Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ratusan Hektare Sawah di Merauke Terancam Gagal Panen

Y
Ledung (CEPOSONLOINE.COM/SULO)    
Ledung (CEPOSONLOINE.COM/SULO)    

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Musim kemarau yang sedang berlangsung saat ini menyebabkan  petani di Merauke mulai kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah mereka.  

Sementara suplay air yang diharapkan dari Sungai Maro belum dapat dilakukan secara optimal dikarena  saluran drainase atau pengairan yang ada belum sepenuhnya dinormalisasi. 

Akibatnya, ratusan hektar tanaman padi petani di SP  SP 4 dan SP 8 Tanah Miring, Kabupaten Merauke terancam gagal panen jika dalam 2-3 kedepan saluran drainase tidak segera ditangani. 

Advertisement

 Atas kondisi tersebut,  Ketua Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) Tanah Miring Ledung  meminta pemerintah segera melakukan normalisasi drainase yang ada.   

"Kalau dalam satu sampai dua hari ini tidak tertangani, sekitar 800 hektare lahan padi bisa gagal panen karena kekurangan air," kata Ledung kepada Ceposonline.com di Merauke, Selasa (21/7/2026).   

Ledung menjelaskan,  Balai Wilayah Sungai (BWS) telah merespons hasil rapat dengan bupati Merauke beberapa waktu lalu dengan mengirimkan satu unit ekskavator ke lokasi. Namun, menurutnya, proses penanganan masih berjalan lambat sehingga belum mampu mengatasi persoalan secara optimal. 

Advertisement

Penanganan yang lambat tersebut dikarenakan BBM yang akan digunakan alat berat tersebut sudah habis.  Kebutuhan BBM diperkirakan mencapai sekitar 2.000 liter, sementara yang tersedia baru sekitar 400 hingga 600 liter. Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 1.600 liter agar pekerjaan dapat berjalan maksimal.

‘’Sekarang alat berat terparkir saja di lokasi karena BBM tidak hanya.  BBM 400 liter yang sebelumnya dibawa ke sana sudah habis,’’  katanya.    

Dijelaskan, pengadaan BBM selanjutnya  masih terkendala proses administrasi karena memerlukan surat rekomendasi.

 Hingga kini, koordinasi dengan dinas terkait dinilai belum memberikan kepastian sehingga kebutuhan operasional di lapangan belum sepenuhnya terpenuhi.
‘’Saya pikir sangat berat kalau kebutuhan BBM tersebut akan dibebankan kepada petani. Mestinya, dari pemerinta,’’ katanya. 

Advertisement
Editor : Abdel Gamel Naser

Artikel Terkait

Ketua KADIN Waropen Andre Wonatorei Tegaskan Komitmen Perjuangkan Pengusaha Asli Papua

Ketua KADIN Waropen Andre Wonatorei Tegaskan Komitmen Perjuangkan Pengusaha Asli Papua

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Waropen, Andre Wonatorei, menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan keberpihakan terhada

Satgas Damai Cartenz Bekuk DPO Penembakan Karyawan Freeport di Mimika

Satgas Damai Cartenz Bekuk DPO Penembakan Karyawan Freeport di Mimika

Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz-2026 menangkap seorang pria berinisial AK (37) yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus penemb

Polisi Percepat Proses Hukum Dua Pelajar Tersangka Pemerkosaan

Polisi Percepat Proses Hukum Dua Pelajar Tersangka Pemerkosaan

Kepolisian Resor Mimika memastikan proses hukum terhadap dua pelajar berinisial DS (18) dan OY (17) yang diduga melakukan pemerkosaan akan d

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer