Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tertekan Harga Minyak Dunia, Potensi Melemah ke Level Rp 17.650 Hari Ini

A
Penulis: Abdel Gamel Naser❯
Rupiah Tertekan Harga Minyak Dunia, Potensi Melemah ke Level Rp 17.650 Hari Ini
Rupiah Tertekan Harga Minyak Dunia, Potensi Melemah ke Level Rp 17.650 Hari Ini

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (14/9), setelah ditutup melemah 64 poin menjadi Rp 17.611 per dollar AS pada perdagangan Jumat (10/9).

Seperti dilansir dari Jawapos.com, salah satu penyebab utamanya adalah tekanan lonjakan harga minyak dunia imbas konflik Amerika Serikat dan Iran.  Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (14/9) mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp.17.610-Rp.17.650,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (14/9). Ibrahim mengatakan, lah satu sentimen eksternal yang perlu diwaspadai adalah kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menembus USD 100 per barel.

Advertisement

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi Indonesia yang masih berstatus sebagai importir neto minyak. Menurut dia, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban fiskal melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Harga minyak mentah yang berada di atas asumsi makro APBN atau Indonesian Crude Price (ICP) akan meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak (BBM), termasuk Pertalite dan Solar, serta LPG 3 kilogram.

Jika pemerintah memilih mempertahankan harga BBM di tingkat eceran untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang semakin besar. Kondisi itu berpotensi memperlebar defisit anggaran.

Advertisement

Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar dan membayar menggunakan USD. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam sehingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing.

“Ini dapat menekan nilai tukar Rupiah, yang pada gilirannya bisa memicu imported inflation (inflasi barang impor) untuk komoditas lainnya,” ujarnya. Ibrahim menilai pemerintah menghadapi dilema dalam menentukan kebijakan fiskal dan moneter.

Di satu sisi, mempertahankan subsidi BBM dapat meningkatkan tekanan terhadap APBN. Namun, di sisi lain, kenaikan harga BBM berpotensi mendorong inflasi, menekan daya beli masyarakat, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor, seperti batu bara dan kelapa sawit atau CPO. Kenaikan harga komoditas tersebut dapat menghasilkan windfall revenue bagi negara ketika terjadi krisis energi. (*)

Advertisement
Editor : Abdel Gamel Naser

Artikel Terkait

Dari Kecintaan pada Kopi hingga Membangun Usaha, Paulus Youw Pilih Jadi Barista 

Dari Kecintaan pada Kopi hingga Membangun Usaha, Paulus Youw Pilih Jadi Barista 

Berawal dari usaha sederhana berjualan kopi menggunakan sepeda motor saat masih kuliah, Paulus Youw kini memilih menekuni dunia barista dan

Dukung Produk Kopi Arabika, Bupati Dogiyai Borong Kopi dan Komitmen Dukung Petani Kuasai Pasar

Dukung Produk Kopi Arabika, Bupati Dogiyai Borong Kopi dan Komitmen Dukung Petani Kuasai Pasar

Bupati Dogiyai, Yudas Tebai, menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan Kopi Arabika Dogiyai dengan memborong produk kopi lokal saat men

Satuan Reserse Narkotika Polres Mimika Ungkap Empat Kasus Narkotika, Selamatkan 1.700 Jiwa

Satuan Reserse Narkotika Polres Mimika Ungkap Empat Kasus Narkotika, Selamatkan 1.700 Jiwa

Satuan Reserse Narkotika (Satresnarkoba) Polres Mimika membongkar empat kasus tindak pidana narkotika jenis sabu dan ganja dalam kurun waktu

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer