15 Ribu Hektare Sawah Siap Cetak, Keerom Menuju Lumbung Pangan
Erianto Pasae• Kamis, 23 April 2026 | 08:11 WIB
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Hermanto, bersama Bupati Keerom, Piter Gusbager, saat meninjau langsung lokasi di Arso Timur, Rabu (22/4/2026). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO).
CEPOSONLINE.COM, KEEROM-Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Hermanto, bersama Bupati Keerom, Piter Gusbager, Rabu (22/4/2026), meninjau lokasi cetak sawah seluas 15.000 hektar di Kabupaten Keerom.
Tak tanggung-tangungg, proyek strategis ini ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi fisik pada bulan depan guna mendukung visi nasional menjadikan Papua sebagai lumbung pangan baru. Serta visi Bupati Keerom, menjadikan Keerom sebagai lumbung pangan di Papua.
Hermanto menegaskan bahwa pembukaan lahan sawah seluas 15.000 hektare ini tidak hanya berfokus pada pembersihan lahan (land clearing), melainkan melalui pendekatan sistematis yang mencakup infrastruktur pendukung secara menyeluruh.
Menurutnya, keberhasilan program ini bergantung pada penyediaan infrastruktur hulu seperti pembangunan saluran irigasi yang memadai untuk menjamin ketersediaan air. Kemudian penyaluran bibit unggul, pupuk, serta alat dan mesin pertanian.
"Lahan setelah dicetak harus dipastikan bisa ditanam secara berkelanjutan. Kami meminta Pemerintah Kabupaten untuk mempersiapkan petani yang akan mengelola lahan tersebut agar memberikan kontribusi nyata bagi produksi pangan di Papua," ungkap Hermanto.
Mengenai kepemilikan tanah, Hermanto maupun Bupati Gusbager memastikan bahwa proses ini telah berjalan sesuai kesepakatan dengan masyarakat adat.
Hermanto menekankan bahwa pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator konstruksi, sementara kepemilikan lahan tetap berada di tangan masyarakat.
"Tidak ada pengambilalihan lahan. Sawah yang dicetak oleh pemerintah akan diberikan sepenuhnya kepada masyarakat untuk dikelola oleh mereka sendiri," ujar Hermanto.
Bupati Keerom, Piter Gusbager, menyebut lokasi 15.000 hektare tersebut nantinya berada di wilayah adat yang meliputi Distrik Arso Timur - Mannem, Distrik Skanto - Arso Barat dan Distrik Senggi.
Orang nomor satu di Kabupaten Keerom itu menuturkan proses Survey Investigation Design (SID) telah selesai dan urusan dengan pemilik ulayat sudah mencapai kesepakatan 100 persen.
“Pemerintah daerah saat ini sedang menyelesaikan prosedur administratif terkait "tali asih" atau kompensasi adat antar marga sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah komunal,” ujar Bupati Gusbager.
Bupati dua periode itu mengatakan jika program cetak sawah ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat lokal.
Ia menyebutkan proyek ini adalah solusi untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan rumah tangga serta Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain pemenuhan kebutuhan konsumsi lokal agar Papua tidak lagi mendatangkan beras dari luar daerah, proyek ini memiliki target pasar internasional ke depannya.
“Beras dari Keerom direncanakan untuk kita diekspor juga ke Papua Nugini. Lokasi lahan kita hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari perbatasan negara, sehingga secara logistik sangat memungkinkan untuk mendukung kebutuhan pangan saudara-saudara kita di sana," pungkasnya. (*).