Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Gua Binsari: Wisata Sejarah yang Menyimpan Jejak Perang Dunia 2 di Biak Numfor

Ismail Ceposonline • Jumat, 16 Mei 2025 - 18:54 WIB
Gua Binsari yang akrab dikenal Gua Jepang di Biak Numfor
Gua Binsari yang akrab dikenal Gua Jepang di Biak Numfor

Di balik hutan rimbun dan sejuknya udara Biak, ada sebuah tempat yang menyimpan kisah panjang tentang Perang Dunia 2 dan kehidupan masyarakat yang menjadi saksi bisu dari peperangan tersebut.

Gua Binsari, yang dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Gua Jepang, adalah salah satu situs bersejarah yang patut dikunjungi oleh siapa saja yang tertarik dengan sejarah perang dan kebudayaan lokal.

ISMAIL, BIAK NUMFOR – PAPUA

Seperti yang diceritakan oleh Yusuf Rumaropen selaku pengelola, Gua Binsari bukan hanya sekadar gua yang terletak di Biak Kota, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang mendalam, yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting pada masa Perang Dunia 2.

Gua ini, yang pada awalnya ditemukan oleh masyarakat lokal sebagai tempat tinggal dan tempat berkebun, bertransformasi menjadi salah satu lokasi strategis yang digunakan oleh tentara Jepang selama perang.

Gua yang terletak sekitar 15 hingga 20 meter di bawah tanah ini dipilih oleh tentara Jepang sebagai tempat persembunyian dan pusat logistik, di mana mereka menyimpan berbagai perlengkapan militer, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahkan bahan bakar.

“Gua ini sudah ditemukan jauh sebelum tentara Jepang datang. Warga setempat saat itu menemukan gua ini karena seekor anjing yang tiba-tiba muncul dengan tubuh basah, yang mengarah pada penemuan gua tersembunyi di balik semak-semak,” ujar Yusuf.

Gua Binsari yang akrab dikenal Gua Jepang di Biak Numfor
Gua Binsari yang akrab dikenal Gua Jepang di Biak Numfor

Sejak saat itu, gua ini pun mulai dikenal dengan nama Abyab Binsari dalam bahasa Biak, yang berarti “seorang nenek,” karena konon sering terdengar suara tangisan seorang nenek dari dalam gua.

Namun, pada masa Perang Dunia 2, Gua ini menjadi saksi bisu dari pertempuran antara pasukan Jepang dan Sekutu, yang akhirnya menyebabkan terjadinya pemboman di sekitar area tersebut.

Menurut cerita dari Yusuf, sekitar 11 ribu tentara Jepang ditempatkan di Biak dan Supiori, dengan sekitar 3.000 tentara Jepang ditempatkan di sekitar Gua Binsari.

Di tempat ini pula ditemukan banyak benda bersejarah, seperti tulang belulang tentara, granat, rudal berkarat, serta berbagai peralatan perang lainnya, yang kini dipajang dalam museum kecil di lokasi tersebut.

Meski gua ini sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1990-an, pengelolaan Gua Binsari tetap bergantung pada upaya keras dari masyarakat lokal, terutama keluarga Yusuf, yang sudah turun-temurun menjaga dan merawat situs ini.

“Kami mulai mengumpulkan benda-benda peninggalan ini sejak tahun 1980-an, sebelum ada pembangunan di sini. Kami ingin menjaga sejarah ini tetap hidup dan mengenalkan kepada generasi mendatang,” lanjutnya.

Selain menjadi saksi sejarah, Gua Binsari juga menyimpan cerita mistis yang diyakini oleh sebagian masyarakat.

Beberapa pengunjung melaporkan bahwa mereka pernah mendengar suara aneh atau bahkan melihat penampakan yang konon merupakan arwah tentara Jepang.

Cerita mistis ini menambah daya tarik wisatawan yang datang untuk merasakan pengalaman langsung di lokasi yang penuh misteri ini.

Namun, meski Gua Binsari telah menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara, Yusuf berharap ada lebih banyak perhatian dari pemerintah, baik lokal maupun internasional, untuk mendukung pengelolaan situs ini.

“Kami memerlukan bantuan untuk memperbaiki infrastruktur, seperti pemagaran untuk keamanan, serta membangun museum yang dapat menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah dengan lebih baik,” ungkap Yusuf dengan penuh harap.

Sepasang suami sitri pengelola situs wisata bersejarah Goa Jepang berdiri didepan relik bersejarah peninggalan tentara Jepang yang dipajang di pintu masuk wisata Goa Binsari ini, Rabu (14/5).
Sepasang suami sitri pengelola situs wisata bersejarah Goa Jepang berdiri didepan relik bersejarah peninggalan tentara Jepang yang dipajang di pintu masuk wisata Goa Binsari ini, Rabu (14/5).

Salah satu hal yang juga menjadi sorotan adalah masalah pengelolaan tulang belulang tentara yang ditemukan di dalam gua.

Sejak tahun 1999, sekitar 1.400 tulang belulang tentara Jepang telah dikirim ke Jepang untuk diidentifikasi dan dikremasi, meskipun Yusuf dan pihak pengelola lainnya berharap agar tulang belulang tersebut tetap berada di Biak sebagai bukti sejarah yang harus dijaga.

“Kami ingin agar benda-benda ini tetap berada di sini sebagai bagian dari sejarah. Jika ada keluarga yang ingin berziarah, mereka dapat datang ke sini,” tambahnya.

Sebagai tempat wisata sejarah, Gua Binsari juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi generasi muda.

Yusuf dan tim pengelola rutin menerima kunjungan dari sekolah-sekolah, baik dari Biak maupun daerah lainnya, untuk memberikan pengetahuan langsung tentang sejarah Perang Dunia 2, khususnya mengenai peristiwa yang terjadi di Biak.

Bagi wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi Gua Binsari, perjalanan menuju situs ini akan mengajak Anda menyusuri jalan setapak yang telah dilengkapi dengan paving blok dan tangga yang memudahkan eksplorasi di dalam gua.

Meski gua ini terletak di lokasi yang cukup gelap, terutama di siang hari karena tertutup oleh pepohonan rimbun, pengelola telah memasang pagar pengaman untuk menjaga keselamatan pengunjung.

Gua Binsari bukan hanya sekadar wisata alam, tetapi juga sebuah perjalanan waktu yang membawa kita pada kisah panjang peperangan, pengorbanan, dan warisan budaya yang tak boleh terlupakan.

Semoga situs ini tetap dijaga dan dilestarikan, sehingga dapat terus mengedukasi dan menjadi saksi sejarah yang hidup bagi generasi yang akan datang. (*)

Editor : Gratianus Silas
#gua jepang #gua binsari #Perang Dunia 2 #Ceposonline.com