Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

El Nino Ekstrem 2026 Ancam Indonesia, Bakal Terjadi Kekeringan, Krisis Air, dan Kebakaran Hutan

W
Penulis: Weny Firmansyah❯
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN) 
SAWAH KERING: Fenomena El Nino berdampak rendahnya curah hujan hingga mengakibatkan kekeringan. (NUR CAHYONO/JAWA POS RADAR PACITAN) 

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Niño ekstrem yang akan melanda Indonesia, berpotensi memicu kekeringan, krisis air bersih, dan ancaman serius lainnya di sektor lingkungan.

Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga, Hijrah Saputra sebagaimana dikutip dari jawapos.com menjelaskan El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur yang melampaui kondisi normal.

Fenomena ini menyebabkan suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat, dengan anomali mencapai 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, bahkan pada titik tertentu bisa lebih tinggi.

Advertisement

Dalam kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, El Niño termasuk dalam fenomena El Niño - Southern Oscillation (ENSO) yang berdampak luas terhadap sistem atmosfer global dan pola iklim di berbagai wilayah dunia.

Pemanasan suhu laut ini memengaruhi sirkulasi udara, sehingga distribusi curah hujan menjadi tidak merata dan meningkatkan potensi terjadinya kekeringan di sejumlah kawasan, termasuk Indonesia.

"Terjadi pengheseran pusat pembentukan awan hujan ke Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering," terang Hijrah di Surabaya, Selasa (28/4).

Advertisement

Ia menambahkan, kekuatan El Niño diukur melalui Oceanic Niño Index (ONI). Nilai di atas +0,5 derajat menandakan El Niño, sedangkan di bawah −0,5 menunjukkan La Niña, dengan kategori dari lemah hingga sangat kuat.

Potensi El Niño ekstrem juga diprediksi lembaga global National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Mereka menyebut peluang fenomena ini mencapai 62 persen pada Juni - Agustus 2026.

Hijrah Saputra menilai fenomena El Niño di Indonesia dapat memicu kemarau panjang, kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gangguan sektor pertanian dan pangan.

Selain itu, El Niño juga berdampak pada peningkatan emisi karbon dioksida secara global. Hal ini terjadi akibat meningkatnya kebakaran lahan dan hutan, serta perubahan ekosistem yang memperburuk lingkungan.

Advertisement
Editor : Weny Firmansyah

Artikel Terkait

Soal Singkong Lebih Efektif Padamkan Api Dibanding Air, Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Soal Singkong Lebih Efektif Padamkan Api Dibanding Air, Ini Penjelasan Peneliti BRIN

Soal singkong yang dianggap efektif memadamkan kebakaran di lahan gambut, sempat diragukan masyarakat. Namun hasil penelitian BRIN, menyebut

Jutaan Warga Indonesia Jadi Pencandu Narkoba, BNN Sebut Pemulihan Tak Selesai Hanya Pada Rehabilitas

Jutaan Warga Indonesia Jadi Pencandu Narkoba, BNN Sebut Pemulihan Tak Selesai Hanya Pada Rehabilitas

Pencandu Narkoba di Indonesia terus meningkat, bahkan dari  hasil Survei BNN bersama BRIN dan BPS periode 2023-2025, jumlah pencandu Narkob

Diantar Masyarakat Adat dan Pemilik Hak Ulayat, Rombongan BRIN dan Gubernur Tinjau Lokasi Pembangunan Bandar Antariksa 

Diantar Masyarakat Adat dan Pemilik Hak Ulayat, Rombongan BRIN dan Gubernur Tinjau Lokasi Pembangunan Bandar Antariksa 

Rombongan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si  dan Wakil Gubernur Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, S.P., M.Eng meninjau langsung wilayah dari dekat wilayah yang akan

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer