Keerom Siapkan 15 Ribu Hektare Sawah, Konstruksi Mulai Bulan Depan

Erianto Pasae • Dipublikasikan Selasa, 28 April 2026 | 00:00 WIB
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, berbincang dengan Bupati Keerom, Piter Gusbager, saat meninjau lokasi cetak sawah di Arso Timur, Rabu (22/4). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO)
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, berbincang dengan Bupati Keerom, Piter Gusbager, saat meninjau lokasi cetak sawah di Arso Timur, Rabu (22/4). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO)

CEPOSONLINE.COM, KEEROM - Kabupaten Keerom tengah memacu langkah besar untuk menjadi pusat pangan di Papua. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Hermanto, bersama Bupati Keerom, Piter Gusbager, meninjau langsung lokasi rencana cetak sawah seluas 15.000 hektare di Arso Timur pada Rabu (22/4) lalu.

Proyek strategis ini ditargetkan memasuki tahap konstruksi fisik pada bulan depan (Mei-red). Langkah ini merupakan bagian dari visi nasional untuk menjadikan Papua sebagai lumbung pangan baru sekaligus mewujudkan kemandirian pangan di Kabupaten Keerom.

Hermanto menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya sebatas pembersihan lahan. Tapi Pemerintah menerapkan pendekatan sistematis untuk memastikan lahan dapat digunakan secara jangka panjang.

Kata Hermanto, pemerintah akan menyiapkan infrastruktur pendukung lainnya seperti saluran air yang memadai di wilayah hulu, penyediaan bibit unggul dan pupuk serta penyaluran alat dan mesin pertanian.

Terkait kepemilikan tanah, Hermanto menegaskan jika pemerintah memastikan tidak ada pengambilalihan lahan. Status lahan tetap menjadi milik masyarakat adat.

“Pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator konstruksi. Setelah sawah dicetak, pengelolaan dan kepemilikannya tetap berada di tangan masyarakat sepenuhnya," tegas Hermanto.

Kemudian Bupati Keerom, Piter Gusbager menyebutkan bahwa lahan seluas 15.000 hektare tersebut tersebar di beberapa wioayah, yakni Distrik Arso Timur - Mannem, Distrik Skanto - Arso Barat dan Distrik Senggi.

@Saat ini, proses SID telah rampung dan kesepakatan dengan pemilik ulayat telah mencapai 100 persen. Pemerintah daerah kini sedang memfinalisasi prosedur administrasi "tali asih" atau kompensasi adat antar marga,” ujarnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Keerom itu menyebutkan jika program ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain untuk menghentikan ketergantungan beras dari luar Papua, proyek ini memiliki target ekspor.

“Lokasi lahan kita hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari perbatasan negara. Secara logistik, sangat memungkinkan bagi Keerom untuk mengekspor beras ke Papua Nugini guna mendukung kebutuhan pangan di sana,” pungkasnya. (eri/wen)

Editor : AdminDua
KEEROM Piter Gusbager