CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kabupaten Jayapura seolah tak pernah kehabisan pesona wisata alam. Setelah dikenal dengan deretan pantai dan keindahan Danau Sentani, kini muncul destinasi baru yang tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial, yakni Bukit Bongge di Kampung Skori, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura.
Hamparan savana yang luas, perbukitan hijau, dan panorama alam yang menawan membuat lokasi ini ramai dikunjungi masyarakat. Tak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk menikmati pemandangan dari ketinggian sekaligus mengabadikan momen melalui foto dan video.
Menariknya, sebagian pengunjung mengenal tempat tersebut sebagai Bukit Krisna. Namun bagi masyarakat setempat, nama yang digunakan sejak lama adalah Bukit Bongge.Warga Kampung Sekori, Kopda Abner Kedubrung, mengatakan popularitas Bukit Bongge mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah akses jalan menuju lokasi diperbaiki dan diaspal.
Menurut Abner, sebelum akses jalan diperbaiki, jalur menuju Bukit Bongge cukup sulit dilalui karena berbatu dan berlumpur saat musim hujan. Jalan tersebut sebelumnya lebih sering digunakan kendaraan pengangkut kayu dari kawasan sekitar. Selain menawarkan panorama alam yang memukau, Bukit Bongge juga menyimpan sejumlah cerita yang masih hidup di tengah masyarakat setempat.
Abner menuturkan, dulu ada kampung tua namun sekarang berubah menjadi hutan. Tak jauh dari kawasan bukit, terdapat pula cerita turun-temurun mengenai kemunculan bangkai kapal besar yang konon pernah muncul dari dalam tanah sebelum akhirnya menghilang kembali.
“Dulu ada kampung tua yang sekarang sudah menjadi hutan. Di dekat gunung juga pernah ditemukan bekas kapal besar yang muncul dari dalam tanah, tetapi kemudian menghilang,” tuturnya. Tak hanya itu, masyarakat adat setempat juga meyakini adanya sebuah telaga tersembunyi di dalam hutan yang dihuni berbagai jenis hewan laut.
Menurut kepercayaan masyarakat, lokasi tersebut hanya dapat diakses oleh suku asli karena diyakini masih dijaga oleh para leluhur. “Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Hanya masyarakat adat tertentu yang bisa mengaksesnya,” tutup Abner.(*)
Editor : Abdel Gamel Naser