CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Tak ingin Otonomi khusus (Otsus) tetapi mau 'Refrendum' suara Aliansi Selamatkan Tanah Air (SETARA) di Lingkaran Abepura, Jum'at (29/5/2026).
Aksi yang mengusung tema besar "Tolak PSN dan Militerisme" ini di komandoi, Stelnliy Dambujai sebagai korlap umum dan Kamus Bayage sebagai penanggung jawab aksi.
Dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi masa aksi secara bergantian menyampaikan orasi di hadapan massa aksi yang berkumpul di dalam pembatas tali rafia hijau.
Selain membawa sepanduk dan poster berisi aspirasi, beberapa peserta aksi tampak membawa atribut bendera dari berbagai negara termasuk Bintang Kejora.
Beberapa poin tuntutan yang tertulis jelas pada poster-poster tersebut antara lain: Otsus Gagal - Cabut Otsus, Bubarkan BAPPERIDA (Papua Benteng Iklim Dunia), Menolak segala bentuk Program Transmigrasi Patriot dan Sejenisnya di Papua karena berpotensi menghegemony dan mengkolonisasi rakyat bangsa Papua di tanah sendiri.
Selain itu, masa aksi juga menuntut pemerintah untuk penutupan perusahaan besar seperti ; Segera Tutup PT. Freeport, serta penolakan terhadap eksploitasi alam dengan slogan "Papua is Not an Empty Land, Stop Exploitation Our Natural Resource" dan "Stop Ilegal Fishing, Mining, Logging".
Massa juga menyoroti kondisi penegakan hukum melalui tulisan, RIP Demokrasi Indonesia, Rest in Peace Demokrasi & Hukum Indonesia, serta mendesak pemulangan pasukan dengan bunyi Kembalikan Militer ke Barak, Teguhkan Supremasi Sipil.
"Negara ini (Indonesia) tidak perhatikan rakyatnya (Papua). Negara ini hadir untuk kepentingan oligarki," kata Stanley dalam orasinya.
Menurutnya, Otsus hanyalah gula-gula dari pemerintah untuk rakyat Papua.
Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Sejumlah personel berseragam lengkap tampak membuat barikade pengamanan di sekitar massa aksi guna memastikan arus lalu lintas di kawasan Lingkaran Abepura tetap berjalan lancar dan mencegah terjadinya gangguan kamtibmas. (*)
Editor : Weny Firmansyah