Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan S2 untuk Caleg, Ini Pertimbangan Lengkapnya

W
Putusan MK, wakil rakyat tetap terbuka bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi tingkat pendidikan.(Mahkamah Konstitusi)
Putusan MK, wakil rakyat tetap terbuka bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi tingkat pendidikan.(Mahkamah Konstitusi)

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi terkait syarat pendidikan minimal bagi calon anggota legislatif yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

Permohonan tersebut diajukan oleh Ardi Usman yang meminta agar calon anggota legislatif diwajibkan memiliki pendidikan minimal strata dua (S2). Namun, MK menilai permohonan tersebut tidak memenuhi syarat hukum yang memadai.

Sebagaimana dikutip dari radarsurabaya.jawapos.com, Wakil Ketua MK, Saldi Isra, menyatakan bahwa pemohon tidak mampu menjelaskan secara rinci pertentangan norma dalam undang-undang dengan Undang-Undang Dasar 1945.

Advertisement

 “Permohonan pemohon tidak jelas atau kabur (obscuur), sehingga Mahkamah tidak mempertimbangkan lebih lanjut,” ujar Saldi Isra dalam sidang putusan.

Dalam amar putusan, Ketua MK Suhartoyo menegaskan bahwa permohonan dengan Nomor 124/PUU-XXIV/2026 dinyatakan tidak dapat diterima.

Mahkamah menilai dalil yang diajukan pemohon tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya pelanggaran konstitusi dalam ketentuan syarat pendidikan calon legislatif.

Advertisement

Ardi Usman sebelumnya mengklaim bahwa tidak adanya batas minimal pendidikan dapat menghambat kualitas demokrasi dan menutup ruang bagi kompetisi politik berbasis intelektualitas.

Dalam permohonannya, pemohon juga membandingkan tingkat pendidikan anggota parlemen di sejumlah negara seperti Iran, Ukraina, Polandia, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Ia menyebut sebagian besar anggota parlemen di negara-negara tersebut memiliki latar belakang pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang S2.

Namun, MK menilai perbandingan tersebut tidak dapat dijadikan dasar hukum untuk mengubah ketentuan di Indonesia.

Advertisement

Artikel Terkait

Ketua KADIN Waropen Andre Wonatorei Tegaskan Komitmen Perjuangkan Pengusaha Asli Papua

Ketua KADIN Waropen Andre Wonatorei Tegaskan Komitmen Perjuangkan Pengusaha Asli Papua

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Waropen, Andre Wonatorei, menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan keberpihakan terhada

Satgas Damai Cartenz Bekuk DPO Penembakan Karyawan Freeport di Mimika

Satgas Damai Cartenz Bekuk DPO Penembakan Karyawan Freeport di Mimika

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz-2026 menangkap seorang pria berinisial AK (37) yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus penemb

Polisi Percepat Proses Hukum Dua Pelajar Tersangka Pemerkosaan

Polisi Percepat Proses Hukum Dua Pelajar Tersangka Pemerkosaan

Kepolisian Resor Mimika memastikan proses hukum terhadap dua pelajar berinisial DS (18) dan OY (17) yang diduga melakukan pemerkosaan akan d

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer