CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo kini harus berpisah dengan masyarakat di Kampung Skouw Yambe.
Hampir empat hari orang nomor satu di Kota Jayapura ini menginap di Kampung Skouw Yambe dalam program turun kampung (Turkam).
Selama di Kampung Skouw Yambe, Abisai Rollo telah melalukan berbagai kegiatan pelayanan publik kepada masyarakat dengan didukung oleh berbagai OPD teknis.
Sementara itu, Abisai Rollo telah memulai tidur di tiga Kampung Skouw sejak tanggal 19 Mei 2025 lalu dan telah berakhir pada Rabu (28/5/2025) kemarin.
Ia memulainya dari Kampung Skouw Sae, kemudian Kampung Skouw Mabo dan terakhir di Kampung Skouw Yambe. Abisai Rollo menginap selama tiga hari tiga malam di setiap kampung tersebut.
"Jadi ini hari terakhir saya di Kampung Skouw Yambe karena saya akan melanjutkan tidur di kampung yang lainnya,"ungkap Abisai Rollo.
Kata Abisai Rollo bahwa Kampung Skouw Yambe adalah tempat kelahirannya, ia juga telah menghabiskan masa kecilnya serta sebagai ondoafi.
"Ini hari terakhir saya di sini, saya pergi bukan untuk selamanya, tetapi pergi untuk kembali lagi,"ujar Abisai Rollo.
Menurut Abisai Rollo, masyarakat di tiga Kampung Skouw telah memilihnya sebagai Wali Kota Jayapura.
"Saya telah dipilih oleh warga di Kota Jayapura ini dan pada Pilkada lalu saya menang di semua kampung, maka sudah saatnya saya melayani dan memperhatikan semua warga di kota ini tanpa ada yang dibedakan,"tegasnya.
Ia berterima kasih kepada seluruh masyarakat di Kampung Skouw Yambe yang sudah memilihnya sebagai wali kota.
"Mungkin karena saya ondoafi makanya mereka pilih saya sebagai wali kota, dan buktinya saya menang telak di Kampung Skouw Yambe begitu juga di dua kampung lainnya Skouw Sae dan Skouw Mabo,"terangnya.
Kata Abisai Rollo bahwa pada masa kampanye ia berjanji untuk tidur di kampung-kampung selama tiga hari, sehingga atas janji politik itulah yang ia jalani saat ini.
Selama berada di kampung, ada banyak hal yang ia dengar dan lihat secara langsung. “Memang hidup di kampung itu berat, terkadang kepala kampung dan ondoafi tidak sejalan dalam membangun kampung,"ungkapnya.
Ia pun berpesan agar tiga tungku di kampung harus sejalan dan sehati, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Adapun tiga tungku yang dimaksudnya adalah, adat, gereja dan pemerintah kampung.
"Tiga tungku ini harus satu hati, satu jalan supaya kampung ini dibangun baik, kalau tidak satu hati maka itu jadi soal,"pungkas Abisai Rollo. (*).
Editor : Elfira Halifa