Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Mengapa Ada Orang Tetap Bahagia Meski Hidup Penuh Masalah? Ini Jawaban Psikologi

Elfira Halifa • Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:12 WIB
Ilustrasi. (X)
Ilustrasi. (X)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Di era yang serba cepat, kebahagiaan sering terasa seperti sesuatu yang mahal. Kesibukan pekerjaan, tekanan ekonomi, tuntutan keluarga, hingga banjir informasi dari media sosial membuat banyak orang merasa hidup selalu kurang. 

Tak sedikit pula yang meyakini bahwa kebahagiaan baru akan datang ketika memiliki gaji besar, rumah mewah, jabatan tinggi, atau kehidupan yang tampak sempurna.

Namun, temuan psikologi modern justru membantah anggapan tersebut.

Berbagai penelitian mengenai kesejahteraan psikologis menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak banyak ditentukan oleh besarnya pencapaian hidup, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Orang yang paling bahagia bukan berarti tidak pernah mengalami masalah, melainkan memiliki cara berpikir dan pola hidup yang membantu mereka tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.

Dikutip dari JawaPos.com, Sabtu (11/7/2026), berikut enam kebiasaan yang hampir selalu dimiliki orang-orang dengan tingkat kebahagiaan tinggi.

1. Memulai Hari dengan Rasa Syukur
Orang yang bahagia tidak selalu memiliki kehidupan yang sempurna. Mereka hanya lebih terbiasa menghargai apa yang sudah dimiliki daripada terus memikirkan apa yang belum tercapai.

Rasa syukur dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti kesehatan yang masih terjaga, keluarga yang mendukung, pekerjaan yang dimiliki, atau bahkan secangkir kopi hangat di pagi hari.

Dalam psikologi positif, kebiasaan bersyukur terbukti meningkatkan emosi positif, memperbaiki kualitas tidur, sekaligus membantu menekan stres dan kecemasan. Ketika fokus bergeser dari kekurangan menuju keberlimpahan, pikiran menjadi lebih tenang dan optimistis.

2. Menjaga Hubungan yang Bermakna
Penelitian psikologi selama puluhan tahun menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial merupakan salah satu faktor terkuat yang menentukan kebahagiaan seseorang.

Orang-orang yang bahagia belum tentu memiliki lingkaran pertemanan yang luas. Mereka lebih memilih membangun hubungan yang hangat dan tulus dengan keluarga, pasangan, sahabat, maupun rekan kerja.

Mereka menyediakan waktu untuk mendengarkan, hadir saat dibutuhkan, serta tidak ragu mengungkapkan rasa terima kasih maupun kasih sayang. Hubungan yang sehat memberikan rasa aman, dihargai, dan menjadi tempat berbagi ketika menghadapi tekanan hidup.

Sebaliknya, kesepian berkepanjangan diketahui meningkatkan risiko depresi, kecemasan, bahkan berbagai penyakit fisik.

3. Merawat Tubuh dengan Aktif Bergerak
Aktivitas fisik membantu otak melepaskan endorfin, serotonin, dan dopamin, yakni hormon yang berperan besar dalam menciptakan perasaan bahagia.

Menariknya, orang yang bahagia tidak selalu menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran. Berjalan kaki selama 20 hingga 30 menit, bersepeda santai, melakukan peregangan, yoga, atau aktivitas ringan lainnya sudah cukup memberikan manfaat.

Selain rutin bergerak, mereka juga menjaga pola makan, kualitas tidur, dan memberikan waktu istirahat yang cukup agar tubuh tetap prima.

4. Fokus Menjalani Momen Saat Ini
Salah satu kebiasaan yang paling menonjol adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap aktivitas.

Dalam psikologi, kebiasaan ini dikenal sebagai mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dialami tanpa terus-menerus larut dalam penyesalan masa lalu atau kekhawatiran terhadap masa depan.

Saat makan, mereka menikmati makanan tanpa tergesa-gesa. Saat berbicara dengan orang lain, perhatian diberikan sepenuhnya. Ketika bekerja, fokus diarahkan pada tugas yang sedang dikerjakan.

Kebiasaan sederhana ini terbukti mampu mengurangi stres, meningkatkan konsentrasi, sekaligus membuat seseorang lebih mudah menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.

5. Memiliki Tujuan yang Memberi Makna
Psikologi membedakan kesenangan sesaat dengan kebahagiaan yang bersifat jangka panjang.

Orang-orang yang bahagia umumnya memiliki tujuan hidup yang jelas. Tujuan tersebut tidak harus spektakuler. Bagi sebagian orang, makna hidup ditemukan dalam membesarkan anak, membantu sesama, mengembangkan usaha, mengejar pendidikan, atau terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Tujuan hidup memberikan arah sekaligus alasan mengapa seseorang terus berjuang. Mereka pun cenderung lebih tangguh menghadapi tekanan dan lebih cepat bangkit ketika mengalami kegagalan.

6. Gemar Berbuat Baik
Psikologi menemukan bahwa memberi kepada orang lain dapat menghadirkan kebahagiaan yang sama besarnya dengan menerima.

Karena itu, orang-orang yang bahagia terbiasa melakukan kebaikan sederhana, seperti membantu rekan kerja, memberi apresiasi, menyapa tetangga, berdonasi, atau sekadar menjadi pendengar yang baik bagi seseorang yang sedang mengalami kesulitan.

Perilaku prososial tersebut memperkuat rasa keterhubungan dengan orang lain sekaligus memunculkan kepuasan batin yang bertahan lebih lama dibandingkan kebahagiaan yang bersumber dari materi.

Kebahagiaan Dibangun, Bukan Ditunggu
Banyak orang menunda kebahagiaan sambil menunggu impian besar terwujud. Padahal, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan justru tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.

Membiasakan bersyukur, menjaga hubungan yang sehat, merawat tubuh, hidup dengan penuh kesadaran, memiliki tujuan hidup, dan berbuat baik kepada sesama merupakan fondasi penting bagi kesehatan mental dan kualitas hidup.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah kondisi tanpa masalah. Setiap orang tetap akan menghadapi kegagalan, tekanan, dan kesedihan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang memilih merespons semua itu.

Kebahagiaan sejati bukan hadir karena hidup menjadi sempurna, melainkan karena seseorang terus membangun kebiasaan yang membuatnya lebih kuat, lebih tenang, dan lebih mampu menikmati setiap perjalanan hidup. (*)

Editor : Elfira Halifa
#media sosial