Tempat prostitusi Tanjung Elmo, yang berada di Sentani, Kabupaten Jayapura, telah ditutup secara resmi Pemkab Jayapura Tahun 2016. Lalu, bagaimana kondisinya sekarang ?
LAPORAN: PRIYADI - SENTANI
Nama Tanjung Elmo di Sentani, Kabupaten Jayapura, dulu begitu akrab di telinga banyak orang. Sejak awal 1980-an, kawasan di tepi Danau Sentani itu menjadi lokalisasi prostitusi terbesar di Papua.
Deretan wisma dengan nama Mawar, Melati, Anggrek menjadi simbol kehidupan malam yang semarak yang menyisakan luka sosial mendalam.
Namun, semua itu berubah sejak tahun 2015 hingga 2016. Ketika Pemerintah Kabupaten Jayapura di bawah kepemimpinan Bupati Mathius Awoitauw mengambil langkah tegas membongkar dan menutup permanen Tanjung Kiri kala itu.
Satu per satu wisma dihancurkan dengan alat berat, hingga tak bersisa. Penutupan ini disambut gembira masyarakat adat dan tokoh agama, yang menilai lokalisasi hanya membawa derita penyebaran HIV/AIDS, keretakan rumah tangga, hingga hilangnya masa depan generasi muda.
Meski begitu, tak semua menyambut gembira. Para wanita tunasusila (WTS) melayangkan protes. Mereka kehilangan mata pencaharian, sementara janji solusi dari pemerintah tak sepenuhnya hadir.
Ada yang pulang kampung ke Jawa, sebagian ke Merauke, Nabire, Timika, bahkan ada yang tetap bertahan dengan jalan hidup lain.
Hampir sembilan tahun berselang, Kamis (28/8) kemarin, wartawan Cenderawasih Pos kembali menyusuri jejak Tanjung Elmo. Lokasinya mudah dijangkau dari jalan raya Abepura–Sentani.
Namun, memasuki area bekas lokalisasi, suasana berubah drastis: jalan kecil dipenuhi rumput ilalang setinggi dada, pepohonan rimbun, dan kesunyian yang pekat.
Di tengah perjalanan, tampak beberapa warga yang masih bertahan. Mereka bukan lagi pekerja malam, melainkan petani ikan dengan usaha karamba di tepi danau.
“Sekarang, tinggal sedikit orang di sini. Yang lain sudah pergi sejak lama,” ujar Nano Baikman, seorang warga yang ditemui di lokasi.
Nano bukan orang asing di Tanjung Elmo. Dahulu, ia bekerja sebagai sekuriti di salah satu wisma.
“Dulu ada sekitar 35 wisma. Namanya macam-macam, ada Melati, Mawar, Sayang. Ramai sekali waktu itu. Saya hafal betul siapa saja yang kerja di sini,” kenangnya.
Kini, dari kemegahan yang tersisa hanya puing-puing bangunan, sebuah mushola kecil, dan beberapa rumah seadanya.
“Sejak semua dibongkar, saya kerja serabutan. Kadang jadi buruh bangunan, kadang menanam apa adanya di sini,” kata Nano dengan suara lirih.
Diakui pria yang berbadan tegap penuh bulu dada di tubuh, Tanjung Elmo yang dulu gemerlap kini berubah wajah.
“Saat malam, tempat ini seperti kuburan. Sepi sekali. Kadang saya dengar suara bayi menangis, atau ada makhluk lewat. Mungkin karena dulu ada yang pakai ilmu pengasihan untuk menarik pelanggan, lalu ditinggalkan begitu saja saat tempat ini ditutup,” tutur Nano.
Tak hanya itu, binatang buas pun sering muncul. Ular piton, patola, bahkan hewan liar lain kerap melintas di jalan yang semakin gelap. Warga pun memilih tak keluar malam.
Nano berharap, suatu hari Tanjung Elmo bisa bangkit kembali dengan wajah baru. “Kalau ada pengusaha yang mau beli tanah ini dan dijadikan hotel atau tempat wisata, tentu lebih baik. Jangan biarkan tempat ini terbengkalai seperti sekarang. Pemerintah dulu janji akan buat kawasan hijau atau wisata, tapi sampai sekarang tidak ada,” keluhnya.
Nano menyadari Tanjung Elmo adalah cerita tentang dua wajah kehidupan gemerlap hiburan malam yang berakhir dengan kehancuran, dan janji pembangunan yang tertinggal jadi angin lalu. Kini, kawasan itu hanya jadi saksi bisu tentang sebuah era yang pernah ada, dan harapan yang masih menunggu untuk diwujudkan.
“Bagi orang yang pernah ke sini, Tanjung Elmo akan selalu dikenang. Apakah ingin melampiaskan hasratnya, bercerita, kumpul sambil minum atau ngopi,”
“Tapi harapan kami, jangan biarkan tempat ini hanya jadi cerita sejarah. Biarlah suatu saat bisa berubah jadi tempat yang memberi manfaat untuk masyarakat,” tutup Nano.(*)
Editor : Elfira Halifa