaporkan telah berkembang hingga wilayah Tanah Merah.

“Virus babi yang sementara ini belum masuk sampai ke Merauke, menurut data dan informasi yang kita dapat. Tetapi kita juga perlu mengantisipasi. Oleh karena itu, kita ada di forum yang sangat penting ini,” ujar Yoseph. 

Menurut Yoseph, upaya pencegahan ASF menjadi penting karena Merauke dan Provinsi Papua Selatan telah ditetapkan sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Status tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan komoditas tanaman pangan seperti padi, tetapi juga mencakup sektor peternakan, perkebunan dan perikanan.

“Kalau dalam arti luas berarti kita bicara juga pertanian dengan komoditas padi, tapi juga peternakan. Peternakan ini sapi, kambing, tetapi juga babi dan juga mungkin unggas. Kita bicara tentang perkebunan, kita bicara juga tentang perikanan,” jelasnya.

Yoseph mengatakan, salah satu potensi besar yang dimiliki Kabupaten Merauke adalah sektor peternakan. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat.

Ia mencontohkan, pada momentum Hari Raya Idul Adha, produksi sapi dari Merauke mampu memenuhi kebutuhan dengan bobot ternak yang cukup tinggi. Demikian pula sektor unggas yang saat ini telah mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan telur masyarakat Merauke.

“Potensi yang kita miliki di Kabupaten Merauke yaitu potensi di bidang peternakan. Kita bisa lihat kemarin waktu Hari Raya Kurban, sapinya luar biasa dari Merauke, sampai dengan 200 kilogram lebih satu ekor,” katanya.

Menurut Yoseph, permintaan terhadap daging babi juga terus meningkat dari waktu ke waktu. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peternakan babi memiliki prospek ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat.

Karena itu, ia tidak ingin ancaman ASF justru mengganggu perkembangan sektor peternakan yang tengah tumbuh di Merauke.

“Jangan sampai masuk ke Merauke dan menyebabkan potensi yang kita miliki, terutama peternakan yang kita miliki, ternak-ternak yang kita miliki menjadi terancam,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan dampak ekonomi yang dapat dirasakan peternak apabila ASF sampai masuk dan menyebar di Merauke. Selain menyebabkan kematian ternak, wabah tersebut dikhawatirkan membuat aktivitas peternakan masyarakat menurun.

“Jangan sampai peternak kita ini menjadi lesu karena mungkin hewan peliharaannya atau peternakannya menjadi sepi karena mewabahnya ASF di Merauke,” katanya.

Untuk itu, Yoseph meminta seluruh pihak menggunakan forum tersebut untuk memahami secara menyeluruh karakteristik ASF, cara penularan, langkah pencegahan dan tindakan yang harus dilakukan apabila ditemukan indikasi penyakit.

Ia juga meminta pengawasan terhadap seluruh pintu masuk ke Merauke diperkuat untuk mencegah masuknya babi maupun produk asal babi dari daerah yang telah terjangkit ASF.

“Kalau perlu yang masuk Merauke itu disemprot dulu seperti zaman COVID dulu, sehingga ASF-nya tidak sampai ke Merauke. Tetapi kita mendengarkan penjelasan-penjelasan dulu,” ujarnya.

Menurut Yoseph, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan terhadap lalu lintas ternak dan daging babi. Perilaku masyarakat yang berpotensi menjadi media penyebaran penyakit juga perlu diperhatikan.

Pasalnya, berdasarkan penjelasan yang diterima dalam forum tersebut, penyebaran ASF dapat melibatkan berbagai media, termasuk kontak dengan babi hutan maupun serangga dan faktor lingkungan lainnya.

“Pintu-pintu masuk itu kita harus antisipasi, juga mungkin perilaku-perilaku yang bisa saja menyebabkan tersebarnya ASF di Kabupaten Merauke,” katanya. (*)

Editor : Agung Trihandono
peternakan Merauke babi